Kamis, 06 Desember 2018

TAWASUL DAN KOMITMEN SYAHADAT


TAWASUL DAN KOMITMEN SYAHADAT
Setiap orang memiliki pandangan hidup, yakni cara melihat dan bertindak dalam dunia (worldview). Cara pandang ini memuat jawaban pribadi atas pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang paling bernilai di dunia, apa yang harus dikejar, hidup yang paling baik atau sukses itu seperti apa, dimana menemukan kebahagiaan, dan sebagainya.
Jawabannya beragam, tergantung pada siapa yang menjawabnya. Seorang koruptor diam-diam mengakui bahwa hidupnya dibentuk dan didikte oleh usahanya mengejar uang. Seorang pembela hak asasi manusia sangat menghormati kemanusiaan, sehingga hidupnya diabadikan pada usaha mengangkat harkat kemanusiaan sesamanya. Pendek kata, pandangan hidup seseorang mengungkapkan persepsinya tentang dunia dengan cara tertentu sehingga kepercayaan dan praktek hidupnya menjadi utuh dan selaras.
Syahadatain menyediakan pandangan hidup bahwa Allahlah yang paling bernilai, harus dikejar, dan sumber kebahagiaan utama. Kemudian syahadatain juga memberikan jaminan bahwa ada orang yang bisa menjadikan Allah sebagai sumber nilai dan kebahagiaan, yakni Muhammad saw. Karena itu dengan meneladani Muhammad saw, semua orang memiliki potensi untuk menggapai kebahagiaan dalam Allah. Maka perdekatlah cara bertauhid kita dengan cara Nabi Muhammad saw, niscaya h kita akan mempertinggi energy potensial kita.

Rahasia Tawasul dan Tunjina Ya, kita memiliki potensi menuju langit, namun masih potensi. Potensi akan terarah pada langit jika kita memperdekat jarak beda tauhid kita dengan Nabi Muhammad saw dan para auliya penggantinya. Inilah inti dari tawassul yang kerap dilakukan di Asy-Syahadatain, yakni merelasikan diri dengan para awliya, Nabi, dan Malaikat sehingga h kita menjadi semakin dekat dengan Allah. Setelah semakindekat, energy potensial kita menjadi kuat. Cukup sedikit saja didorong, para pelaku tawasul akan dapat menghasilkan energy yang luar biasa.
Namun, seperti pada syadahat kedua, Muhammad Rasulullahlah inti dari manusia-tauhid. Untuk itulah menghadirkan Nabi Muhammad saw menjadi inti dari tawasul dan marhabaan. Syaikhunal Mukaram Maulana Umar mengajari Shalawat Tunjina dengan redaksi tunjuna bihi bukan tunjina biha. Redaksi ini meyakini bahwa melalui tawassul Rasulullah Muhammad mengasihi kita dengan kehadirannya secara ruhani, sehingga kita pun berdoa agar diselamatkan dari semua keadaan yang mendebarkan dan dari semua cobaan, dikabulkan kepada kita segala keperluan, dibersihkan dari semua keburukan/kesalahan, diangkat kepada setinggi-tinggi derajat, disampaikannya kita kepada sesempurna-sempurnanya semua maksud dari semua kebaikan pada waktu hidup dan setelah mati. Ini juga makna marhabaan, yakni memperdekat beda tauhid kita dengan Rasulullah Muhammad saw.
Jadi inti dari energy potensial adalah tawasul dan marhabaan. Pada sisi lain kegiatan tawasul dan marhabaan menjadi dorongan eksternal yang mempercepat kita mengalami transformasi spiritual. Ini berarti tawasul dan marhabaan menjadi sumber pergerakan dari diam menjadi gerak, atau mendasari energy kinetic.
Tawassul adalah cara untuk memperpendek jarak h antara kita dengan para Nabi dan Rasul. Begitu beda tauhid kita dengan para Nabi, Rasul, para aulia semakin pendek, energy potensial kita jadi semakin besar. Seperti bendungan yang memiliki air begitu banyak, ia saling berdesakan ingin diaktifkan. Ada celah sedikit saja untuk keluar, air dalam bendungan itu akan menerobos keluar dengan kekuatan yang sangat besar. Celah kecil itu bisa jadi jebol menjadi lubang besar yang mengalirkan terus air yang sudah lama ingin memancar.
Kunci energy potensial berarti wa Asyhadu Anna Muhammadar rasulullah.
Begitu air itu meluncur ke bawah dengan sangat kuatnya, ia berubah dari potensial menjadi kinetik. Ia akan terus mengalir sampai tak memiliki daya lagi. Artinya suatu ketika akan berhenti saat kecepatan eksternal yang mendorongnya habis, atau tidak ada.
Karena itu, tawasul harus dilakukan terus-menerus, shalat dilaksanakan lima waktu sehari, puasa satu bulan penuh. Semuanya itu menjadi pendorong agar spiritualitas kita terus mengalir deras. Sampai kemudian massa tindakan kita yang semula baik buruk menjadi serba baik, barulah spiritualitas kita terus tumbuh dengan sendirinya.
Inilah saat energy dinamik. Apakah cukup berhenti di situ? Sayangnya tidak. Tujuan islam bukan membuat seseorang menjadi sangat spiritualitas, tujuan Islam lebih dari itu. Tujuan Islam bukan hanya membuat seseorang manusia menjadi baik, sempurna, dan utama. Tujuan Islam mendorong manusia menjadi lebih baik, lebih sempurna, dan lebih utama.
Karena itulah energy dinamik saja tidak cukup, harus diteruskan dengan penggabungan anergi kinetic dan energy dinamik. Itupun belum selesai, karena energi total itu harus dinolkan bahkan kemudian dibuat tak terhingga.
Rahasia Syahadat Bersyahadat tidak semudah mengucapkannya. Literatur tradisi Islam menyebutkan tujuh syarat seseorang dapat disebut telah bersyahadat. (Syaikh Shalih al-Fauzan Syarah al-Ushul ats-Tsalatsah, , hal. 134). Ketujuh syarat tersebut terkumpul dalam dalam sebuah bait syair berikut ini:
عِلْمٌ يَقِيْنٌ وَإِخْلاَصٌ وَصِدْقُكَ مَعَ مَحَبَّةٍ وَانْقِيَادٍ وَالْقَبُوْلِ لَهَا
Yaitu Ilmu, yakin, ikhlas, jujur (tulus), cinta, tunduk, dan menerimanya Sebagian ulama menambahkan satu syarat lagi sehingga jumlahnya menjadi delapan. Dalam sebuah bait syair disebutkan:
وَزِيْدَ ثَامِنُهَا الْكُفْرَانُ مِنْكَ بِمَا سِوَى الإِلَهِ مِنَ الأَنْدَادِ قَدْ أُلِهَا
Ditambah syarat kedelapan yakni engkau kufur dengan tuhan-tuhan yang diagungkan selain Tuhan yang Esa Pertama, Ilmu. Orang yang mengucapkan syahadarain harus memiliki ilmu mengenai syahadatain sehingga dapat memahami maknanya. Lawannya ilmu adalah al-jahlu (tidak tahu).
Orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan lisannya namun ia tidak memahami makna dan kensekuensinya maka kalimat itu tidak bermanfaat baginya. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang meninggal dunia dan dia mengetahui bahwa tiada tuhan yang haq kecuali Allah niscaya ia masuk surga.“ (HR. Muslim). Buku ini menjadi salah satu sumber ilmu agar kita bersyahadat.
Kedua: Yakin. Maksudnya orang yang melafazhkan syahadat ia harus meyakini kebenaran ucapannya itu. Sebagai lawannya adalah bimbang dan ragu.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq kecuali Allah dan bahwasanya diriku adalah rasul utusan Allah, tidaklah seorang hamba berjumpa Allah dengan dua kalimat tersebut tanpa bimbang ragu melainkan ia akan masuk surga. (HR. Muslim). Untuk bisa yakin kita akan melalui empat kuadran: tasybih, tahmid, takbir, dan tahlil.




Bersambung di TAWASUL DAN KOMITMEN SYAHADAT 2

By : Sayyid Gamal Yahya Imam Asy-Syahadatain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...