ENERGI TOTAL
DAN TAHLIL
E Total = Ek +
Ed
Inilah kuadran
ke-4, kuadran puncak yang menggabungkan energy eksternal dan energy internal
untuk transformasi diri. Tak ada perbedaan, semuanya sama yakni Allah saja.
Saat kecepatan dari benda (V) digabungkan dengan kecepatan cahaya (c ) itu
berarti penyatuan antara yang ragawi dan ruhani.
Kita tahu Ek
adalah energy kinetic yang bekerja berdasarkan dorongan luar. Ibadah kita,
seperti shalat, zakat, puasa haji, berdzikir, dan beramal kebaikan adalah
hal-hal eksternal yang dapat menjadi pendorong untuk melakukan kebaikan lebih
baik lagi. Ya, dalam spiritualitas, kecepatan eksternal bukan hanya dorongan
dari luar diri, apa yang kita lakukan pun akan memperkuat daya laju kebaikan
kita. Awalnya karena disuruh atau digerakkan oleh seruan, namun begitu kita
melakukan satu kebaikan akan muncul reaksi eksternal yang menjadi pendorong
kedua untuk melakukan kebaikan baru dan baru lagi.
Ek mengandalkan
hal-hal badaniyah, seperti ibadah sebagaimana ditetapkan fiqh, sebagai penggerak
transformasi spiritual kita. Semua yang diperintahkan Allah lakukanlah
sebagaimana ditetapkan. Semuanya akan menghasilkan energy positif dalam
kehidupan kita. Namun sayangnya ada yang menganggap cara ini sebagai
satu-satunya cara sembari menafikan cara yang lain. Spiritualitas tak perlu,
shalawat tidak boleh, ziarah diharamkan, dzikir berjemaah dianggap mengada-ada.
Bagi mereka cukup ikuti fiqh saja, itulah Islam.
Padahal ada Ed
atau energy dinamis atau energy diam dari massa kita. Tak ada dorongen
eksternal pada Ed, yang ada hanya ledakan inti diri. Jiwa kita adalah energy
terkuat yang kita miliki, aktifkanlah dengan mempercepat jiwa melalui kecepatan
di atas cahaya. Jiwa kita akan semakin menjadi energy saat fitrah dan ruhani
bangkit. Energi Ed ini sangat memukau terutama karena kita merasakan kekuatan
diri yang luar biasa, biasa aktif sendiri dan terus-menerus menguat.
Begitu
memukaunya Ed membuat banyak orang menafikan Ek. Ketentuan Fiqh pun
ditinggalkan dan dianggap remeh. Argumen Ed adalah temukan Tuhan dalam Diri,
atau dalam rumus Energinya Einstein adalah temukan energy dalam diri tanpa
tergantung pada anergi luaran. Saat Tuhan dalam Diri ditemukan, ada muncul
argument keliru “buat apa shalat menghadap kiblat jika Tuhan ada dalam diri”. Ini
tentu saja keliru, karena istikbar. Kunci Ed adalah takbir, bukan istikbar.
Maka Energi
Total adalah penggabungan antara Energi Kinetik dengan Energi Dinamis, antara
syariat dan hakikat. Penggabungan mensyaratkan tak dibedakannya antara kedua
energy ini, keduanya sama dibutuhkan tergantung situasi. Energi kinetic dalam
fisika tetap berlaku bagi hal-hal yang makro, namun tak bisa berlaku bagi
tingkat atom yang lembut, yang mikro. Sebagaimana juga energy dinamis bisa
digunakan untuk tingkat atom, walaupun tak bisa diterapkan untuk memahami yang
makro. Keduanya dibutuhkan, karena itu keduanya digabungkan.
Penggabungan
keduanya akan menghasilkan rumusan transformasi: manusia itu dapat menjadi baik
disebabkan oleh kekuatan eksternal di sekitarnya (Ek) juga oleh kekuatan dari
dalam dirinya (Ed). Atas dasar Ek, lingkungan harus ditata, masyarakat harus
diperbaiki, Negara harus dibuat menjadi lebih terhormat lagi. Atas nama Ed,
diri masing-masing individu harus terus berproses menjadi lebih baik, lebih
sempurna, dan lebih utama lagi.
Kunci dari Ed
adalah Tahlil.
1. Tahlil
Tahlil berarti
Lailahaillalah. Tahlil adalah isi utama dari syahadat pertama: Asyhadau Anlaa
Illaaha Illallah. Tahlil adalah inti kalimat tauhid. Semua kalimat dalam
spiritualitas Islam juga semua kegiatan fiqh merupakan turunan dari tahlil.
Tasybih adalah penyucian Allah dari hal yang kurang, ini sama dengan kegiatan La ilaaha demi menerima Allah yang sempurna.
Tasybih adalah penyucian Allah dari hal yang kurang, ini sama dengan kegiatan La ilaaha demi menerima Allah yang sempurna.
Tahmid adalah
memberikan pujian bagi Allah saja, karena orang yang sudah Lailaha Illalah pasti
akan memuji Allah saja. Takbir adalah menyadari tidak ada yang lebih besar
kecuali Allah, ini juga sama dengan La Ilaaha Illallah. Maka Tahlil adalah
lambing dari gabungan, sintesa, dari semua tahapan spiritualitas tasybih,
tahmid, dan takbir.
Sedemikian
istimewanya tahlil sampai-sampai Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah
mengharamkan neraka bagi orang yang berucap la ilaha illallah dengannya ia
mengharap wajah Allah.” (HR. Muslim). Haram di sini, secara bebas, dapat
dmaknai sebagai “tidak bisa” atau tidak akan berpengaruh, tidak akan terbakar,
orang yang bertahlil oleh api neraka. Secara fisika, tahlil berarti merubah
struktur atom menjadi tak bisa dikenai api. Ini terjadi juga di dunia, Nabi
Ibrahim as salah satu contohnya, tahlilnya yang kuat membuat api tak
berpenagruh kepadanya.
Maka begitu
seseorang mengucapkan tahli, seraya memahami dan meyakininya, struktur atom
tubuh dan jiwanya akan berubah menjadi energy yang bisa menaklukkan api neraka.
Tahlil adalah dasar dari perintah kenabian dan kerasulan. Tak ada nabi dan
rasul kecuali ia telah bertahlil dan kemudian mengajarkan tahlil. Di sini
tahlil adalah tauhid. Ini dapat dinikmati pada firman Allah, “Dan Kami tidak
mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya
tidak ada Tuhan yang hak melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan
Aku”. (QS. al-Anbiya`: 25). Jadi tahlil adalah awal dan tujuan akhir dari
kenabian, dari seluruh ajaran Islam.
Ada hadits yang
menegaskan bahwa Afdlalu Dzikri fa’lam annahu Lailahaillallah, sebaik-baiknya
dzikir, sebaik-baiknya kesadaran, adalah memahami-mengetahui bahwa tidak ada
tuhan selain Allah. Pengetahuan lain tidak lebih baik, pemahaman lain tidak
lebih bai, yang lebih baik adalah Lailahaillallah. Sebab Lailahaillallah adalah
benih yang menumbuhkan yang lainnya, fondasi yang menjadi landasan bagi
bangunan yang menjulang ke langit. Dalam konteks bahasan transformasi energy
ini, Lailaha Illalah adalah gabungan yang mensintesa semua energy.
Kalimat ‘la
ilaha illallah’ sedemikian istimewa sehingga disebut sebagai kebaikan yang
paling utama. Abu Dzar berkata, “Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajarilah
aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau melakukan
kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu
engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal.
”Lalu Abu Dzar
berkata lagi, “Wahai Rasulullah, apakah ‘la ilaha illallah’ merupakan
kebaikan?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalimat itu (la ilaha
illallah, pen) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat
menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.” (Hadits Hasan).
Mari kita
nikmati ungkapan Nabi Muhammad saw “Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa),
maka lakukanlah kebaikan setelahnya”. Jika kejelakan atau dosa itu ilah,
kebaikan adalah Allah. Ilah harus ditinggalkan dan dihapus dengan Allah. Inilah
yang disadari Abu Zar karena itu ia menegaskan dengan pertanyaan tentang inti Lailahaillalah,
seraya Nabi Muhammad saw menyatakan “Kalimat la ilaha illallah sebagai
merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai
dosa dan kesalahan.” Ini berarti setelah melakukan satu kesalahan, taubat utama
adalah mengucapkan Lailahaillalah.
Lanjut di judul ENERGI TOTAL DAN TAHLIL 2
By : Imam Besar Asy-Syahadatain (Sayyid Gamal Yahya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar