Kamis, 06 Desember 2018

ENERGI TOTAL DAN TAHLIL

ENERGI TOTAL DAN TAHLIL
E Total = Ek + Ed
Inilah kuadran ke-4, kuadran puncak yang menggabungkan energy eksternal dan energy internal untuk transformasi diri. Tak ada perbedaan, semuanya sama yakni Allah saja. Saat kecepatan dari benda (V) digabungkan dengan kecepatan cahaya (c ) itu berarti penyatuan antara yang ragawi dan ruhani.
Kita tahu Ek adalah energy kinetic yang bekerja berdasarkan dorongan luar. Ibadah kita, seperti shalat, zakat, puasa haji, berdzikir, dan beramal kebaikan adalah hal-hal eksternal yang dapat menjadi pendorong untuk melakukan kebaikan lebih baik lagi. Ya, dalam spiritualitas, kecepatan eksternal bukan hanya dorongan dari luar diri, apa yang kita lakukan pun akan memperkuat daya laju kebaikan kita. Awalnya karena disuruh atau digerakkan oleh seruan, namun begitu kita melakukan satu kebaikan akan muncul reaksi eksternal yang menjadi pendorong kedua untuk melakukan kebaikan baru dan baru lagi.
Ek mengandalkan hal-hal badaniyah, seperti ibadah sebagaimana ditetapkan fiqh, sebagai penggerak transformasi spiritual kita. Semua yang diperintahkan Allah lakukanlah sebagaimana ditetapkan. Semuanya akan menghasilkan energy positif dalam kehidupan kita. Namun sayangnya ada yang menganggap cara ini sebagai satu-satunya cara sembari menafikan cara yang lain. Spiritualitas tak perlu, shalawat tidak boleh, ziarah diharamkan, dzikir berjemaah dianggap mengada-ada. Bagi mereka cukup ikuti fiqh saja, itulah Islam.

Padahal ada Ed atau energy dinamis atau energy diam dari massa kita. Tak ada dorongen eksternal pada Ed, yang ada hanya ledakan inti diri. Jiwa kita adalah energy terkuat yang kita miliki, aktifkanlah dengan mempercepat jiwa melalui kecepatan di atas cahaya. Jiwa kita akan semakin menjadi energy saat fitrah dan ruhani bangkit. Energi Ed ini sangat memukau terutama karena kita merasakan kekuatan diri yang luar biasa, biasa aktif sendiri dan terus-menerus menguat.
Begitu memukaunya Ed membuat banyak orang menafikan Ek. Ketentuan Fiqh pun ditinggalkan dan dianggap remeh. Argumen Ed adalah temukan Tuhan dalam Diri, atau dalam rumus Energinya Einstein adalah temukan energy dalam diri tanpa tergantung pada anergi luaran. Saat Tuhan dalam Diri ditemukan, ada muncul argument keliru “buat apa shalat menghadap kiblat jika Tuhan ada dalam diri”. Ini tentu saja keliru, karena istikbar. Kunci Ed adalah takbir, bukan istikbar.
Maka Energi Total adalah penggabungan antara Energi Kinetik dengan Energi Dinamis, antara syariat dan hakikat. Penggabungan mensyaratkan tak dibedakannya antara kedua energy ini, keduanya sama dibutuhkan tergantung situasi. Energi kinetic dalam fisika tetap berlaku bagi hal-hal yang makro, namun tak bisa berlaku bagi tingkat atom yang lembut, yang mikro. Sebagaimana juga energy dinamis bisa digunakan untuk tingkat atom, walaupun tak bisa diterapkan untuk memahami yang makro. Keduanya dibutuhkan, karena itu keduanya digabungkan.
Penggabungan keduanya akan menghasilkan rumusan transformasi: manusia itu dapat menjadi baik disebabkan oleh kekuatan eksternal di sekitarnya (Ek) juga oleh kekuatan dari dalam dirinya (Ed). Atas dasar Ek, lingkungan harus ditata, masyarakat harus diperbaiki, Negara harus dibuat menjadi lebih terhormat lagi. Atas nama Ed, diri masing-masing individu harus terus berproses menjadi lebih baik, lebih sempurna, dan lebih utama lagi.
Kunci dari Ed adalah Tahlil.
1. Tahlil
Tahlil berarti Lailahaillalah. Tahlil adalah isi utama dari syahadat pertama: Asyhadau Anlaa Illaaha Illallah. Tahlil adalah inti kalimat tauhid. Semua kalimat dalam spiritualitas Islam juga semua kegiatan fiqh merupakan turunan dari tahlil.
Tasybih adalah penyucian Allah dari hal yang kurang, ini sama dengan kegiatan La ilaaha demi menerima Allah yang sempurna.
Tahmid adalah memberikan pujian bagi Allah saja, karena orang yang sudah Lailaha Illalah pasti akan memuji Allah saja. Takbir adalah menyadari tidak ada yang lebih besar kecuali Allah, ini juga sama dengan La Ilaaha Illallah. Maka Tahlil adalah lambing dari gabungan, sintesa, dari semua tahapan spiritualitas tasybih, tahmid, dan takbir.
Sedemikian istimewanya tahlil sampai-sampai Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang berucap la ilaha illallah dengannya ia mengharap wajah Allah.” (HR. Muslim). Haram di sini, secara bebas, dapat dmaknai sebagai “tidak bisa” atau tidak akan berpengaruh, tidak akan terbakar, orang yang bertahlil oleh api neraka. Secara fisika, tahlil berarti merubah struktur atom menjadi tak bisa dikenai api. Ini terjadi juga di dunia, Nabi Ibrahim as salah satu contohnya, tahlilnya yang kuat membuat api tak berpenagruh kepadanya.
Maka begitu seseorang mengucapkan tahli, seraya memahami dan meyakininya, struktur atom tubuh dan jiwanya akan berubah menjadi energy yang bisa menaklukkan api neraka. Tahlil adalah dasar dari perintah kenabian dan kerasulan. Tak ada nabi dan rasul kecuali ia telah bertahlil dan kemudian mengajarkan tahlil. Di sini tahlil adalah tauhid. Ini dapat dinikmati pada firman Allah, “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan yang hak melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. al-Anbiya`: 25). Jadi tahlil adalah awal dan tujuan akhir dari kenabian, dari seluruh ajaran Islam. 
Ada hadits yang menegaskan bahwa Afdlalu Dzikri fa’lam annahu Lailahaillallah, sebaik-baiknya dzikir, sebaik-baiknya kesadaran, adalah memahami-mengetahui bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Pengetahuan lain tidak lebih baik, pemahaman lain tidak lebih bai, yang lebih baik adalah Lailahaillallah. Sebab Lailahaillallah adalah benih yang menumbuhkan yang lainnya, fondasi yang menjadi landasan bagi bangunan yang menjulang ke langit. Dalam konteks bahasan transformasi energy ini, Lailaha Illalah adalah gabungan yang mensintesa semua energy.
Kalimat ‘la ilaha illallah’ sedemikian istimewa sehingga disebut sebagai kebaikan yang paling utama. Abu Dzar berkata, “Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajarilah aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal.
”Lalu Abu Dzar berkata lagi, “Wahai Rasulullah, apakah ‘la ilaha illallah’ merupakan kebaikan?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalimat itu (la ilaha illallah, pen) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.” (Hadits Hasan).

Mari kita nikmati ungkapan Nabi Muhammad saw “Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan setelahnya”. Jika kejelakan atau dosa itu ilah, kebaikan adalah Allah. Ilah harus ditinggalkan dan dihapus dengan Allah. Inilah yang disadari Abu Zar karena itu ia menegaskan dengan pertanyaan tentang inti Lailahaillalah, seraya Nabi Muhammad saw menyatakan “Kalimat la ilaha illallah sebagai merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.” Ini berarti setelah melakukan satu kesalahan, taubat utama adalah mengucapkan Lailahaillalah.


Lanjut di judul ENERGI TOTAL DAN TAHLIL 2
By : Imam Besar Asy-Syahadatain (Sayyid Gamal Yahya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...