Kita telah menanamnya ribuan kali. Dengan keyakinan yang kau sarungkan.
Yang kau taburi tiap benihnya dengan sangka dan keharusan yang juga kita siangi tiap pagi.
Tak kudapati curah keringat di keningmu atau keluh jemu yang jatuh.
Kau hanya berujar bahwa ada saat ketika musim menuai tak lagi jauh.
Mungkin sedepa. Atau hanya sehasta di belokan jalan itu. “Kau hanya perlu berdo’a,” seperti katamu.
Lalu aku diam menghitung kesempatan.
Mengintip tuah takdir dari saku Tuhan. Mungkin ada aku di situ.
Mungkin ada isyarat seperti yang kau dawamkan di pagi ketika matahari tak malu lagi untuk sembunyi. Atau ketika malam saat bulan berjaga meronta. “Kau hanya perlu tekun mengawasinya”, seperti katamu. Tapi mataku tak juga menangkap tanda. Pikirku gagal menghasrati deretan jejaknya.
Setiap isyarat yang nampak, tak selalu datang sebagai cahaya. Sebagai keyakinan yang meneguhkan. “Bersabarlah”, katamu teguh.
Mungkin kita telah menempuh perjalanan jauh.
Menuruni palung dan memanjat horison penuh warna.
Tapi rahasia tanda tak juga menujumkan semangat dan hentakan kaki untuk semakin berlari.
Pikirku, kita malah diam dengan degup pada stasi yang selalu berulang sama tiap detiknya.
Mungkin, kita hanya telah dalam tertanam dan tak bisa kemana-mana, sedang kesadaran mengembara ke tubir jurang meronta diselamatkan.
Tapi kau seolah tak cemas. Kau malah kirimkan bunga-bunga. Dan kau tebarkan tiap warnanya di setiap sudut gua tempat kita bertapa. “Waktunya pasti tak lama”, tuturmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar