Ketika memori dipancing untuk keluar-menjalar-mengejar.
Masih bertutur tentang ingatan yang menggenang di lempeng kesadaran.
Masih tersisa sebagai pesona yang mungkin menarik untuk dibaca renik.
Terasa, masih ada yang berserakan sehingga layak dikabarkan, pantas dikatakan ulang. Tidak hendak mengganggu selera sehingga makan jadi tak punya rasa.
Tidak juga hendak membuat ulah sehingga kopi jadi tak berasa di lidah.
Ini hanya gumam sesaat supaya kalimat jadi punya manfaat.
Supaya jadi tuturan yang (mungkin) mencerahkan.
“Meski terkadang sifatmu sedikit menjengkelkan, tapi aku suka dengan caramu membuatku tertawa...
Meski terkadang kau membuatku curiga dan cemburu, tapi aku suka dengan caramu merayu hatiku...
Meski terkadang kau membuatku kecewa, tapi kau adalah suami yang mau menerima semua kekuranganku tanpa pamrih...
Meski terkadang kau bukanlah suami yang sempurna, tapi aku selalu bersyukur karena kau lah suamiku bukan yang lain...”
Entahlah aku harus membalas suratmu seperti apa.
Siapa yang memulai sapa kukira hanya persoalan dalam kata.
Wahai pemegang kunci surgaku...
.jpg)
