Minggu, 04 Februari 2018

FILSAFAT ATAU RAMALAN NIETZSCHE?



“Apa yang aku kisahkan adalah sejarah dua abad yang akan datang. Aku melukiskan apa yang akan terjadi, apa yang tak mungkin datang secara lain: kedatangan nihilisme. Sejarah nihilisme ini bahkan dapat dikisahkan dari saat sekarang karena kepastiannya sudah terlihat saat ini”( N i e t z s c h e)
Kalimat di atas salah satu kutip dari banyaknya aforisme yang diucapkan seorang tokoh filsuf Nietzsche. Kalimat tersebut sepintas lebih kelihatan seperti kalimat dari seorang peramal yang meramalkan tentang sesuatu yang bakal terjadi di kemudian hari atau tepatnya saat sekarang karena kalimat tersebut di ucapkan Nietzsche beberapa puluh tahun yang telah lalu.

Akan tetapi kalau diteliti lebih cermat dan dalam, inti dari kalimat tersebut, meskipun seperti ramalan, ini merupakan pesan moral untuk orang-orang yang berfikir di alam sekarang. Dalam kalimat tersebut ada sesuatu kenyataannya yang tidak bisa dipungkiri oleh kita yang mengaku manusia modern dan berpandangan serta berpengetahuan canggih, memang dirasa mulai atau mungkin sudah kehilangan “nilai” entah nilai Agama, sosial dan budaya.
Dalam tulisan atau kalimat diatas mungkin Nietzsche sendiri ingin mengajak manusia untuk melepaskan diri, dari belenggu yang mendekati “nihils” dari sejarah yang lemah asumsi. Bukan berarti menghilangkan sejarah atau menutup diri dari sejarah. Karena sejarah tidak mungkin lepas dari kehidupan kita, dan juga karena sejarah sajalah maka kita ada sampai sekarang. Sosok kita yang sekarang juga merupakan metamorfosis dari sejarah.
Kalimat tersebut bisa juga diartikan janganlah kamu berpegang pada sejarah yang tidak berdasar dan tidak menemukan titik kebenaran yang kamu yakini” (menggunakan bahasa saya sendiri). Dan menurut bahasa Nietzsche seperti yang pernah di ungkapankan dalam buku yang berjudul Der Fall Wagner karena wagner seorang musikius yang di kagumi, musik wagner dirasa tidak lagi mencerminkan semangat kebudayaan yunani, dan tidak lagi bersifat afirmatif pada hidup, lebih jauh menurut pandangannya wagner dirasa mengalami kemerosotan (dekadensi), walau pun dirinya sendiri mengakui kalau dirinya juga seorang anak zaman yang dekaden. Akan tetapi ia menyadari hal itu dan menolak dekaden tersebut.
Semua tulisan atau aferoisme Nietzsche dahulu, yang secara jelas dan gamblang mebahas tentang semua filsafat nihilisme yang berhubungan dengan budaya, sosial dan keyakinan beragama semuanya terbukti di jaman sekarang. Dimana semuanya sudah kehilangan nilai”. Disadari atau tidak semua filsafat Nietzsche tentang nihilis nya itu hampir semuanya benar semuanyanya berujung ke nihilis, nihilis yang tanpa batas selama manusia-manusianya tidak berfikir untuk berubah.
Menurut salah dosen aqidah filsafat fakultas ushuluddin universitas UIN sunan Gunung Djati Bandung Bapak Ahmad Gibson al bustomi, yang di setujui pemandu mata kuliah filsafat pemberontakan di pasamoan Sophia bapak Rosihan Fahmi, salah satu alasan mengapa Nietzsche sendiri menyusul tulisan yang berjudul “kehendak untuk berkuasa” dalam bukunya.
Karena kehendak untuk berkuasa di tulis setelah nihilisme tidak menutup kemungkin dalam bukunya, seorang Nietzsche ingin mengartikan kata nihilisme hanya sebagai jeda atau pemberhentian sesaat untuk menemukan sesuatu yang baru dan lebih bermakna dalam kehidupan ini, sehingga tidak keluar dari kata untuk apa kita hidup?.
Menurut pemandu-pemandu pasamoan Sophia yang mengajar mata kuliah Filsafat Pemberontakan, pengertian Kehendak untuk berkuasa itu tidak terbatas realita tapi termasuk dengan yang abstrak, yang hubungannya dengan sifat dan tabia’at manusia. Bisa bersifat keyakinan, sosial dan budaya.   
