BUBUARA ”KUMELEDANG”
Timimiti gubrak
kadunya kumelendang
Mikiran lampah nu
bakal kasorang datang
Jiga nu ngagupayan
ngulang-ngulang
Sangkan raga urang
jadi patandang
Diri nu jadi ciri,
hirup nu ngagalandang
Sangkan bisa
mulang mawa menang
Jangkar sangka nu
jadi pamuntangan
Da sok inggis ku
rempan jeung melang
Tapi hate tetep
kanu pasti sarta hiji
Nu jadi
pamuntangan siang jeung wengi
Sangkan hirup bisa
jadi pasini diri nu pasti
Ku lantarana hirup
can pasti jiga kamari.
Puisi sunda diatas merupakan hasil
perenungan untuk mengembalikan pola pikir kita selaku manusia yang di darmakan
oleh sang pencipta di alam marcapada ini. Puisi diatas membahas semua ketentuan
tata kerja manusia alam dan mahluk hidup lainnya seperti yang di titahkan Allah
SWT., sebagai sang pencipta.
Padalisan atau pada bait pertama dari
puisi diatas menerangkan tentang Tugas utama manusia sebagai khalifah di alam
marcapada ini. Allah SWT., menurunkan manusia ke muka alam marcapada dengan
segala fasilitas yang telah disediakan, segala sesuatu yang disediakan dimuka alam
marcapada ini, tentunya bukan hanya untuk dipergunakan begitu saja, melainkan
juga untuk dijaga, dirawat, dilestarikan dan dimanfaatkan keberadaannya.
Manusia sebagai makhluk yang paling
sempurna dibanding makhluk ciptaan Allah lainnya. Karena manusia diberikan kelebihan
pikiran dan perasaan yang bisa menghasilkan cipta karsa dan karya. Itulah salah
satu alasan Allah mempercayakan manusia sebagai khalifah di alam marcapada.
Walaupun dalam kenyataannya manusia tetap saja dalam menjalankan kosalitasnya Tidak
ada yang dapat di lakukan tanpa adanya campur tangan dari Allah SWT.
Padalisan kedua merupakan gambaran segala
sesuatu dalam melakukannya diharuskan dengan pertimbangan yang matang karena
dunia ini merupkan medan ujian yang harus di lalui dengan baik karena merupakan
barometer untuk kehidupan di akhir akherat. Seperti yang telah tertera dalam
firman Allah Ta’ala pada surat QS. al-Anbiya`: 35 yang artinya, "Yang
menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang
lebih baik amalnya.
Dari firman diatas sangat jelas bahwa
Allah SWT., akan menguji setiap hambanya di dunia ini, apabila kita lulus dalam
ujian yang diberikan Allah maka bahagialah kelak hidupnya di alam akherat. Dalam
padalisan kedua ada bahasa ”sangkan bisa mulang mawa meunang”kalimat tersebut
merupakan harap kebaikan di hari akhir, dengan berharap rohman rohimnya Allah
SWT., manusia bisa berbuah kebaikan di hari yang akan datang.
Di sampaing firman Allah SWT., ada juga
perkataa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam "Sangat mengherankan
urusan orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkara (yang menimpanya) baginya
adalah semuanya baik. Tidaklah hal itu dimiliki oleh siapa pun kecuali bagi
seorang mukmin, jika ia mendapatkan kebaikan, maka ia bersyukur dan hal itu
adalah baik baginya, dan jika ia tertimpa suatu musibah maka ia bersabar dan
itu adalah baik baginya". (HR. Muslim)
Apabila bait kedua di pandang dari
presfektif hadits diatas, bait kedua itu semakin jelas kelihatan bahwa
apa yang dilakukan manusia pada hakekatnya pengejaran atas keridho’an sang
pencipta yakni Allah SWT.
Dimana dikatakan dalam padalisan kedua
tentang permintaan tolong kepada Allah SWT., dari segala perbuata yang tidak
benar, dan selalu minta petunjuk dari Allah SWT., untuk atau dalam melakukan
sesuatu. Bisa juga di artikan untuk menunjukkan kebaikan melalui sebuah musibah
atau cobaan yang menimpa seorang mukmin apabila manusia atau kita bersabar
dalam menjalaninya.
Padalisan ketiga atau terakhir merupakan klimaks
dari perjalan hidup, yang pada akhirnya harus memilih jalan yang harus di
tempuh atau di jalankan dalam kehidupan ini hingga pada kahirnya membuahkan
hasil yang baik untuk di panin di akhir pembalasan atau hari akhirat dengan
keridho’an, keikhlasan, dan dengan ijin Allah SWT., sebagai sangpencipta mahluk
yang di bumi dan di langit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar