Sesuatu
disebut wabah karena ia memiliki dampak negatif secara luas. Cakupannya tidak
hanya sebagian tapi menyeluruh. Ia menyerang secara global bukan hanya lokal.
Menyebut sesuatu sebagai telah menjadi wabah karena efek negatifnya yang
merusak segala tatanan kehidupan tanpa ampun.
Covid-
19 yang sekarang sedang menyerang adalah wabah. Karena hampir seluruh negara di
dunia terkena dampaknya. Bahkan di belahan dunia yang lain seperti diberitakan,
Copid-19 telah menjadi virus yang merenggut banyak nyawa manusia. Mereka yang
kehilangan nyawa berasal dari strata sosial yang beda. Wabah copid-19 tidak
menuntut belas kasihan. Siapapun bisa kena.
Seperti
yang terbaca di berbagai media dan akibat mengerikan yang ditimbulkannya,
Copid-19 sebagai wabah adalah sesuatu yang negatif. Disebut negatif, karena
Copid-19 telah menjadi virus yang mendatangkan kengerian dan penderitaan.
Bisakah kita melihat Covid-19 dari sudut yang berbeda? Misalnya, bagaimana
kalau kita mengatakan bahwa disamping sebagai sesuatu yang negatif, Covid-19
juga memiliki sisi positif.
Covid-19
sekalipun disebut sebagai nama virus yang mematikan, dalam kerangka penciptaan
ia adalah tetap makhluk Allah. Karena dia makhluk Allah dan jika ada teks suci
yang menegaskan bahwa “tidak ada satupun yang sia-sia yag diciptakan Allah”
(wama kholaqta hadza baathila) maka Covid-19 pasti memiliki fungsi positif
dalam proses penciptaan alam. Misalnya, kita bisa mengatakan bahwa Covid-19
adalah suatu cara dari Allah azza wajalla untuk membersihkan alam.
Menurut
kami, Ulin Karuhun, inilah kerja alam “mengoreksi” dan “memperbaharui” dirinya
sendiri. Covid- 19 hadir seumpama hendak menata ulang bagian-bagian alam yang
rusak oleh perilaku manusia untuk menjadikannya lebih baik di masa depan.
Covid- 19 menjadi isyarat dan pelajaran berharga bagi seluruh umat manusia
untuk memiliki kesadaran menjaga dan memelihara alam sebagai tempat tinggal.
Riwayat
pembersihan dan penataan ulang alam semesta sebenarnya banyak ditemukan dalam
kitab-kitab kuno para leluhur. Secara keseluruhan kitab-kitab itu memberikan
informasi yang eksplisit tentang kerja alam yang bekerja membersihkan dirinya
sendiri. Dalam kitab Siksa Kandang Karesian, Kitab sastra hendra hayuningrat
pangruwating diyu dan satu lagi kitab Waruga Jagat serta yang paling terakhir
dari tulisan Ratu Nyimas Patuakan “Patra Pusaka Jagat Nata”, disebutkan secara
terang benderang tentang adanya wabah yang hebat sebagai proses pergantian alam
atau siklus bumi alam semesta. Kitab-kitab itu juga menerangkan pertanda adanya
pergantian alam atau pembersihan alam. Secara jelas kitab-kitab itu juga
menyebutkan tentang sulitnya wabah itu diberantas karena tujuannya adalah
membersihkan atau memulihkan alam yang sedang sakit.