TAWASUL DAN
KOMITMEN SYAHADAT
Setiap orang
memiliki pandangan hidup, yakni cara melihat dan bertindak dalam dunia
(worldview). Cara pandang ini memuat jawaban pribadi atas pertanyaan-pertanyaan
seperti apa yang paling bernilai di dunia, apa yang harus dikejar, hidup yang
paling baik atau sukses itu seperti apa, dimana menemukan kebahagiaan, dan
sebagainya.
Jawabannya beragam, tergantung pada siapa yang menjawabnya. Seorang koruptor diam-diam mengakui bahwa hidupnya dibentuk dan didikte oleh usahanya mengejar uang. Seorang pembela hak asasi manusia sangat menghormati kemanusiaan, sehingga hidupnya diabadikan pada usaha mengangkat harkat kemanusiaan sesamanya. Pendek kata, pandangan hidup seseorang mengungkapkan persepsinya tentang dunia dengan cara tertentu sehingga kepercayaan dan praktek hidupnya menjadi utuh dan selaras.
Jawabannya beragam, tergantung pada siapa yang menjawabnya. Seorang koruptor diam-diam mengakui bahwa hidupnya dibentuk dan didikte oleh usahanya mengejar uang. Seorang pembela hak asasi manusia sangat menghormati kemanusiaan, sehingga hidupnya diabadikan pada usaha mengangkat harkat kemanusiaan sesamanya. Pendek kata, pandangan hidup seseorang mengungkapkan persepsinya tentang dunia dengan cara tertentu sehingga kepercayaan dan praktek hidupnya menjadi utuh dan selaras.
Syahadatain
menyediakan pandangan hidup bahwa Allahlah yang paling bernilai, harus dikejar,
dan sumber kebahagiaan utama. Kemudian syahadatain juga memberikan jaminan
bahwa ada orang yang bisa menjadikan Allah sebagai sumber nilai dan
kebahagiaan, yakni Muhammad saw. Karena itu dengan meneladani Muhammad saw,
semua orang memiliki potensi untuk menggapai kebahagiaan dalam Allah. Maka
perdekatlah cara bertauhid kita dengan cara Nabi Muhammad saw, niscaya h kita
akan mempertinggi energy potensial kita.
Rahasia Tawasul
dan Tunjina Ya, kita memiliki potensi menuju langit, namun masih
potensi. Potensi akan terarah pada langit jika kita memperdekat jarak beda
tauhid kita dengan Nabi Muhammad saw dan para auliya penggantinya. Inilah inti
dari tawassul yang kerap dilakukan di Asy-Syahadatain, yakni merelasikan diri
dengan para awliya, Nabi, dan Malaikat sehingga h kita menjadi semakin dekat
dengan Allah. Setelah semakindekat, energy potensial kita menjadi kuat. Cukup
sedikit saja didorong, para pelaku tawasul akan dapat menghasilkan energy yang
luar biasa.
Namun, seperti
pada syadahat kedua, Muhammad Rasulullahlah inti dari manusia-tauhid. Untuk
itulah menghadirkan Nabi Muhammad saw menjadi inti dari tawasul dan marhabaan.
Syaikhunal Mukaram Maulana Umar mengajari Shalawat Tunjina dengan redaksi
tunjuna bihi bukan tunjina biha. Redaksi ini meyakini bahwa melalui tawassul
Rasulullah Muhammad mengasihi kita dengan kehadirannya secara ruhani, sehingga
kita pun berdoa agar diselamatkan dari semua keadaan yang mendebarkan dan dari
semua cobaan, dikabulkan kepada kita segala keperluan, dibersihkan dari semua
keburukan/kesalahan, diangkat kepada setinggi-tinggi derajat, disampaikannya
kita kepada sesempurna-sempurnanya semua maksud dari semua kebaikan pada waktu
hidup dan setelah mati. Ini juga makna marhabaan, yakni memperdekat beda tauhid
kita dengan Rasulullah Muhammad saw.
Jadi inti dari
energy potensial adalah tawasul dan marhabaan. Pada sisi lain kegiatan
tawasul dan marhabaan menjadi dorongan eksternal yang mempercepat kita
mengalami transformasi spiritual. Ini berarti tawasul dan marhabaan menjadi
sumber pergerakan dari diam menjadi gerak, atau mendasari energy kinetic.
Tawassul adalah
cara untuk memperpendek jarak h antara kita dengan para Nabi dan Rasul. Begitu
beda tauhid kita dengan para Nabi, Rasul, para aulia semakin pendek, energy
potensial kita jadi semakin besar. Seperti bendungan yang memiliki air begitu
banyak, ia saling berdesakan ingin diaktifkan. Ada celah sedikit saja untuk
keluar, air dalam bendungan itu akan menerobos keluar dengan kekuatan yang
sangat besar. Celah kecil itu bisa jadi jebol menjadi lubang besar yang
mengalirkan terus air yang sudah lama ingin memancar.
Kunci energy
potensial berarti wa Asyhadu Anna Muhammadar rasulullah.
Begitu air itu meluncur ke bawah dengan sangat kuatnya, ia berubah dari potensial menjadi kinetik. Ia akan terus mengalir sampai tak memiliki daya lagi. Artinya suatu ketika akan berhenti saat kecepatan eksternal yang mendorongnya habis, atau tidak ada.
Begitu air itu meluncur ke bawah dengan sangat kuatnya, ia berubah dari potensial menjadi kinetik. Ia akan terus mengalir sampai tak memiliki daya lagi. Artinya suatu ketika akan berhenti saat kecepatan eksternal yang mendorongnya habis, atau tidak ada.
Karena itu,
tawasul harus dilakukan terus-menerus, shalat dilaksanakan lima waktu sehari,
puasa satu bulan penuh. Semuanya itu menjadi pendorong agar spiritualitas kita
terus mengalir deras. Sampai kemudian massa tindakan kita yang semula baik
buruk menjadi serba baik, barulah spiritualitas kita terus tumbuh dengan
sendirinya.
Inilah saat
energy dinamik. Apakah cukup berhenti di situ? Sayangnya tidak. Tujuan
islam bukan membuat seseorang menjadi sangat spiritualitas, tujuan Islam lebih
dari itu. Tujuan Islam bukan hanya membuat seseorang manusia menjadi baik,
sempurna, dan utama. Tujuan Islam mendorong manusia menjadi lebih baik, lebih
sempurna, dan lebih utama.
Karena itulah
energy dinamik saja tidak cukup, harus diteruskan dengan penggabungan anergi
kinetic dan energy dinamik. Itupun belum selesai, karena energi total itu harus
dinolkan bahkan kemudian dibuat tak terhingga.
Rahasia Syahadat
Bersyahadat tidak semudah mengucapkannya. Literatur tradisi Islam menyebutkan
tujuh syarat seseorang dapat disebut telah bersyahadat. (Syaikh Shalih
al-Fauzan Syarah al-Ushul ats-Tsalatsah, , hal. 134). Ketujuh syarat tersebut
terkumpul dalam dalam sebuah bait syair berikut ini:
عِلْمٌ يَقِيْنٌ وَإِخْلاَصٌ وَصِدْقُكَ مَعَ مَحَبَّةٍ وَانْقِيَادٍ
وَالْقَبُوْلِ لَهَا
Yaitu Ilmu,
yakin, ikhlas, jujur (tulus), cinta, tunduk, dan menerimanya Sebagian
ulama menambahkan satu syarat lagi sehingga jumlahnya menjadi delapan. Dalam
sebuah bait syair disebutkan:
وَزِيْدَ ثَامِنُهَا الْكُفْرَانُ مِنْكَ بِمَا سِوَى الإِلَهِ مِنَ
الأَنْدَادِ قَدْ أُلِهَا
Ditambah syarat
kedelapan yakni engkau kufur dengan tuhan-tuhan yang diagungkan selain Tuhan
yang Esa Pertama, Ilmu. Orang yang mengucapkan syahadarain harus
memiliki ilmu mengenai syahadatain sehingga dapat memahami maknanya. Lawannya
ilmu adalah al-jahlu (tidak tahu).
Orang yang
mengucapkan la ilaha illallah dengan lisannya namun ia tidak memahami makna dan
kensekuensinya maka kalimat itu tidak bermanfaat baginya. Dalam sebuah hadits
riwayat Muslim Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa
yang meninggal dunia dan dia mengetahui bahwa tiada tuhan yang haq kecuali
Allah niscaya ia masuk surga.“ (HR. Muslim). Buku ini menjadi salah satu sumber
ilmu agar kita bersyahadat.
Kedua: Yakin.
Maksudnya orang yang melafazhkan syahadat ia harus meyakini kebenaran ucapannya
itu. Sebagai lawannya adalah bimbang dan ragu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq kecuali Allah dan
bahwasanya diriku adalah rasul utusan Allah, tidaklah seorang hamba berjumpa
Allah dengan dua kalimat tersebut tanpa bimbang ragu melainkan ia akan masuk
surga. (HR. Muslim). Untuk bisa yakin kita akan melalui empat kuadran: tasybih,
tahmid, takbir, dan tahlil.
Bersambung di TAWASUL DAN KOMITMEN SYAHADAT 2
By : Sayyid Gamal Yahya Imam Asy-Syahadatain
Tidak ada komentar:
Posting Komentar