DAS-MAN
"Yen pingin muncul, kudu
mencil kelakuane"
Kita hidup di zaman yang
rumit. Setiap hari kita dikepung oleh informasi, kabar berita sampai dusta. Tak
ada jeda. Tak ada kesempatan untuk sekadar menunda. Sungguh, mata dan telinga
bahkan seluruh panca indera yang kita punya 24 jam penuh dipaksa terjaga.
Dipaksa terjaga pada akhirnya
sering juga menyebabkan kita terpancing untuk menyebarkan informasi bahkan juga
dusta. Tak jarang, kita menjadi sulit membedakan mana informasi yang akurat,
mana informasi yang sesat. Seumpama tak menjadi dosa kita leluasa menikmatinya.
Kita adalah korban sekaligus sumber ketidakwarasan.
Kita larut dalam
ketidakwarasan yang dianggap sebagai hal yang lumrah. Kita tenggelam dalam
pusaran informasi dan kabar bohong yang bersliweran. Larut sepenuhnya ke dalam
cara berada "orang-lain", itulah das-Man. Das-Man bukanlah manusia
autentik. Disebut tidak autentik, karena eksistensinya ditentukan oleh kehendak
massa. Oleh gelombang manusia kebanyakan.
Das-man mengukuhkan keberadaan
orang lain sebagai ukuran buat diri kita sendiri. Cara berada orang lain
sedemikian menentukan diri kita. Kita menikmati dan memuaskan diri, seperti
orang menikmati. Kita melihat dan menilai seperti orang melihat dan menilai.
Kenali gejalanya. Ia tampak
dalam rasa ingin tahu dan melakukan chatting atau membuat gosip. Duduk santai
di korsi sambil ngopi atau makan cemilan dengan ponsel, lalu tenggelam dalam
obrolan dan ikhlas diseret oleh rasa ingin tahu. Padahal palsu. Meskipun
menipu. Itulah cara keberadaan das-Man. Rasa ingin tahu menyebabkan kita
menjadi tidak berhenti berceloteh melalui twitter, facebook, IG atau pun media
sosial lainnya.
Yang paling menohok, das-Man
adalah sosok yang berpikir kalkulatif bukan berpikir meditatif. Katanya
Heidegger, berpikir kalkulatif bukanlah berpikir. Das-Man adalah manusia
"yang lari dari berpikir". Ketika kita chatting atau memviralkan
berita dan informasi kita bekerja seperti mesin, repetitif, berpola. Anehnya,
kita merasa berpikir tapi sebenarnya kita sedang mengikuti gerak mekanisme yang
berulang setiap saat.
Saat jempol gatal dan kemudian
mengetik pesan-pesan kebanyakan tidak didasarkan pada pemikiran melainkan
sekadar meneruskan hal-hal yang mekanis dan repetitif dalam siklus komunikasi
yang banal. Itulah zaman kita, ketika pencarian kebenaran direduksi oleh siasat
browsing atau googling. Tak usah cape-cape berpikir, percayakan saja pada
jempol. Ya, das-Man bukanlah manusia yang replektif tapi sosok yang refleks.
Bisakah kita membuka topeng
das-Man yang sudah kadung menutupi wajah kita. Mampukah kita menghindar dari
berpikir kalkulatif yang telah menyebabkan kita menjadi seumpama robot yang
bergerak mekanis dan repetitif?
Luangkan waktu untuk berpikir
meditatif, itulah sarannya. Berpikir meditatif adalah fokus, peduli dan
memperhatikan eksistensi kita. Berpikir meditatif bukanlah mengutuk ponsel dan
hasil tekhnologi. "Sungguh dungu (istilah Rocky Gerung) orang yang
menyerang tekhnologi. Adalah picik mengutuki peralatan teknis sebagai karya
iblis". Fahimtum?!
Berpikir meditatif tampil
dalam sikap relaks terhadap teknologi. Relaks berarti tidak melekat, tidak
terjerat atau tidak tergantung pada teknologi itu. Dalam bahasa agama itulah
ikhlas. Ikhlas bukanlah sikap yang pasif atau fatalistis, melainkan tetap
waspada. Ikhlas berteknologi adalah sikap menjaga yang terbuka tetap terbuka,
membiarkan dunia tetap dunia, dan tidak membiarkan keduanya menentukan siapa
kita.
By : De ALso Layang Kusumah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar