Kata-kata tak bisa merangkum seluruh pengalaman manusia. Selalu ada yang gagal dilukiskan. Selalu ada yang luput untuk dikatakan. Kata-kata yang menampilkan dirinya dalam bahasa sering disebut hanya sampai di momen deskripsi representasi, begitu dikatakan orang macam Heidegger.
Seorang serdadu yang baru pulang dari
Dada yang berdegup kencang di tengah berondongan peluru senapan lawan. Atau, mampukah ia selamat dari kepungan musuh lalu pulang dan kembali berkumpul dengan keluarga, bahasa bisa tak sampai mengatakan segalanya secara persis. Inilah yang disebut Ryle dengan istilah "windy mysticism". Sebuah situasi yang melampaui taraf hidup dan pengalaman keseharian manusia.
