Kamis, 21 Februari 2019

Politik Indonesia kontemporer (ADu KAMPRET dan CEBONG)


Politik Indonesia kontemporer  (ADu KAMPRET dan CEBONG)
Pandangan perpolitikan hari-hari ini di negara tercinta. Mulut kita tiba-tiba refleks mengucapkan dua kosa kata itu. Dua kosa kata yang mengidentifikasi kelompok yang tengah berhadap-hadapan. Dua kosa kata yang dilekatkan dan disebut mewakili karakter juga identitas kelompok yang tengah sengit "berseteru". Kampret itu "sumbu pendek". Cebong itu "sekolam sepedunguan".
Dalam kondisi normal atau dalam keadaan bercanda, menyebut dua kosa kata itu mungkin tak jadi soal. Kata tersebut bisa menjadi semacam sebutan untuk melepaskan ketegangan, mungkin juga kata-kata untuk mengakrabkan perkawanan. Tapi dalam situasi sekarang, ketika suhu politik kekuasaan sedang panas-panasnya, dua kosa kata itu bisa bermakna pejoratif. Ia bermetamorfosa menjadi kata yang menohok. Sebutan melecehkan. Panggilan merendahkan. Landihan yang sungguh tak pantas ditujukan pada sesama. Siapapun dia. Apakah kawan atau pun lawan. Apakah preferensi politiknya berbeda ataupun tidak.

Dear My Heart


Bebeb !!!
Makasih banyak ya untuk semua hal yg kamu ajarin ke aku, aku banyak belajar hal-hal kebaikan dari kamu sehingga aku ngerti bagaimana situasi dan kondisi hidup dan kehidupan yg sebenarnya. Banyak hal yg aku takuti dalam menjalani hidup, tapi nasehat-nasehat dari kamu selalu mendorong ku untuk tetap tegar dan berani bahkan di titik terberat sekalipun kamu gk pernah biarin aku goyah, hanyak Allah yg mampu balas semua kebaikan kamu beb.
Aku gk akan putus berdo'a untuk kebaikan dan keselematan kamu dan keluargamu di dunia dan akhirat beb, selain do'a aku gk punya apa-apa untuk blas kebaikan kamu beb.
Dulu sebelum ke bandung dan masih kelas 3 aliyah di pondok aku udah punya cita2 kuliah di bandung dan aku yakin aku akan keterima di Universitas yang di mkasud gak ada keraguan sedikit pun beb, tapi ada hal yg aku kwatirkan dan aku ragukan untuk sekolah di bandung...yaitu siapa yg akan menemaniku, siapa yg akan menjagaku, siapa yg akan menyayangiku, siapa yg akan mendukungku, di tengah-tengah kota yg begitu keras dengan gaya hidup individualis yg tinggi, itu yang tekenang di benak dan fikiran saat itu sehingga aku takut sendiri, aku takut gk bisa beradaptasi.... oleh karena itu sejak rasa itu muncul  aku selalu berdo'a sama Allah beb, aku minta sama Allah “ Ya Allah...kirimkanlah untuk ku seorang malaikat yg nanti akan temani ku di bandung nanti ya Allah, aku takut sendiri ya Allah, aku yakin engkau gak akan biarkan aku sendiri ya Allah “,... itu isi dari do'a ku selang beberapa waktu sebelum aku tamat aliyah beb dan tanpa aku sadari sejak awal kuliah di bandung, ternyata malaikat itu benar dikirimkan Allah untuk ku dan udah menemaniku sejak awal masa-masa kuliah yaitu kamu beb.

Selasa, 19 Februari 2019

KISAH CINTA IBU DAN ANAK


Kisah ini di ceritakan teman dari pelaku dalam kisah catatan ini. siapka tisu untuk menghapus air matanya.
Ibu sudah tidak kuat lagi untuk berjalan. Setiap hari dia hanya bisa berbaring di atas tempat tidur. Di samping sudah renta, jatuh dua kali mungkin menjadi penyebabnya. Tangan dan keningnya agak biru, kakinya memar. Jangankan untuk berjalan, untuk berdiri pun ibu meringis kesakitan.
Tempo hari nafas ibu sesak, penyakit jantungnya kambuh lagi. Kami semua panik juga khawatir. Lalu dokter datang memeriksa dan memberikan ibu beberapa obat. Dokter lalu menyarankan ibu untuk menggunakan oksigen. Alhamdulillah, ibu bisa bernafas dengan lapang. Dadanya tidak kelihatan lagi turun-naik dengan kencang.

Rabu, 13 Februari 2019

NUR KHALIM GURU BIJAKSANA


NUR KHALIM
Di hadapan muridnya yang menantang juga mengancam, Nur Khalim hanya diam. Mulutnya terkatup. Matanya tak menyalak memberikan perlawanan balik terhadap amarah anak didiknya. Tangannya seumpama terkunci tak berayun memberikan balasan.
Saya yang menonton adegan dalam video viral itu malah geram menahan marah. Urat tangan mendadak mengeras. Emosi dalam dada bergolak sarkas. Bayangkan, baju saya dicekal. Di hadapan anak didik yang lain saya ditantang. Jadi korban yang ditertawakan dan direndahkan. Lalu di hadapan saya ada mata beringas nan ganas. Mencibir penuh nyinyir. Mustahil saya diam. Mustahil nyali saya ciut, sekadar memberikan tamparan pada mulutnya yang bersungut tak sopan, pasti sudah saya lakukan.
Nur Khalim tidak. Saya gemes sendiri melihatnya. Sebagai pribadi, saya tak bisa mengomentari diamnya Nur Khalim, tapi sebagai personifikasi pendidik, perilaku anak asuhnya adalah pelecehan terhadap tugas mulia yang disandangnya. Sejenis penghinaan yang keterlaluan terhadap profesi mulia yang diembannya.

Selasa, 05 Februari 2019

BEBERES" ALA KONDO


"BEBERES" ALA KONDO
Periksa lemari pakaian. Cek juga rak-rak buku. Lihatlah deretan sepatu. Tengoklah barang-barang yang tersimpan di gudang. Pegang dan amati. Rasakan, apakah ia memercikan kebahagiaan ketika kita pegang? Jika tidak, mungkin sudah waktunya kita harus singkirkan dan sumbangkan. Siapa tahu pakaian, buku, sepatu dan barang yang tersimpan di gudang tadi bisa membahagiakan orang lain.
Itulah KonMari. Sebuah metode "beberes" (tidying up) yang diperkenalkan Marie Kondo. Seorang perempuan asal Jepang kelahiran 1984. Kondo menulis 4 buku tentang "beberes" dan mengatur barang. Dahsyat, bukunya terjual jutaan eksemplar. The Life-Changing Magic of Tidying Up yang terbit 2011 menjadi buku best seller di Jepang dan Eropa. Bahkan di Amerika Serikat (2014) buku ini laris manis tanjung kimpul di pasaran. Tak heran jika buku ini masuk daftar buku terlaris menurut The New York Times.
KonMari bukanlah tindakan "beberes" an sich. Menurut Kondo beberes dan mengorganisir barang yang tak terpakai apalagi tak memercikan kebahagiaan adalah salah satu cara membenahi energi kehidupan kita. Dalam "beberes", kita jangan fokus menyingkirkan barang-barang semata, namun lebih ke menyimpan barang-barang yang saat disentuh memercikkan kebahagiaan (tokimeku) di hati. Kondo percaya, dengan menyimpan hanya barang-barang yang membahagiakan, hidup kita pun akan lebih bahagia. Kita tak terbebani dengan semua obyek yang beraura negatif.

HITAM PUTIH


Seorang teman bercerita tentang hidupnya yang sering dituduh salah. Dianggap berbeda. Atau malah dicela karena prinsipnya yang tak lajim dengan tuntunan manusia kebanyakan. Bahkan ketika politik menjadi "Tuhan". Berbeda adalah ketidakwarasan.
Dalam pikiran si penuduh, hidup adalah tunggal. Atau sejenis garis lurus yang tak boleh menyempal. Menyimpang dari ukuran adalah sesat. Memilih jalan berbeda adalah hidup yang pasti tercela. Cermin tak boleh seragam. Ukuran harus sama. Sejarah adalah garis linear yang menahbis gerak manusia dalam titian lurus yang jelas dan pasti ukurannya.
Martin Buber memetakan sikap menentukan ukuran diri untuk menakar orang lain itu dengan istilah "stranger". Orang lain tidak dianggap setara tapi dituduh sebagai sosok yang "asing". Supaya hidup tertib dan disiplin tak boleh ada "orang asing". Kehadirannya mesti diringkus oleh kita yang sama. Melalui ukuran yang dianggap benar sekalipun memaksakan.

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...