JATI DIRI dilihat
dari FILSAFAT FRIEDRICH NIETZSCHE
Didi
Andeska
Dina
saban-saban robah mangsa, ganti wanci, ilang bulan, kurunyung taun, sok
mindeng kabandungan manusa sanajan ngalamun salaput umur kahayang patemba-temba
karep heunteu reureuh-reureuh anging kadar pangeran nu bakal karandapan boh
hade sumawona alus.(Kutip dari kata-kata Alm. Dalang Wayang Golek Bpk. H. Asep Sundar Sunarya)
Kuring
jeung kurung, bakal di bulen saendeng-endeng ngagebleg deui jeung mantena eta
oge lamun urangna bisa ngajalankeun hirup jeung huripna. Mun ceuk hasan
mustofamah eta oge mun kacangking elmu insan kamil mu kamil, (sampurna dina
jero sampurna).
Salah satu ungkapan
Friedrich Nietzsche
“Kita
telah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan
di belakang kita!-dan lagi, kita juga sudah menghanguskan dataran di belakang
kita! Dan kini, hati-hatilah, kau kapal mungil! Samudera raya mengelilingimu.
Memang benar, dia tidak senantiasa mengaum, dan kadang-kadang dia tampak lembut
bagaikan sutera, emas, dan mimpi indah. Namun, akan tiba waktunya, bila kau
ingin tahu, bahwa dia itu tidak terbatas. Oh, burung yang malang yang merasa bebas dan kini menabrak
dinding-dinding sarangnya!Ya, bila kau merasa rindu akan daratanmu (Land-Heimweh) yang seolah menawarkan
kebebasan lebih banyak—dan tak ada daratan lagi.”(Copas dari tulisan pemandu
Sophia, Rosihon Fahmi)
Paragraf-Paragraf
di atas merupakan kalimat pembuka dari bahasan tentang “Jati diri dilihat dari pandangan
filsafat Friedrich Nietzsche tentang nihilisme”, jati diri selaku manusia
yang digelarkan di alam marcapada.
Kita
sudah sangat sering mendengarkan dari orang lain atau diri kita sendiri membicarakan
tentang jati diri, entah dalam setiap keseharian saat melakukan kesibukan ataupun dalam
beribadah keagamaan. Kita tidak akan terlepas dari jati diri walaupun ada kalanya
kita lupa terhadap jati diri karena kita sendiri yang sering melupakannya.
JATI DIRI Feat FILSAFAT FRIEDRICH NIETZSCH
JATI
DIRI
Menurut
Persfektif wiridan Purba Jati tentang
jati diri. Secara garis besar dalam diri manusia memiliki dua unsur entitas yang
sangat berbeda. Dalam pandangan ekstrim dikatakan dua unsur pembentuk manusia
saling bertentangan satu sama lainnya. Tetapi kedua unsur tidak dapat
dipisahkan, karena keduanya sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Terpisahnya
di antara kedua unsur pembentuk manusia akan merubah eksistensi ke-manusia-an
itu sendiri. Yakni di satu sisi terjadi kerusakan/pembusukan dan di sisi
lain keabadian. Umpama batu-baterai yang memiliki dua dimensi berbeda yakni
fisiknya dan energinya. Kedua dimensi itu menyatu menjadi eksistensi
batu-baterai berikut fungsinya. Dua unsur dalam manusia yakni; immaterial dan
material, metafisik dan fisik, roh dan jasad, rohani dan jasmani, unsur Tuhan
dan unsur bumi (unsur gaib dan unsur wadag).
Jadi
dapat ditarik kesimpulan dari persfektif wiridan purba jati. Dalam tubuh manusia terdiri atas dua unsur besar yakni
unsur bumi dan unsur Tuhan. Di antara kedua unsur tersebut terdapat
“bahan penyambung”, dalam literatur barat disebut soul atau jiwa (yang
ini terasa kurang pas), Islam; nafs, Yunani; anemos, dan dalam
bahasa Indonesia; hawa, Jawa; nyawa (badan alus). Hawa,
jiwa, anemos, soul, atau nyawa merupakan satu entitas yang
kira-kira tidak berbeda maknanya, berfungsi sebagai media persentuhan
atau “lem perekat” antara roh (spirit) dengan jasad (body/corpus).
Hawa, nafs, anemos, soul, jiwa, nyawa bermakna
sesuatu yang hidup (bernafas) yang ditiupkan ke dalam corpus
(wadah atau bungkus).
FILSAFAT
FRIEDRICH NIETZSCH
Filsafat Nietzsche adalah filsafat cara memandang
'kebenaran' atau dikenal dengan istilah filsafat
perspektivisme. Nietzsche
juga dikenal sebagai "sang pembunuh Tuhan" (dalam Also sprach Zarathustra). Ia memprovokasi
dan mengkritik kebudayaan Barat di zaman-nya dengan melihat dari nilai dan
tradisi/Umwertung aller Werten, yang sedikit banyak dipengaruhi oleh
pemikiran Plato
dan tradisi
kekristenan
(keduanya mengacu kepada paradigma kehidupan setelah kematian, sehingga
menurutnya anti dan pesimis terhadap
kehidupan).
Walaupun demikian dengan kematian Tuhan berikut paradigma
kehidupan setelah kematian tersebut, filosofi Nietzsche tidak menjadi sebuah
filosofi nihilisme.
Justru sebaliknya yaitu sebuah filosofi untuk menaklukan nihilisme1
(Überwindung der Nihilismus) dengan mencintai utuh kehidupan (Lebensbejahung),
dan memposisikan manusia sebagai manusia purna Übermensch
dengan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht).
Selain itu Nietzsche dikenal sebagai filsuf
seniman (Künstlerphilosoph) dan banyak mengilhami pelukis modern Eropa di awal
abad ke-20, seperti Franz Marc, Francis Bacon,dan
Giorgio de Chirico, juga
para penulis seperti Robert Musil, dan Thomas Mann.
Menurut Nietzsche kegiatan seni adalah kegiatan metafisik
yang memiliki kemampuan untuk me-transformasi-kan tragedi hidup.
JATIDIRI
ALA FRIEDRICH
NIETZSCH
Dalam
filsafatnya Friedrich Nietzsch mengungkap atau menjelaskan tentang konsep dari
kebenaran, karena dalam aforismenya Nietzsch banyak menulis tentang hakekat
dari kebenaran. Entah kebenaran yang berbasickan sosial, budaya, agama, mitos
seperti yang pernah di kemukan oleh pemandu Bpk pemandu Rosihon Fahmi di depan
kelas Sophia pada pertemuan paling awal.
Jadi
kalau dibuat kesimpulan dari bahasan tentang jati diri, mungkin bisa
ditafsirkan kurang lebih seperti ini :
Hakekat
kebenaran tentang jati diri manusia sebagai manusia insan kamil mu kamil
menurut HHM, dilihat dari segi filsafat Nietzsch diatas kalau dibuat petak
menjadi :
PERBANDINGAN
|
FILSAFAT
SUNDA
|
FILSAFAT FRIEDRICH NIETZSCH
|
|
|
1.
|
Dina
saban-saban robah mangsa, ganti wanci, ilang bulan, kurunyung taun
|
Kita
telah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal!
|
|
2.
|
Jati
Diri (Kuring jeung kurung)
|
kau kapal mungil
|
|
3.
|
bakal
di bulen saendeng-endeng ngagebleg deui jeung mantena eta oge lamun urangna
bisa ngajalankeun hirup jeung huripna
|
Samudera
raya mengelilingimu. Memang benar, dia tidak senantiasa mengaum, dan kadang-kadang
dia tampak lembut bagaikan sutera, emas, dan mimpi indah
|
|
4.
|
insan
kamil mu kamil, (sampurna dina jero sampurna)
|
Ya,
bila kau merasa rindu akan daratanmu (Land-Heimweh)
yang seolah menawarkan kebebasan lebih banyak—dan tak ada daratan
lagi.
|
Dari
perbandingan diatas bisa dibahas satu persatu:
Point pertama,
disana ada kata Dina saban-saban robah mangsa, ganti wanci, ilang
bulan, kurunyung taun dan Kita telah meninggalkan daratan dan sudah
menuju kapal!, itu semua
menunjukan waktu dalam filsafat sunda disini menunujukan waktu yang sering
berubah-ubah dari detik ke detik menuju perubahan yang sudah menjadi paradigma
yang tidak mungkin dirubah dari masa kanak-kanak, masa dewasa, dan masa tua,
waktu kamari (masa lalu), waktu kiwari (masa yang lagi dijalankan), waktu bihari
(Masa Yang akan datang) yang pastinya untuk merubah dari masa buruk menuju masa
terang semuanya berhubungan dengan jati diri. Sedangkan filsafat Nietzsch
menunjukan waktu yang telah dilewati untuk merubah ke masa yang sekarang dan
masa yang akan datang dengan menggunakan kata nekad.
Poin kedua,,
membahas tentang jati diri. Jati diri yang ter ombang-ombing oleh masa atau
waktu lalu, sekarang dan yang akan datang. Itu semua dikarena ke “aku”an yang
telah berepolusi menjadi “aku”, makanya aku disana sangat padat dengan
“keinginan” menurut Bapak A. Gibson Al Bustomi pemandu kuliah di Sophia pada
tatap muka kuliah filsafat relasi tuhan dan manusia yang berjudul bakar rumah
kita. Jangan berkata atau bertanya tentang tuhan kalau jati diri sendiri saja
belum ketemu.
Point ketiga,
disana membahasa tentang menjalani kehidupan yang semuanya akan berakhir dan
kembali pada-Nya, karena kehidpuan itu hanya sementara sebagai transit untuk
melanjutkan kehidupan menuju keridho’annya. berakhir pencarian jati diri
sampai pada relasi manusia yang menjadi khalifah dan yang diciptakan dengan Tuhan-Nya sebagai Kholik.
(Kholik dengan mahluk).
Point
keempat, dibahas tentang manusia yang sejati yang berjalan sebagai rel
manusianya yang tujuannya untuk ibadah kepada tuhannya seperti yang dijelaskan
dalam salah satu ayat al-Qur’an, yang diartikan tidak kuciptakan jin dan manusia
kecuali untuk beribadah kepada-Ku (QS. adz-Dzariyat: 56).
Ulah
waka suka seuri mun can panggih jati diri, teangan moal jauh tina wujud moal
anggang tina awak ciri satangtung diri.
Mun hayang apal kadiri-Na,
apalkeun heula dadamelanna.
Panustungan
Relasi tuhan dengan manusia, atau sebaliknya manusia
dengan tuhan pada akhirnya susah untuk membedakan mana tuhan dan mana manusia,
sangat tipis sekali perbedaannya, yang sanggup membedakannya hanya dari segi
bentuk atau pisiklinya saja yang memisahkannya pencipta dan yang dicipta.
Manusia yang seperti itu manusia yang sudah mengenal
dirinya dalam kata bahasa sunda manusa dimana geus nyaho kana dirina, tangtu
apal ka gusti-Na, dimana manusa geus apal kagustina bakal boga rasa bodo dirina,
bodo dina harti teu umaku, kulantaran lamun di udakeun kana kanyataan diri
sasampiran, awak sasampayan umur ukur gagaduhan. (insan kamil mu kamil) HHM.
Daftar
Referensi
- Kajian Filsafat di Pasamoan Sophia
- Konsep tentang jati diri menurut wiridan Purba Jati
- Salah satu dangding Haji Hasan mustofa (HHM)
- Makalah Drs. Ahmad Gibson Al-Bustomi, M.Ag
yang berjudul “Membakar
rumah”
- Tulisan pemandu Sophia, Rosihon Fahmi, M.Hum yang
berjudul ”FILSAFAT
PEMBERONTAKAN FRIEDRICH NIETZSCH”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar