Sabtu, 04 Juni 2022

SURAT BALASAN DARI SUAMIMU

 


Istriku

Aku harus membalas suratmu istriku….

Ketika memori dipancing untuk keluar-menjalar-mengejar.

Masih bertutur tentang ingatan yang menggenang di lempeng kesadaran.

Masih tersisa sebagai pesona yang mungkin menarik untuk dibaca renik.

Terasa, masih ada yang berserakan sehingga layak dikabarkan, pantas dikatakan ulang. Tidak hendak mengganggu selera sehingga makan jadi tak punya rasa.

Tidak juga hendak membuat ulah sehingga kopi jadi tak berasa di lidah.

Ini hanya gumam sesaat supaya kalimat jadi punya manfaat.

Supaya jadi tuturan yang (mungkin) mencerahkan.

“Meski terkadang sifatmu sedikit menjengkelkan, tapi aku suka dengan caramu membuatku tertawa...

Meski terkadang kau membuatku curiga dan cemburu, tapi aku suka dengan caramu merayu hatiku...

Meski terkadang kau membuatku kecewa, tapi kau adalah suami yang mau menerima semua kekuranganku tanpa pamrih...

Meski terkadang kau bukanlah suami yang sempurna, tapi aku selalu bersyukur karena kau lah suamiku bukan yang lain...”

Entahlah aku harus membalas suratmu seperti apa.

Siapa yang memulai sapa kukira hanya persoalan dalam kata.

Wahai pemegang kunci surgaku...

Jangan pernah bosan untuk selalu mengingatkan dan menasehatiku..

Jangan pernah lelah untuk memberikan yang terbaik buatku...

Jangan pernah berhenti untuk menyayangi dan mencintaiku...

Karena didunia ini hanya kaulah tempatku untuk mendapatkan ridho Allah dan berbalas surga.. Aku mengenalmu, lalu merindukanmu, dan sekarang aku takut kehilanganmu.  Hanya itu yang aku tahu. Tapi tetap saja ia kembali menjadi persoalan semu dalam jelajah waktu.

Tidak semua perihal tentu, adalah hal yang biasa. Hidup bertahun rasanya cukup untuk mengajarkan bahwa rasa berawal dari peristiwa, ingatan bermula dari kejadian, dan apa yang pernah terbayangkan tidak selalu jujur dalam kenyataan.

Kuharap ini menjadikan kejujuranku tidak keluar dari kebiasaan.

Aku hanya hendak mengerti bagaimana kehadiran-mu bisa nampak dalam jejak terlacak. Aku harus membalas surat mu karena alasan kelemahan. Bukan karena aku menghindar pada akal yang gagal menalar. Yang Kau berkati semenjak dini. Aku hanya tak hendak pasrah pada iman yang dipancang di tiang kepura-puraan. Aku hanya tak hendak menyerah pada akidah yang dikunyah lidah setengah-setengah.

Aku juga berdoa semoga Allah selalu meridhoi kita dan memberikan yang terbaik untuk kehidupan dunia dan akhirat kita...

Salam sayang dan simpati untukmu....

Balasan dari suamimu yang selalu mengharapkan ridhomu...

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...