Selasa, 24 Mei 2016

JATI DIRI DAN FRIEDRICH NIETZSCH

JATI DIRI dilihat dari FILSAFAT FRIEDRICH NIETZSCHE
Didi Andeska


Dina saban-saban robah mangsa, ganti wanci, ilang bulan, kurunyung taun, sok mindeng kabandungan manusa sanajan ngalamun salaput umur kahayang patemba-temba karep heunteu reureuh-reureuh anging kadar pangeran nu bakal karandapan boh hade sumawona alus.(Kutip dari kata-kata Alm. Dalang Wayang Golek Bpk. H. Asep Sundar Sunarya)
Kuring jeung kurung, bakal di bulen saendeng-endeng ngagebleg deui jeung mantena eta oge lamun urangna bisa ngajalankeun hirup jeung huripna. Mun ceuk hasan mustofamah eta oge mun kacangking elmu insan kamil mu kamil, (sampurna dina jero sampurna).

Salah satu ungkapan  Friedrich Nietzsche
“Kita telah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang kita!-dan lagi, kita juga sudah menghanguskan dataran di belakang kita! Dan kini, hati-hatilah, kau kapal mungil! Samudera raya mengelilingimu. Memang benar, dia tidak senantiasa mengaum, dan kadang-kadang dia tampak lembut bagaikan sutera, emas, dan mimpi indah. Namun, akan tiba waktunya, bila kau ingin tahu, bahwa dia itu tidak terbatas. Oh, burung yang malang yang merasa bebas dan kini menabrak dinding-dinding sarangnya!Ya, bila kau merasa rindu akan daratanmu (Land-Heimweh) yang seolah menawarkan kebebasan lebih banyak—dan tak ada daratan lagi.”(Copas dari tulisan pemandu Sophia, Rosihon Fahmi)
Paragraf-Paragraf di atas merupakan kalimat pembuka dari bahasan tentang “Jati diri dilihat  dari pandangan filsafat Friedrich Nietzsche tentang nihilisme”, jati diri selaku manusia yang digelarkan di alam marcapada.
Kita sudah sangat sering mendengarkan dari orang lain atau diri kita sendiri membicarakan tentang jati diri, entah dalam setiap keseharian saat melakukan kesibukan ataupun dalam beribadah keagamaan. Kita tidak akan terlepas dari jati diri walaupun ada kalanya kita lupa terhadap jati diri karena kita sendiri yang sering melupakannya.

JATI DIRI Feat FILSAFAT FRIEDRICH NIETZSCH
JATI DIRI
Menurut Persfektif wiridan Purba Jati tentang jati diri. Secara garis besar dalam diri manusia memiliki dua unsur entitas yang sangat berbeda. Dalam pandangan ekstrim dikatakan dua unsur pembentuk manusia saling bertentangan satu sama lainnya. Tetapi kedua unsur tidak dapat dipisahkan, karena keduanya sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Terpisahnya di antara kedua unsur pembentuk manusia akan merubah eksistensi ke-manusia-an itu sendiri. Yakni di satu sisi terjadi  kerusakan/pembusukan dan di sisi lain keabadian. Umpama batu-baterai yang memiliki dua dimensi berbeda yakni fisiknya dan energinya. Kedua dimensi itu menyatu menjadi eksistensi batu-baterai berikut fungsinya. Dua unsur dalam manusia yakni; immaterial dan material, metafisik dan fisik, roh dan jasad, rohani dan jasmani, unsur Tuhan dan unsur bumi (unsur gaib dan unsur wadag).
Jadi dapat ditarik kesimpulan dari persfektif wiridan purba jati. Dalam tubuh manusia terdiri atas dua unsur besar yakni unsur bumi dan unsur Tuhan. Di antara kedua unsur tersebut  terdapat “bahan penyambung”, dalam literatur barat disebut soul atau jiwa (yang ini terasa kurang pas), Islam; nafs, Yunani; anemos, dan dalam bahasa Indonesia; hawa, Jawa; nyawa (badan alus). Hawa, jiwa, anemos, soul, atau nyawa merupakan satu entitas yang kira-kira tidak berbeda maknanya, berfungsi sebagai  media persentuhan atau “lem perekat” antara roh (spirit) dengan jasad (body/corpus). Hawa, nafs, anemos, soul, jiwa, nyawa bermakna sesuatu yang hidup (bernafas) yang ditiupkan ke dalam corpus (wadah atau bungkus).

FILSAFAT FRIEDRICH NIETZSCH
Filsafat Nietzsche adalah filsafat cara memandang 'kebenaran' atau dikenal dengan istilah filsafat perspektivisme. Nietzsche juga dikenal sebagai "sang pembunuh Tuhan" (dalam Also sprach Zarathustra). Ia memprovokasi dan mengkritik kebudayaan Barat di zaman-nya dengan melihat dari nilai dan tradisi/Umwertung aller Werten, yang sedikit banyak dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan tradisi kekristenan (keduanya mengacu kepada paradigma kehidupan setelah kematian, sehingga menurutnya anti dan pesimis terhadap kehidupan).
Walaupun demikian dengan kematian Tuhan berikut paradigma kehidupan setelah kematian tersebut, filosofi Nietzsche tidak menjadi sebuah filosofi nihilisme. Justru sebaliknya yaitu sebuah filosofi untuk menaklukan nihilisme1 (Überwindung der Nihilismus) dengan mencintai utuh kehidupan (Lebensbejahung), dan memposisikan manusia sebagai manusia purna Übermensch dengan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht).
Selain itu Nietzsche dikenal sebagai filsuf seniman (Künstlerphilosoph) dan banyak mengilhami pelukis modern Eropa di awal abad ke-20, seperti Franz Marc, Francis Bacon,dan Giorgio de Chirico, juga para penulis seperti Robert Musil, dan Thomas Mann. Menurut Nietzsche kegiatan seni adalah kegiatan metafisik yang memiliki kemampuan untuk me-transformasi-kan tragedi hidup.

JATIDIRI ALA FRIEDRICH NIETZSCH
Dalam filsafatnya Friedrich Nietzsch mengungkap atau menjelaskan tentang konsep dari kebenaran, karena dalam aforismenya Nietzsch banyak menulis tentang hakekat dari kebenaran. Entah kebenaran yang berbasickan sosial, budaya, agama, mitos seperti yang pernah di kemukan oleh pemandu Bpk pemandu Rosihon Fahmi di depan kelas Sophia pada pertemuan paling awal.
Jadi kalau dibuat kesimpulan dari bahasan tentang jati diri, mungkin bisa ditafsirkan kurang lebih seperti ini :
Hakekat kebenaran tentang jati diri manusia sebagai manusia insan kamil mu kamil menurut HHM, dilihat dari segi filsafat Nietzsch diatas kalau dibuat petak menjadi :

PERBANDINGAN
FILSAFAT SUNDA
FILSAFAT FRIEDRICH NIETZSCH
1.
Dina saban-saban robah mangsa, ganti wanci, ilang bulan,  kurunyung taun
Kita telah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal!
2.
Jati Diri (Kuring jeung kurung)
kau kapal mungil
3.
bakal di bulen saendeng-endeng ngagebleg deui jeung mantena eta oge lamun urangna bisa ngajalankeun hirup jeung huripna
Samudera raya mengelilingimu. Memang benar, dia tidak senantiasa mengaum, dan kadang-kadang dia tampak lembut bagaikan sutera, emas, dan mimpi indah
4.
insan kamil mu kamil, (sampurna dina jero sampurna)
Ya, bila kau merasa rindu akan daratanmu (Land-Heimweh) yang seolah menawarkan kebebasan lebih banyak—dan tak ada daratan lagi.

Dari perbandingan diatas bisa dibahas satu persatu:
Point pertama, disana ada kata Dina saban-saban robah mangsa, ganti wanci, ilang bulan,  kurunyung taun dan Kita telah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal!, itu semua menunjukan waktu dalam filsafat sunda disini menunujukan waktu yang sering berubah-ubah dari detik ke detik menuju perubahan yang sudah menjadi paradigma yang tidak mungkin dirubah dari masa kanak-kanak, masa dewasa, dan masa tua, waktu kamari (masa lalu), waktu kiwari (masa yang lagi dijalankan), waktu bihari (Masa Yang akan datang) yang pastinya untuk merubah dari masa buruk menuju masa terang semuanya berhubungan dengan jati diri. Sedangkan filsafat Nietzsch menunjukan waktu yang telah dilewati untuk merubah ke masa yang sekarang dan masa yang akan datang dengan menggunakan kata nekad.
Poin kedua,, membahas tentang jati diri. Jati diri yang ter ombang-ombing oleh masa atau waktu lalu, sekarang dan yang akan datang. Itu semua dikarena ke “aku”an yang telah berepolusi menjadi “aku”, makanya aku disana sangat padat dengan “keinginan” menurut Bapak A. Gibson Al Bustomi pemandu kuliah di Sophia pada tatap muka kuliah filsafat relasi tuhan dan manusia yang berjudul bakar rumah kita. Jangan berkata atau bertanya tentang tuhan kalau jati diri sendiri saja belum ketemu.
Point ketiga, disana membahasa tentang menjalani kehidupan yang semuanya akan berakhir dan kembali pada-Nya, karena kehidpuan itu hanya sementara sebagai transit untuk melanjutkan kehidupan menuju keridho’annya. berakhir pencarian jati diri sampai pada relasi manusia yang menjadi khalifah dan yang diciptakan dengan Tuhan-Nya sebagai Kholik. (Kholik dengan mahluk).
Point keempat, dibahas tentang manusia yang sejati yang berjalan sebagai rel manusianya yang tujuannya untuk ibadah kepada tuhannya seperti yang dijelaskan dalam salah satu ayat al-Qur’an, yang diartikan tidak kuciptakan jin  dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (QS. adz-Dzariyat: 56).
 Ulah waka suka seuri mun can panggih jati diri, teangan moal jauh tina wujud moal anggang tina awak ciri satangtung diri.
Mun hayang apal kadiri-Na, apalkeun heula dadamelanna.

Panustungan
Relasi tuhan dengan manusia, atau sebaliknya manusia dengan tuhan pada akhirnya susah untuk membedakan mana tuhan dan mana manusia, sangat tipis sekali perbedaannya, yang sanggup membedakannya hanya dari segi bentuk atau pisiklinya saja yang memisahkannya pencipta dan yang dicipta.
Manusia yang seperti itu manusia yang sudah mengenal dirinya dalam kata bahasa sunda manusa dimana geus nyaho kana dirina, tangtu apal ka gusti-Na, dimana manusa geus apal kagustina bakal boga rasa bodo dirina, bodo dina harti teu umaku, kulantaran lamun di udakeun kana kanyataan diri sasampiran, awak sasampayan umur ukur gagaduhan. (insan kamil mu kamil) HHM.

Daftar Referensi
  1. Kajian Filsafat di Pasamoan Sophia
  2. Konsep tentang jati diri menurut wiridan Purba Jati
  3. Salah satu dangding Haji Hasan mustofa (HHM)
  4. Makalah Drs. Ahmad Gibson Al-Bustomi, M.Ag
yang berjudul “Membakar rumah”
  1. Tulisan pemandu Sophia, Rosihon Fahmi, M.Hum yang berjudul ”FILSAFAT PEMBERONTAKAN FRIEDRICH NIETZSCH”
  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...