Sabtu, 25 April 2020

Covid-19 Menurut Kitab para Leluhur (CORONA)



Sesuatu disebut wabah karena ia memiliki dampak negatif secara luas. Cakupannya tidak hanya sebagian tapi menyeluruh. Ia menyerang secara global bukan hanya lokal. Menyebut sesuatu sebagai telah menjadi wabah karena efek negatifnya yang merusak segala tatanan kehidupan tanpa ampun.
Covid- 19 yang sekarang sedang menyerang adalah wabah. Karena hampir seluruh negara di dunia terkena dampaknya. Bahkan di belahan dunia yang lain seperti diberitakan, Copid-19 telah menjadi virus yang merenggut banyak nyawa manusia. Mereka yang kehilangan nyawa berasal dari strata sosial yang beda. Wabah copid-19 tidak menuntut belas kasihan. Siapapun bisa kena.
Seperti yang terbaca di berbagai media dan akibat mengerikan yang ditimbulkannya, Copid-19 sebagai wabah adalah sesuatu yang negatif. Disebut negatif, karena Copid-19 telah menjadi virus yang mendatangkan kengerian dan penderitaan. Bisakah kita melihat Covid-19 dari sudut yang berbeda? Misalnya, bagaimana kalau kita mengatakan bahwa disamping sebagai sesuatu yang negatif, Covid-19 juga memiliki sisi positif.
Covid-19 sekalipun disebut sebagai nama virus yang mematikan, dalam kerangka penciptaan ia adalah tetap makhluk Allah. Karena dia makhluk Allah dan jika ada teks suci yang menegaskan bahwa “tidak ada satupun yang sia-sia yag diciptakan Allah” (wama kholaqta hadza baathila) maka Covid-19 pasti memiliki fungsi positif dalam proses penciptaan alam. Misalnya, kita bisa mengatakan bahwa Covid-19 adalah suatu cara dari Allah azza wajalla untuk membersihkan alam.
Menurut kami, Ulin Karuhun, inilah kerja alam “mengoreksi” dan “memperbaharui” dirinya sendiri. Covid- 19 hadir seumpama hendak menata ulang bagian-bagian alam yang rusak oleh perilaku manusia untuk menjadikannya lebih baik di masa depan. Covid- 19 menjadi isyarat dan pelajaran berharga bagi seluruh umat manusia untuk memiliki kesadaran menjaga dan memelihara alam sebagai tempat tinggal.
Riwayat pembersihan dan penataan ulang alam semesta sebenarnya banyak ditemukan dalam kitab-kitab kuno para leluhur. Secara keseluruhan kitab-kitab itu memberikan informasi yang eksplisit tentang kerja alam yang bekerja membersihkan dirinya sendiri. Dalam kitab Siksa Kandang Karesian, Kitab sastra hendra hayuningrat pangruwating diyu dan satu lagi kitab Waruga Jagat serta yang paling terakhir dari tulisan Ratu Nyimas Patuakan “Patra Pusaka Jagat Nata”, disebutkan secara terang benderang tentang adanya wabah yang hebat sebagai proses pergantian alam atau siklus bumi alam semesta. Kitab-kitab itu juga menerangkan pertanda adanya pergantian alam atau pembersihan alam. Secara jelas kitab-kitab itu juga menyebutkan tentang sulitnya wabah itu diberantas karena tujuannya adalah membersihkan atau memulihkan alam yang sedang sakit.

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...