Minggu, 14 Juli 2019

SILUMAN BUAYA PUTIH BENDUNGAN JATIGEDE


Jatigede salah satu bendungan yang berada di provinsi jawa barat tepatnya di kabupaten sumedang. Bendungan yang sangat indah dan nyaman untuk di datangi apalagi di waktu waktu senja.
Dibalik keindahan bendungan Jatigede, banyak misteri yang tersimpan di dalamnya. Salah satu yang dipercayai oleh masyarakat setempat adalah keberadaan penghuni Jatigede yang memiliki bentuk menyerupai buaya. Predator itu berwarna putih yang ganas dan sangar, yang merupakan jelmaan dari bangsa Jin.
Menurut salah satu sumber tokoh pemuda yang bekecimpung di dunia spiritual dan pemerhati alam, konon buaya itu merupakan penjelmaan dari jin yang mempunyai dendam kesumat terhadap Prabu Aji Putih penguasa dari kerajaan Tembong Agung (sekarang Sumedang) sampai sekarang. “Hingga jin tersebut bersumpah sampai kapanpun ia akan terus menyerang dan memusuhi keturunan dari Prabu Aji Putih”.
"Saya sempet bertemu beberapa kali dengan buaya tersebut biasanya sering menampakan di sekitar pesisir yang berhadapan langsung dengan arah gunung lingga.”
Keaneh dari buaya tersebut jika kalau menampakan atau muncul tidak pernah menghampiri orang-orang yang sedang beraktivitas menjaring ikan atau mengerjakan apapun dan jarang menyerang seperti layaknya buaya pada umumnya, akan tetapi hanya menyerang orang-orang tertentu saja, itulah yang menunjukkan memang hanya orang-orang dari keturunan pendiri kerajan tembong agung atau orang-orang yang terdekat dengan keluarga dari keturunan Prabu Aji Putih yang jadi sasaran serang.
Cerita buaya putih dendam pada keturunan keluarga dari Prabu Aji Putih ini, merupakan mata rantai dari masa mudanya Prabu Aji Putih dan istrinya yaitu Nawang Inten. Ratusan tahun yang lalu sempat terjadi bentrok antara Prabu Aji Putih dengan raja jin yang berbentuk buaya tersebut, kejadian tersebut bermula.
Dahulu sewaktu adanya kerajaan tembong agung, pada saat membabak atau membuka lahan untuk padepokan Prabu Aji Putih. Prabu Aji Putih mengalami gangguan dari segerombolan jin penguasa daerah tersebut, yang tidak setuju dengan akan di dirikannya padepokan di daerah itu (sekarang ganeas sumedang).

Disamping tidak setuju didirikannya bangunan padepokan, raja jin tersebut juga suka pada kekasih dari Prabu Aji Putih yaitu Dewi Nawang Wulan (Ratna Inten) yang merupakan keponakan dari Prabu Purbasora.
Pertarungan pun tidak dapat dihindari lagi antara raja jin penguasa ganeas dengan Prabu Aji Putih, pertarungan Prabu Aji Putih dan raja jin tersebut memakan waktu sampai dua hari dua malam. Mereka Saling serang, saling tangkis dan saling banting. Keduanya sama-sama kuatnya dan perkasa, akan tetapi Prabu Aji Putih merupakan anak dari ki balagantrang seorang patih galuh yang setia yang ilmu kesaktian dan kedigdayaan sudah mencapai puncaknya.
Pertarungan mulai mengendur serangan-serangan dari raja jin sudah mulai tidak segesit dan setangkas tadi dan kemarin, raja jin sudah mulai panik karena Prabu Aji Putih tidak mengendorkan serangan, makin lama semakin gencar hingga beberapa pukulan dan tendangan Prabu Aji Putih mengenai dengan telak kearah badan raja jin, di akhir-akhir pertarungan raja jin mengaku keunggulan dari Prabu Aji Putih, akan tetapi pengakuan tersebut hanya siasat belaka pada saat Prabu Aji Putih menghentikan serangan tiba-tiba raja jin menyabut senjata kujang hitam yang ada di pinggang Prabu Aji Putih, dengan maksud untuk membokong Prabu Aji Putih, akan tetapi ratu nawang wulan dengan gesit melemparkan senjata yang sejenis yaitu yang terbuat dari wesi kuning, senjata dari nawang wulan amblas sampai gagangnya.
Pada saat melempar kujang nawang wulan mengucapkan “Lanang sing ngapusi apa bedane karo bojul” (Laki-laki yang mebokong apa bedanya dengan buaya). Keajaiban terjadi pada saat ucapan itu keluar dari mulut manis nawang wulan, tidak berapa lama dari raja jin tersungkur ke tanah bentuknya berubah menjadi buaya yang berukuran besar, detik kemudian raja jin telah berubah menjadi buaya dan mengeluarkan sumpah serapah. Berniat untuk memusuhi keluarga Prabu Aji Putih dan nawang wulan yang sudah menikamnya buktinya kujang yang tertanam dalam dadanya” Jika suatu saat nanti ada dari golongan manusia yang bisa mencabut kujang tersebut maka ia akan melakukan balas dendam”.
Itulah sekelumit cerita dari buaya putih yang ada di bendungan Jatigede sekarang yang dahulunya sebelum ke bendungan Jatigede, buaya tersebut melakukan tapa brata di sungai citarum masuk ke wilayah bandung barat tepatnya daerah rongga, dan akhirnya buaya tersebut mengaku nama ki rongga. Anak buahnya tidak terhitung banyak dari bangsa jin, buaya dan manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...