Asy-Syahadatain
lahir bukan karena hasrat perseorangan. Bukan karena kepentingan sempit atau
keinginan pendirinya beroleh kedudukan. Dikenal. Dapat pujian ataupun
kesitimewaan tertentu dari pihak kekuasaan.
Asy-Syahadatain
lahir karena tuntutan zaman. Panggilan sejarah dan kehidupan. Ia menyentak
cakrawala kesadaran manusia tentang bagaimana seharusnya manusia bersikap,
tunduk dan patuh pada Allah azza wajalla. Persis, Asy-Syahadatain lahir untuk
memperbaharui dan merevolusi makna "asyhadu" (persaksian) kepada dzat
yang Esa. Asy-Syahadatain merombak pola pikir dan etika kepada sang pemilik
nyawa manusia.
Sejak
awal kelahirannya yang tanpa pretensi duniawi, Asy-Syajadatain menghadapi
banyak tantangan dan rintangan. Ia dicibir sebagai kelompok yang membawa ajaran
baru. Ia dituduh sebagai kelompok keagamaan bid'ah. Bahkan pada masanya, ia
pernah disebut sebagai kelompok sesat yang menyimpang dari ajaran Islam.
Syukur
alhamdulillah. Ujian sejarah berhasil dilewati. Tak selalu mulus menjalaninya.
Tak selalu gampang menghapinya. Cobaan sejarah tak membuat Asy-Syahadatain
merubah wataknya. Gempuran sangkaan tak melunturkan niat baik yang menjadi
misinya. Godaan kekuasaan tak memalingkan arah dan haluan perjuangan.
Asy-Syahadatain teguh dengan prinsip sejati bahwa manusia bisa beroleh
kehormatan dan wibawa manakala ia tunduk dan patuh terhdap Allah saja.
Asy-Syahadatain
milik umat dan rakyat. Asy-Syahadatain membela kepentingan agama dan bangsa.
Asy-Asyhadatain mustahil mengkhianti NKRI. Republik yang justeru lahir karena
bantuan dan sokongan Asy-Syahadatain sendiri.
Dengan
itu, Asy-Syahadatain sebagai entitas lembaga tak mungkin terjebak pada
kepentingan sesaat. Mustahil ikut-ikutan terjerumus dalam permainan politik
yang kadang merusak akhlak dan kehormatan. Jauh dari sangkaan, Asy-Syahadatain
berdiri pada posisi yang netral sebagai pengawas dan peneguh moral dan norma
kehidupan.
Dalam
darah Asy-Syahadatain mengalir benih kecintaan yang tinggi terhadap negeri ini.
Tak rela jika bangsa ini pecah dan terbelah oleh hasutan bahkan perseteruan.
Tak sudi bangsa ini porak poranda karena politik adu domba karena faham dan
ideologi yang menjauhkan dari Allah azza wajalla.
Pergantian
kepemimpinan adalah hukum alam kehidupan. Pemimpin datang pemimpin pergi. Dalam
menyikapi pergantian ini, Asy-Syahadatain tetep teguh dengan sikap tengah
menjaga netralitas. Pergantian kepemimpinan yang damai dan sejuk itulah yang
diinginkan Asy-Syahadatain. Allahu a'lam.
By. De Also Layang Kusumah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar