Kamis, 17 November 2022

ENTAHLAH


 

Saya menulisnya dalam kondisi ketika keberanian tak bisa lagi disembunyikan. Masih bertutur tentang ingatan yang menggenang di lempeng kesadaran. Masih tersisa sebagai pesona yang mungkin menarik untuk dibaca renik.Terasa, masih ada yang berserakan sehingga layak dikabarkan, pantas dikatakan ulang. Tidak hendak mengganggu selera sehingga makan jadi tak punya rasa. Tidak juga hendak membuat ulah sehingga kopi jadi tak berasa di lidah.

Ini hanya gumam sesaat supaya kalimat jadi punya manfaat. Supaya jadi tuturan yang (mungkin) mencerahkan. Entahlah. Siapa yang memulai sapa kukira hanya persoalan dalam kata. Aku mengenalmu, lalu merindukanmu, dan sekarang kehilanganmu. Hanya itu yang aku tahu. Tapi tetap saja ia kembali menjadi persoalan semu dalam jelajah waktu. Tidak semua perihal tentu, adalah hal yang biasa.

Hidup bertahun rasanya cukup untuk mengajarkan bahwa rasa berawal dari peristiwa, ingatan bermula dari kejadian, dan apa yang pernah terbayangkan tidak selalu jujur dalam kenyataan. Kuharap ini menjadikan kejujuranku tidak keluar dari kebiasaan. Dan jika detik ini lembaranku menjumpaimu dengan paraghraf yang haru, itu lebih dikarenakan aku takut kembali kehilangan kamu. Ah, hanya itu. (mudah”an hanya malam ini bunda gak nyapa aku).

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...