Syarifah Fatimah Gandasari yang umumnya disebut Nyi Mas Gandasari, puteri angkat raja Embah Kuwusangkan, Pangeran cakrabuana, merupakan perempuan yang sangat cantik dan badannya terselubung mewangian yang sedap.
Berperawakan tinggi dan terkesan sangat jangkung jika dibandingkan
dengan perempuan
Penampakan fisik Nyi Mas Gandasari adalah penampilan
perempuan yang lahir dari macam-macam anasir bangsa. Dari ibundanya mengalir
darah Hindustan dan
Pasundan yang hanya menutup bagian bawah tubuhnya, sebatas perut ke bawah lutut, dengan kain. Sementara itu, sebilah keris berbentung rencong yang terselip di dadanya menunjukkan Nyi Mas Gandasari adalah seekor singa betina pada zamannya; singa betina yang ditakuti binatang jantan yang bukan singa.
Nyi Mas Gandasari merupakan
merupakan anak dari Raja pasai
Aceh Sultan Sayyid Maulana Mahdar Ibrohim dan kakaknya ialah Sayyid Maulana
Fadhilah Khan. Beliau adalah Sultan Aceh yang berkedudukan di Kota Pasai.
Sayyid Maulana Fadhilah Khan terkenal pada saat memimpin perang mengusir
Portugis di Jakarta. Orang-orang Portugis menyebutnya dengan panggilan
"Faletehan" dari kata Fadhilah Khan.
Pada
saat nyimas sudah berdiam di cirebon beliau diangkat anak oleh Pangeran
Cakrabuana Mbah Kuwusangkan. Setelah diangkat anak oleh Mbah kuwusangkan bileu
sering dipanggil Nyi Mas Panguragan, biliau belajar ilmu syari'at, thoriqot,
hakikat, dan ma'rifat setelah bai'at syahadat dan diberi wejangan oleh Kanjeng
Sunan Gunung Djati.
Karena kedigdayaan juga
sunan gunung jati mengangkat menjadi panglima Cirebon Larang yang nantinya bakal
mengalahkan penguasa Galuh Pakuan. Sebab, menurut ramalan, Yang Dipertuan Galuh,
Ratu Aji Surawisesa, Sang Putera Mahkota Pakuan Pajajaran, yang tidak lain
adalah saudara lain ibu walasungsang atau embah kuwu sangkan, konon tidak bisa
dikalahkan oleh siapa pun kecuali oleh seorang perempuan hing wanojaha
kangpangawijng.
Keberadaan
Nyi Mas Gandasari sebagai pendekar perempuan yang sakti mandraguna; wanojaha
linggihingpangelmu wuleding raga kang sesanggah. sakti mandraguna; wanojaha
pangestu mungguhing.
Semua
itu jadi kenyataan gugurnya putra
mahkota Ratu Aji surawisesa di tangan Nyima Gandasari. Ratu Aji Surawisesa.
Pada akhirnya galuh harus mengakui dan jatuh ke Cirebon yang rajanya merupakan
ayah angkat dari Nyimas Gandasari yaitu pangeran Walangsungsang atau umum
menyebutnya embah kuwusangkan.
Semua orang pada jamannya hari demi hari orang-orang justru seperti tidak ada bosan-bosannya membicarakan kecantikan, kegagahan, serta kesaktian Nyi mas Gandasari. Ibarat wangi bunga yang memabukkan kumbang-kumbang jantan, begitulah keharuman nama Nyi Mas Gandasari telah memabukkan banyak lelaki. Namun, setiap kali datang kumbang hendak membaui keharumannya, Nyi Mas Gandasari selalu menghalau mereka dengan duri-durinya yang tajam.
Jumlah kumbang jantan yang Iuka tertusuk duri bunga Gandasari sudah tidak terhitung. Di antara beberapa kumbang jantan yang terbanting dari kelopak bunga harum Nyimas Gandasari yang diingat orang ialah Ki Gedeng Plered, Ki Gedeng Dermayu, Ki Gedeng Pekandangan, Ki Gedeng Paluamba, Ki Gedeng Sindanggaru, Ki Gede Sembung, Ki Gede Bungko, dan Syaikh Magelung.
Sekalipun kesaktian dan keteguhan Nyi Mas Gandasari sudah termasyhur melebihi laki-laki, akan tetapi dibalik semua kesaktian dan kedigdyaannya hati yang tersembunyi di dalam dadanya sesungguhnya tetaplah hati perempuan yang penuh kasih sayang dan kelembutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar