Selasa, 07 Juni 2016

SILOKA SEMAR BADRANAYA ( Silib Sindir Sindang Siloka)

SILIB SINDIR SINDANG SILOKA
Menurut pemikiran Drs. Ahmad Gibson Al-Bustomi, M.Ag salah satu dosen Aqidah Filsafat dan Perbandingan Agama di Universitas UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Falsafah semar hampir sama artinya dengan filsafat yang sering di kemukakan, oleh para ahli Filsafat seperti Aristoteles, Ibnu Sina, Ibnu Tufail, Kahlil Gibran dll. Akan tetapi ada makna yang lebih mendalam dari filosofi Semar disini, menurutnya falsafah semar sebagai gambaran atau siloka, jadi Falsafah semar di sini ialah Gambaran atau siloka dari bentuk atau tabiat tokoh Semar tersebut. Karena semar dari bentuk, rupa dan perkatanya semua merupakan gambaran yang perlu guareun[1].
Kalau diperhatikan,
betapa banyak filosofi atau falsafah dari tokoh Semar ini yang sangat mengagumkan. Dalam filosofi Sunda yang sering di ucapkan Dalang Wayang Golek yang Kondang Bapak H. Asep Sunandar Sunarya (Alm), Semar dijambarkan dengan Sem = Pengangken-ngaken Mar = Menyemarakan dzatnya Alam. Menyaksikan kehidupan baik dan buruknya segala peristiwa yang ada di dunia (Nyumput buni dinu caang negrag bari teu katembong) Secara filosofi jawa, Semar berarti haseming samar-samar. Sedangkan secara harfiah, Semar berarti sang penuntun makna kehidupan.
Secara fisik, Semar berkelamin laki-laki, tetapi memiliki payudara seperti perempuan, ini merupakan symbol dari pria dan wanita. Kalau berjalan selalu mendahulukan tangan kanan nunjuk ke atas, artinya bahwa kepribadian tokoh semar hendak mengatakan symbol Sang Maha Tunggal yaitu Allah SWT, itu hanya satu. Sedang tangan kirinya ke belakang, mengratikan berserah total dan mutlak serta sekaligus symbol keilmuan yang netral namun simpatik.
Semar berambut “kuncung” seperti anak-anak. Artinya hendak mengatakan bahwa kuncung sajating hurip, yaitu sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan melayani umat tanpa pamrih untuk melaksanakan ibadah amaliah yang sesuai dengan perintah Allah SWT. Ketika berjalan, Semar selalu menghadap keatas, artinyanya adalah dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang ke atas atau Tuhan Yang Maha Pengasih serta Penyayang umat.
Menurut Persektif jawa Semar juga selalu mengenakan kain jarik motif  Parangkusumorojo, yang merupakan perwujudan Dewonggowantah atau untuk menuntun manusia agar memayuhayuning bawono, yaitu menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri fisik Semar yang sangat unik lainnya adalah bentuk tubuhnya yang bulat. Ini merupakan simbol dari bumi atau jagad raya, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya. Semar juga tampak selalu tersenyum, tapi matanya sembab. Ini menggambarkan simbol suka dan duka. Wajahnya tampak tua, tapi rambutnya berkuncung seperti anak kecil. Ini merupakan simbol tua dan muda. Ia merupakan salah satu keluarga sawarga maniloka, tetapi hidup sebagai rakyat jelata. Ini merupakan simbol dari atasan dan bawahan.



[1] Kata-kata sunda untuk memecahkan solusi dari suatu masalah, guareun juga bisa disebut ungkapan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...