Selasa, 22 Januari 2019

PENGALAMAN MASUK ASY-SYAHADATAIN


Asy-Syahadatain lahir bukan karena hasrat perseorangan. Bukan karena kepentingan sempit atau keinginan pendirinya beroleh kedudukan. Dikenal. Dapat pujian ataupun kesitimewaan tertentu dari pihak kekuasaan.
Asy-Syahadatain lahir karena tuntutan zaman. Panggilan sejarah dan kehidupan. Ia menyentak cakrawala kesadaran manusia tentang bagaimana seharusnya manusia bersikap, tunduk dan patuh pada Allah azza wajalla. Persis, Asy-Syahadatain lahir untuk memperbaharui dan merevolusi makna "asyhadu" (persaksian) kepada dzat yang Esa. Asy-Syahadatain merombak pola pikir dan etika kepada sang pemilik nyawa manusia.
Sejak awal kelahirannya yang tanpa pretensi duniawi, Asy-Syajadatain menghadapi banyak tantangan dan rintangan. Ia dicibir sebagai kelompok yang membawa ajaran baru. Ia dituduh sebagai kelompok keagamaan bid'ah. Bahkan pada masanya, ia pernah disebut sebagai kelompok sesat yang menyimpang dari ajaran Islam.

Syukur alhamdulillah. Ujian sejarah berhasil dilewati. Tak selalu mulus menjalaninya. Tak selalu gampang menghapinya. Cobaan sejarah tak membuat Asy-Syahadatain merubah wataknya. Gempuran sangkaan tak melunturkan niat baik yang menjadi misinya. Godaan kekuasaan tak memalingkan arah dan haluan perjuangan. Asy-Syahadatain teguh dengan prinsip sejati bahwa manusia bisa beroleh kehormatan dan wibawa manakala ia tunduk dan patuh terhdap Allah saja.
Asy-Syahadatain milik umat dan rakyat. Asy-Syahadatain membela kepentingan agama dan bangsa. Asy-Asyhadatain mustahil mengkhianti NKRI. Republik yang justeru lahir karena bantuan dan sokongan Asy-Syahadatain sendiri.
Dengan itu, Asy-Syahadatain sebagai entitas lembaga tak mungkin terjebak pada kepentingan sesaat. Mustahil ikut-ikutan terjerumus dalam permainan politik yang kadang merusak akhlak dan kehormatan. Jauh dari sangkaan, Asy-Syahadatain berdiri pada posisi yang netral sebagai pengawas dan peneguh moral dan norma kehidupan.
Dalam darah Asy-Syahadatain mengalir benih kecintaan yang tinggi terhadap negeri ini. Tak rela jika bangsa ini pecah dan terbelah oleh hasutan bahkan perseteruan. Tak sudi bangsa ini porak poranda karena politik adu domba karena faham dan ideologi yang menjauhkan dari Allah azza wajalla.
Pergantian kepemimpinan adalah hukum alam kehidupan. Pemimpin datang pemimpin pergi. Dalam menyikapi pergantian ini, Asy-Syahadatain tetep teguh dengan sikap tengah menjaga netralitas. Pergantian kepemimpinan yang damai dan sejuk itulah yang diinginkan Asy-Syahadatain. Allahu a'lam.

By. De Also Layang Kusumah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...