Rabu, 16 Januari 2019

DAS-MAN Sinisme Zaman


DAS-MAN
"Yen pingin muncul, kudu mencil kelakuane"
Kita hidup di zaman yang rumit. Setiap hari kita dikepung oleh informasi, kabar berita sampai dusta. Tak ada jeda. Tak ada kesempatan untuk sekadar menunda. Sungguh, mata dan telinga bahkan seluruh panca indera yang kita punya 24 jam penuh dipaksa terjaga.
Dipaksa terjaga pada akhirnya sering juga menyebabkan kita terpancing untuk menyebarkan informasi bahkan juga dusta. Tak jarang, kita menjadi sulit membedakan mana informasi yang akurat, mana informasi yang sesat. Seumpama tak menjadi dosa kita leluasa menikmatinya. Kita adalah korban sekaligus sumber ketidakwarasan.
Kita larut dalam ketidakwarasan yang dianggap sebagai hal yang lumrah. Kita tenggelam dalam pusaran informasi dan kabar bohong yang bersliweran. Larut sepenuhnya ke dalam cara berada "orang-lain", itulah das-Man. Das-Man bukanlah manusia autentik. Disebut tidak autentik, karena eksistensinya ditentukan oleh kehendak massa. Oleh gelombang manusia kebanyakan.

Das-man mengukuhkan keberadaan orang lain sebagai ukuran buat diri kita sendiri. Cara berada orang lain sedemikian menentukan diri kita. Kita menikmati dan memuaskan diri, seperti orang menikmati. Kita melihat dan menilai seperti orang melihat dan menilai.
Kenali gejalanya. Ia tampak dalam rasa ingin tahu dan melakukan chatting atau membuat gosip. Duduk santai di korsi sambil ngopi atau makan cemilan dengan ponsel, lalu tenggelam dalam obrolan dan ikhlas diseret oleh rasa ingin tahu. Padahal palsu. Meskipun menipu. Itulah cara keberadaan das-Man. Rasa ingin tahu menyebabkan kita menjadi tidak berhenti berceloteh melalui twitter, facebook, IG atau pun media sosial lainnya.
Yang paling menohok, das-Man adalah sosok yang berpikir kalkulatif bukan berpikir meditatif. Katanya Heidegger, berpikir kalkulatif bukanlah berpikir. Das-Man adalah manusia "yang lari dari berpikir". Ketika kita chatting atau memviralkan berita dan informasi kita bekerja seperti mesin, repetitif, berpola. Anehnya, kita merasa berpikir tapi sebenarnya kita sedang mengikuti gerak mekanisme yang berulang setiap saat.
Saat jempol gatal dan kemudian mengetik pesan-pesan kebanyakan tidak didasarkan pada pemikiran melainkan sekadar meneruskan hal-hal yang mekanis dan repetitif dalam siklus komunikasi yang banal. Itulah zaman kita, ketika pencarian kebenaran direduksi oleh siasat browsing atau googling. Tak usah cape-cape berpikir, percayakan saja pada jempol. Ya, das-Man bukanlah manusia yang replektif tapi sosok yang refleks.
Bisakah kita membuka topeng das-Man yang sudah kadung menutupi wajah kita. Mampukah kita menghindar dari berpikir kalkulatif yang telah menyebabkan kita menjadi seumpama robot yang bergerak mekanis dan repetitif?
Luangkan waktu untuk berpikir meditatif, itulah sarannya. Berpikir meditatif adalah fokus, peduli dan memperhatikan eksistensi kita. Berpikir meditatif bukanlah mengutuk ponsel dan hasil tekhnologi. "Sungguh dungu (istilah Rocky Gerung) orang yang menyerang tekhnologi. Adalah picik mengutuki peralatan teknis sebagai karya iblis". Fahimtum?!
Berpikir meditatif tampil dalam sikap relaks terhadap teknologi. Relaks berarti tidak melekat, tidak terjerat atau tidak tergantung pada teknologi itu. Dalam bahasa agama itulah ikhlas. Ikhlas bukanlah sikap yang pasif atau fatalistis, melainkan tetap waspada. Ikhlas berteknologi adalah sikap menjaga yang terbuka tetap terbuka, membiarkan dunia tetap dunia, dan tidak membiarkan keduanya menentukan siapa kita.
By : De ALso Layang Kusumah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...