Kata-kata tak bisa merangkum seluruh pengalaman manusia. Selalu ada yang gagal dilukiskan. Selalu ada yang luput untuk dikatakan. Kata-kata yang menampilkan dirinya dalam bahasa sering disebut hanya sampai di momen deskripsi representasi, begitu dikatakan orang macam Heidegger.
Seorang serdadu yang baru pulang dari
Dada yang berdegup kencang di tengah berondongan peluru senapan lawan. Atau, mampukah ia selamat dari kepungan musuh lalu pulang dan kembali berkumpul dengan keluarga, bahasa bisa tak sampai mengatakan segalanya secara persis. Inilah yang disebut Ryle dengan istilah "windy mysticism". Sebuah situasi yang melampaui taraf hidup dan pengalaman keseharian manusia.
Kau dan aku akhirnya sampai di hitungan ini. Dalam ukuran usia manusia, ia memang masih muda. Masa ketika akal masih belum menjelma menjadi timbangan yang menentukan. Masa ketika keputusan sering dihasut oleh bujukan dan rayuan untuk tak setia dengan perjanjian yang pernah kita lisankan di awal perjalanan. Masa ketika hati masih mudah diinterupsi oleh bisikan untuk tak patuh pada kata-kata yang dinasihatkan para petuah agama.
Tapi adakah manusia yang sempurna selesai sekali dirumuskan? Muda, dewasa dan tua hanyalah sebutan saja, tetapi menjadi manusia senyatanya adalah proses yang tak pernah usai. Kata "menjadi" meniscayakan pasang dan surut, menebal dan menipis, bertambah dan berkurang. Bukankah iman juga begitu?
Di titik ini, kita hanya ingin mengingat-ngingat bagian dan momen bahagianya saja supaya perjalanan tak berhenti sampai di sini. Supaya kehidupan masih bisa kita jalani lebih panjang.
Betul, tak ada yang tahu dan bukan hak kuasa kita untuk memastikan sampai dimana kita berjalan. Di tikungan mana kita akan bertemu dengan kejutan. Bukankah ajal, rejeki dan jodoh ada dalam genggaman Tuhan?
Momen-momen bahagia yang kita ingat mudah-mudahan bisa memberikan permakluman bahwa kau dan aku bisa saja melakukan kekeliruan, kesalahan, khilaf dan salah. Dengan itu kita segera menginsyafi bahwa di dunia ini tak ada yang betul-betul sempurna, tanpa cacat, tak bernoda.
Momen-momen bahagia, sekalipun seluruhnya tak bisa kita lukiskan dalam kata-kata, mudah-mudahan memantaskan kita untuk menjadi penyaksi bagi kebahagiaan anak-anak yang di dalamnya mengalir darah yang berasal dari kita berdua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar