KERIS MANJING WARANGKA
Masyarakat yang ada di daerah jawa entah jawa barat, jawa tengah,
dan jawa timur, tentu tahu tentang tokoh Semar.
Semar merupakan nama tokoh Pawongan[1]
atau abdi paling utama dalam pewayangan. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh
sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan
Ramayana. Karena merupakan tokoh asli ciptaan pujangga yang ada didaerah jawa,
maka sudah tentu tidak akan menemukan
nama Semar dalam naskah Mahabharata ataupun Ramayana yang berbahasa Sansekerta.
Dalam pagelaran wayang golek sebenarnya ada tokoh pawongan lainnya,
yang merupakan “anak-anak” dari Semar, yaitu Cepot, Dewala dan Gareng. Menurut
salah satu persfektif disebutkan bahwa sesungguhnya Cepot, Dewala dan Gareng
bukanlah anak asli atau anak kandung Semar dan setiaragen.
Semar dianggap sebagai figur yang sentral dalam setiap pagelarannya
karena merupakan sang penyampai pesan. Tentu saja gaya
penyampaian pesan dengan gaya
semar itu sendiri, Semar orangnya santai kadang kalanya di selingi dengan canda
tawa (sempal kapiguyon). Mungkin,
disinilah letak menariknya tokoh Semar, seorang tokoh serius, tapi santai.
Dengan cara inilah mungkin diharapkan pesan-pesan moral atau juga ahlaq bisa
lebih mudah diterima dan dicerna oleh setiap penikmat pertunjukan wayang Golek.
Dalam kisah Mahabharata, Semar ditampilkan sebagai abdi atau pengasuh
dari para Pandawa yang merupakan keturunan dari Pandu Dewanata dan Kunti
Nalibrata. Sementara dalam kisah Ramayana, Semar juga ditampilkan sebagai abdi
atau pengasuh Sri Rama dan laksaman. Sehingga bisa dikatakan tokoh Semar selalu
muncul dalam setiap pagelaran wayang golek, apapun tema atau lakon yang sedang
dikisahkannya. Dalam hal ini Semar sekeluarga tidak hanya berperan sebagai abdi
atau pengikut saja, melainkan juga sebagai pelaku humor dalam mencairkan
suasana yang tegang dan penghibur tidak sedikit penonton yang sakit kulit
perutnya gara-gara liat kekocakan semar sekeluarga dalam setiap magelaran .
Derajat Semar sebenarnya sangat tinggi. Semar
bukan sekadar rakyat jelata biasa, melainkan merupakan penjelmaan dari Batara
Ismaya, kakak dari Batara Guru yang sekaligus juga merupakan raja para dewa
semar sendiri menurut ceritanya anak dari Sanghyang Wenang cucu dari Sanghyang
Tunggal raja triloka[2].
Memang ada beberapa versi tentang asal-usul dari tokoh Semar ini. Namun semua
pada dasarnya menyebut bahwa tokoh ini merupakan penjelmaan dari dewa. Semar
juga merupakan lurah yang tinggal di lembur
singkur sisi gunung[3]
yang bernama Tumaritis. Bersambung ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar