Selasa, 20 November 2018

MEMBAKAR DARATAN BERSAMA NELAYAN TUA


TUHAN menyuruhku pergi. Memang tak bisa kutahan lagi hidungku mencium bau amis darah dan busuknya kotoran manusia. Ya Tuhan, aku memang tidak kuat!!! Aku memang harus pergi ke selatan! Aku berlari secepat mungkin. Tiba saatnya ketika diperjalan kabut turun dan angin dingin menusuk hingga sum-sum tulang. Tapi aku tak ingin berhenti. Aku harus pergi ke Selatan!, terus ke Selatan!. Konon disana ada semilir angin lembut dan gemuruhnya ombak samudra Hindia. Ya Tuhan, aku ingin cepat sampai disana.
Aku terus menuju Selatan. Jalan dengan ribuan kelok di antara kebun-kebun pemilik konglomerat begitu mengaduk perasaan. Aku berteriak mencoba melepaskan penatnya jiwa. Tapi itu tak lama. Aku kembali meringis dan menangis ketika melewati bukit-bukit. Ya Tuhan, pohon-pohon itu telah terganti dengan beton-beton yang tidak kalah tingginya! Desiran angin dan kicau burung hutan kini berganti dengan berisiknya mesin bor tanah yang sedang menusuk mecari dasar bumi dan tiba-tiba truk reyot pengangkut kayu berjalan persis dihadapanku.

Segarnya udara pegunungan, yang biasanya membuat hidungku mengeluarkan asap segar, kini telah menjadi asap hitam membuat hidung menjadi tersumbat. Mataku nanar menatap bukit-bukit yang kini berwarna coklat. sungguh tak sedap lagi dipandang. Angin tak lagi membawa uap air yang dingin. Angin itu kini membawa debu tebal dari tanah gersang, dari hutan yang berubah menjadi ladang.
Seorang perempuan tua berkulit legam, bermata sayu, dan betis kaki yang agak besar berjalan ke arahku. Di kepalanya ada wadah aluminium, di bahunya tergantung gendongan dari kain. Begitu di hadapanku ia berkata,
"Tidak usah kaget Nak. Bukit ini sudah lama tak seperti dulu. Dia telah gundul dan tak indah lagi bagi orang yang memandangnya. Sementara kami, sekarang harus susah payah untuk mencari air untuk kehidupan. Kau tahu Nak, semua ini ulah orang serakah dan kami yakin mereka datang dari kota. Orang kota, seperti juga dirimu!"
Ah perempuan tua, tidak tahukah kau sebenarnya bahwa aku ini bosan dengan semua tudingan, dengan rasa muak. Kupacu lagi semangat untuk terus berjalan ke selatan. Aku melesat seakan hendak terbang. Tidak kuhiraukan suasana yang Nampak di sekitarku. Aku tak lagi berteriak melepaskan resah. Sekarang aku menangis dan terus menangis.

Tiba saatnya aku berada daerah pesisir, melewati jembatan panjang di atas sungai berbatu. Airnya hanya selebar selokan. Selebihnya hanya batu, pasir dan tempat orang membuang hajat. Di tengah jembatan aku berhenti. Berdiri sambil menyandarkan dada ke palang besi.
Panas mentari begitu menyengat, sementara di bawah jembatan seorang bocah telanjang berlari-lari di antara air, batu dan tinja. Di tangannya tergenggam kantung plastik berisi air dan ikan-ikan kecil carianya selama seharian. Lalu bocah itu tersenyum lebar ketika ibunya memanggil,
"Kemari nak, berikan kantung itu kepada emak."
Kulanjutkan perjalanan. Kulewati sawah-sawah kering dengan dasar tanah yang retak-retak. Di tengahnya segerombolan sapi kurus kering mengais tanah, berharap menemukan sejumput rumput segar. Mereka berjalan sangat lambat, bergerak semakin menjauh dari pandanganku hingga terhalang oleh fatamorgana.
Ah, desir angin laut yang sangat khas. Begitu kering dan membuat wajah menjadi lengket. Aku semakin mendekati pantai, rumah-rumah nelayan dan terjajar penginapan-penginapan para wiasatawan yang menikmati keelokan pantai selatan.

Tuhan, aku telah tiba di pasir-Mu nan putih itu! lalu aku duduk menatap laut. Tidak terasa aku sudah tiba di Selatan! Di hadapanku ombak bergulung-gulung membawa suara gemuruh. Lalu angin berbisik pelan-pelan kepadaku,
"Teruslah ke Selatan."
Oh Tuhan, sudah begitu lama aku tak menikmati suasana seperti ini. Melihat pelabuhan tua peninggalan Belanda, yang dulunya pernah ramai saat kolonial mengangkut kopi, teh dan sawit dari tanah Sunda. Bangunan itu masih terlihat kokoh, walau sudah tak utuh lagi. Dinding menghitam dimakan usia.

By : Jal Al Wahid

Lanjut baca di Membakar Daratan Bersama Nelayan Tua Bag. 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...