Penulis
sempet mebayangkan ke masa dahulu dimana Gunung Galunggung Erupsi yang tercatat
dalam sejarah adalah berupa letusan-letusan eksplosif yang bersumber dari danau
kawah. Erupsi yang terjadi empat kali, yaitu pada 1822,
1894, 1918, dan 1982-1983.
Erupsi
1982-1983, terjadi dalam sembilan bulan, pada 5 April 1982-8 Januari 1983,
menghasilkan tinggi kolom asap berwarna hitam yang mencapai ketinggian lebih
dari 10 km dan menyebabkan pesawat terbang British Airways melakukan pendaratan
darurat di Jakarta karena salah satu dari empat mesin jetnya mati akibat
kemasukan abu vulkanik.
Salah
satu keajaiban Gunung Galunggung atau kami menyebutnya keresian galunggung, dimana
etrbentuknya danau berada di dalam kawah, yang lebih takjub lagi danau berair
dingin dan tidak tercium bau belerang dan hal ini berbeda dengan gunung-gunung
berapi yang lain. Apalagi kalau saat cuaca yang cerah, dapat menyaksikan
keajaiban alam lainnya berupa sungai-sungai yang turun dari anak bukit Gunung
Galunggung kita akan tertipu dengan pandangan sendiri karena terlihat seolah-olah
anak sungai itu turun dari langit.
Galunggung
memiliki diameter 1.000 meter dengan kedalaman 11 meter dan mempunyai volume
air lebih kurang 750 m3. Di dalam kawah ini terdapat kerucut sinder setinggi 30
meter dari dasar kawah dan kaki kerucut berukuran 250 x 165 meter yang
terbentuk selama periode erupsi 1982-1983.
Akan
tetapi semua ke takjuban dan kunikan galunggu semua itu tidak dapat kami
rasakan, kami tidak lama di puncak tersbut karena setalah melakukan ritual
pelarungan dan Setelah beristirahat kami melanjutkan perjalanan turun kembali.
Sesampai
di bawah kami langsung naik mobil untuk persiapan pulang ke kota kembang, malam
menjelang tidak banyak yang di lakukan di dalam mobil selain dalam perenungan
masing-masing, selain beristirahat dan bermunajat memuji kebesaran Allah yang
telah menciptakan ini semua, dan yang telah melibatkan kami dalam perjalanan
melestarikan alam.
Ada
cerita pengalaman spiritual penulis sedikit pada saat di puncak galunggung.
Penulisan merasa di bawa untuk mengunjungi musholla yang terdapat di daerah sana,
penulis merasa di ajak oleh saseorang ibu-ibu dengan mengginakan tusuk konde
berbentuk kujang. Penulis merasakan perubahan waktu dari malam menjadi fajar
kami melakukan sholat subuh yang di pimpin kakek-kake serba putih yang mengaku
Sayyid Umar bin Ismail bin Yahya yaitu salah satu guru besar kami di torekat
Asy Syahadatain, menikmati sunrise berbincang-bincang dengan ibu yang membawa,
dari sana kami jalan menyusuri sungai, dan bebatuan, dari dinding dinding bukit
terdapat berbagai mata air yang mengalir membasahi bukit, kami pun tida di
persimpangan jalur menuju salah satu balai. Sebelum menuju balai tempat
musyawarah ada gerbang yang sangat indah dan megah menurut informasi dari ibu
tersebut itu merupakan tempat penggemblengkan para putra mahkota yang akan
menggandikan kedudukan ayah-ayahnya menjadi raja.
Ibu
itu bercerita kalau di liat mata lahir itu sebuah mushollah yang di bangun sekitar 1997 masih menurut ibu
itu, Musholla di buat untuk para mushafir yang mampir mengunjungi Goa
Pertilasan.
Setelah
melihat balai-balai, kami pun melanjutkan perjalanan ke taman yang di kelilingi
air warna warni kalau di liat dari mata lahir taman yang airnya warna warni itu
sebuha Curug/Air terjun yang cukup besar di Galunggung itu sekelumit perjalan
spiritual di puncak yang penulisan alami. Setelah
bincang-bincang dan melakukan perjalanan bersama di akhir pertemuan ibu
tersebut membuka jati dirinya yaitu ibu tersebut bernama Nyai Mas Garsih atau
Ambu Hawuk.
Kembali
pada suasana mobil, dimana kami semua merenung dalam pikiran masing-masing
sambil menunggu perjalanan mobil yang membawa kami kembali ke kota kembang, ke
tempat dimana kami harus melakukan rutinitas dan aktivitas kembali untuk
melanjutkan kehidupan yang telah di tentukan jalannya oleh sang pencipta.
Sesampai di tempat tinggal, kami beristirahat sebentar
dan membuat laporan apa yang di alami oleh masing-masing dalam perjalanan
melarung paku bumi, kami pulang ke rumah atau kost an masing-masing. Ada juga
yang nginep di rumah sesepuh, sekian perjalanan dari larungan paku bumi
galunggung.