Dan menurut  ST. Sunardi di dalam bukunya menerangkan tentang nihilisme apabila orang tidak segara mencabik-cabik rajutan” (rajutan konseptual, konsep sejarah) dan melakukan Umwerthung aller werte, manusia akan hangus oleh nihilisme, akan tetapi dengan pembalikan seluruh nihilisme, pun tidak dapat bebas dari nihilisme, tapi setidaknya dapat menjadi nihil yang aktif artinya, manusia boleh saja terus merajut, akan tetapi manusia harus menyadari bahwa itu hanya sebuah rajutan dan tidak akan pernah dapat menjadi sesuatu pada dirinya.
Jadi dari pernyataan dan keterangan tulisan di atas dapat disimpulkan pada dasarnya ramalan, aforisme atau filsafat Nietzsche tentang nihilisme terbukti hampir semuanya terbukti benar, dikarenakan kalau di lihat dari fakta yang terbukti sekarang mulai dari Sosial, Budaya, serta Agama semuanya berujung pada kehilangan nilai (nihilisme).
Akan tetapi menurut bapak Rosihan Fahmi kesemuanya itu sebenarnya dan hampir yakin dapat dirubah asal manusianya sendiri mau dan ingin merubahnya dengan melawan arus ketentuan yang sudah ada dalam pengertian yang bersifat negatifnya saja yang kita rubah ya ada kalanya sudah menjadi paradigma.
“Akan tetapi disana tersembunyi pertanyaan ada tidak keberanian untuk mengatakan “Ya saya sanggup untuk merubahnya menuju kebaikan dan melawan arus yang sudah menjadi paradigma dan tidak menutup kemungkin arus tersebut sudah menjadi ideologi”.
Semuanya kembali pada diri kita sendiri, seperti yang disinggung dalam bukunya Nietzsch yang berjudul “kembalinya segala sesuatu (die ewige wiedrkehr des Gleichen)”.
Akhir dari kesimpulan tulisan di atas hidup punya kita sendiri, jadi baik buruknya hidup tergantung kepada kita, akan tetapi karena kita manusia yang sudah mendapat kutukan untuk hidup bersosial dan selalu memerulakan orang lain, kita tidak bisa lepas dari yang lain.
Akan tetapi ada kalanya kita harus terbentur dengan paradigma umum yang padahal menurut kita itu salah dan tersimpan kemunafikan yang sudah mendarah daging dan bisa juga semuanya yang menurut kita salah sudah menjadi Idieologi bagi umum.
Kita hanya diberi 2 (dua) pilihan ikut arus walau sebenarnya kita tahu itu salah dan lambat laun akan membawa kita menuju kematian” . Atau sebaliknya kita melawan arus tersebut yang beresiko sangat riskan yang pada akhirnya kalau kita gagal  berbuntut kita akan terkucilkan dengan sendirinya. Semua pilihan yang sangat-sangat menyedihkan yang satu kematian dan yang satu dikucilkan.
Akan tetapi kalau kita yakin terhadap kebenaran yang diyakini, apa pun resikonya kita pasti ambil langkah itu. Dan dengan kepercayaan kita yakini, kita bisa keluar jadi pemenangnya. Kalau pun tidak kita tidak jadi pemenangnya kita sudah tahu dan mengerti konsekwensi yang harus kita hadapi.
Akhir dari tulisan ini, penulis mengambil kutipan dari Bapak Rosihan Fahmi pemandu Filsafat pemberontakan Pasamoan Sophia yang penulis tambahkan” Satu orang sadar di lingkungan orang gila, satu orang sadar tersebut itu yang disebut gila, begitu juga sebaliknya.

* * * Berperan menjadi Si Gila!,
 Di Alam Yang gila itu bijaksana * * * *

      Daftar Rujukan
  1. Makalah tentang Nihilisme tulisan Bapak Rosihan Fahmi
  2.  Catatan Yang berjudul Bakar Rumah karya Bapak Ahmad Gibson Al-Bustomi
  3. Diskusi dengan Salah satu dosen Filsafat Fak. Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung Bpk. Ahmad Gibson Al bustomi
 Buku yang berjudul Nietzsche karya ST. Sunardi  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...