TUHAN menyuruhku pergi. Memang tak bisa kutahan lagi
hidungku mencium bau amis darah dan busuknya kotoran manusia. Ya Tuhan, aku
memang tidak kuat!!! Aku memang harus pergi ke selatan! Aku berlari secepat
mungkin. Tiba saatnya ketika diperjalan kabut turun dan angin dingin menusuk
hingga sum-sum tulang. Tapi aku tak ingin berhenti. Aku harus pergi ke
Selatan!, terus ke Selatan!. Konon disana ada semilir angin lembut dan
gemuruhnya ombak samudra Hindia. Ya Tuhan, aku ingin cepat sampai disana.
Aku
terus menuju Selatan. Jalan dengan ribuan kelok di antara kebun-kebun pemilik
konglomerat begitu mengaduk perasaan. Aku berteriak mencoba melepaskan penatnya
jiwa. Tapi itu tak lama. Aku kembali meringis dan menangis ketika melewati
bukit-bukit. Ya Tuhan, pohon-pohon itu telah terganti dengan beton-beton yang
tidak kalah tingginya! Desiran angin dan kicau burung hutan kini berganti
dengan berisiknya mesin bor tanah yang sedang menusuk mecari dasar bumi dan
tiba-tiba truk reyot pengangkut kayu berjalan persis dihadapanku.
Segarnya udara pegunungan, yang biasanya membuat hidungku
mengeluarkan asap segar, kini telah menjadi asap hitam membuat hidung menjadi
tersumbat. Mataku nanar menatap bukit-bukit yang kini berwarna coklat. sungguh
tak sedap lagi dipandang. Angin tak lagi membawa uap air yang dingin. Angin itu
kini membawa debu tebal dari tanah gersang, dari hutan yang berubah menjadi
ladang.
Seorang
perempuan tua berkulit legam, bermata sayu, dan betis kaki yang agak besar
berjalan ke arahku. Di kepalanya ada wadah aluminium, di bahunya tergantung
gendongan dari kain. Begitu di hadapanku ia berkata,
"Tidak
usah kaget Nak. Bukit ini sudah lama tak seperti dulu. Dia telah gundul dan tak
indah lagi bagi orang yang memandangnya. Sementara kami, sekarang harus susah
payah untuk mencari air untuk kehidupan. Kau tahu Nak, semua ini ulah orang
serakah dan kami yakin mereka datang dari kota. Orang kota, seperti juga
dirimu!"
Ah
perempuan tua, tidak tahukah kau sebenarnya bahwa aku ini bosan dengan semua
tudingan, dengan rasa muak. Kupacu lagi semangat untuk terus berjalan ke
selatan. Aku melesat seakan hendak terbang. Tidak kuhiraukan suasana yang
Nampak di sekitarku. Aku tak lagi berteriak melepaskan resah. Sekarang aku
menangis dan terus menangis.
Tiba
saatnya aku berada daerah pesisir, melewati jembatan panjang di atas sungai
berbatu. Airnya hanya selebar selokan. Selebihnya hanya batu, pasir dan tempat
orang membuang hajat. Di tengah jembatan aku berhenti. Berdiri sambil
menyandarkan dada ke palang besi.
Panas mentari begitu menyengat, sementara di bawah
jembatan seorang bocah telanjang berlari-lari di antara air, batu dan tinja. Di
tangannya tergenggam kantung plastik berisi air dan ikan-ikan kecil carianya
selama seharian. Lalu bocah itu tersenyum lebar ketika ibunya memanggil,
"Kemari
nak, berikan kantung itu kepada emak."
Kulanjutkan
perjalanan. Kulewati sawah-sawah kering dengan dasar tanah yang retak-retak. Di
tengahnya segerombolan sapi kurus kering mengais tanah, berharap menemukan
sejumput rumput segar. Mereka berjalan sangat lambat, bergerak semakin menjauh
dari pandanganku hingga terhalang oleh fatamorgana.
Ah, desir angin laut yang sangat khas. Begitu kering dan
membuat wajah menjadi lengket. Aku semakin mendekati pantai, rumah-rumah
nelayan dan terjajar penginapan-penginapan para wiasatawan yang menikmati
keelokan pantai selatan.
Tuhan,
aku telah tiba di pasir-Mu nan putih itu! lalu aku duduk menatap laut. Tidak
terasa aku sudah tiba di Selatan! Di hadapanku ombak bergulung-gulung membawa
suara gemuruh. Lalu angin berbisik pelan-pelan kepadaku,
"Teruslah
ke Selatan."
Oh
Tuhan, sudah begitu lama aku tak menikmati suasana seperti ini. Melihat
pelabuhan tua peninggalan Belanda, yang dulunya pernah ramai saat kolonial
mengangkut kopi, teh dan sawit dari tanah Sunda. Bangunan itu masih terlihat
kokoh, walau sudah tak utuh lagi. Dinding menghitam dimakan usia.
By : Jal Al Wahid
Lanjut baca di Membakar Daratan Bersama Nelayan Tua Bag. 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar