Kisah ini di ceritakan teman dari pelaku dalam kisah catatan ini. siapka tisu untuk menghapus air matanya.
Ibu sudah tidak kuat lagi untuk berjalan. Setiap hari dia
hanya bisa berbaring di atas tempat tidur. Di samping sudah renta, jatuh dua
kali mungkin menjadi penyebabnya. Tangan dan keningnya agak biru, kakinya
memar. Jangankan untuk berjalan, untuk berdiri pun ibu meringis kesakitan.
Tempo
hari nafas ibu sesak, penyakit jantungnya kambuh lagi. Kami semua panik juga
khawatir. Lalu dokter datang memeriksa dan memberikan ibu beberapa obat. Dokter
lalu menyarankan ibu untuk menggunakan oksigen. Alhamdulillah, ibu bisa
bernafas dengan lapang. Dadanya tidak kelihatan lagi turun-naik dengan kencang.
Berbeda
dengan bapak, ibu itu orangnya agak pendiam. Antara sakit dan tidak, ekspresi
wajahnya sama saja, datar. Tak banyak kata yang bisa keluar dari mulutnya. Tak
sering dia mengeluhkan apa yang dirasakannya. Kalau sakitnya puncak, biasanya
ibu meneteskan air mata. Itu satu-satunya tanda yang bisa kami kenali jika ibu
sedang sakit. Sesekali saja ibu tersenyum, itupun kalau melihat cucunya bikin
ulah yang lucu.
Terlebih
semenjak sakit, ibu jadi pendiam sama sekali. Matanya saja yang sering
"berbicara" sekalipun sayu, sekalipun muram. Kalau tidak ditanya mana
mau dia bercerita tentang apa yang dirasa juga tentang penyakitnya yang
mendera. Jadinya, kami semua anak-anaknya sering was-was juga bawel sama ibu.
"Apa yang sakit bu"? "Ibu sudah makan apa belum"? "Ibu
ingin makan apa"? Beruntung jika ibu menjawab dengan kata-kata. Jawaban
gelengan atau anggukan kepala pun adalah sesuatu yang luar biasa.
Hari-hari
ini ibu semakin susah saja untuk makan. Otomatis badannya lemah, mukanya agak
sedikit pucat dan menjadi sulit untuk diajak bicara. Kalau sudah menolak untuk
makan, tak ada rayuan yang bisa meluluhkan hatinya untuk sekadar menyentuh
nasi. Tak ada bujukan yang sanggup mendorong nafsunya untuk bergerak mendorong
sesendok makanan masuk ke dalam mulutnya. "Bu makan ya"? Kata saya.
Ibu hanya diam. Dengan sok menggurui, saya melanjutkan, "makan bagi ibu
sekarang adalah kebutuhan bukan karena tidak ingin atau tidak bernafsu".
Ibu tetap diam.
Saya
kalah.
Tak
banyak asupan yang masuk ke tubuhnya, jadinya ibu sukanya tidur. Akibatnya,
badannya agak kurus dan tulang tubuhnya nampak kelihatan dan lebih terasa kalau
dipegang. Untunglah, saudara sepupu mengiriminya kursi roda. Ada alasan bagi
kami untuk merayu ibu sekadar untuk "jalan-jalan" di sekitar rumah
atau kalau pagi bisa "memaksa" ibu untuk berjemur. Dan ini jadi
kesempatan untuk merayu dia supaya mau makan. Tetap saja, ibu ogah.
Pulang
dari Bandung saya bergegas menengok ibu. Dia terbaring di atas kasur. Ibu
melihat saya, dia tersenyum. Saya raih tangannya saya cium keningnya.
"Allah, Engkau Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Sehatkan ibu. Beri dia
kekuatan dan ketabahan".
"Ibu
sudah makan"? Saya tanya adik saya yang ada di situ. "Belum".
Adik saya mengambil nasi dengan sayur sop di atasnya. "Saya suapin ibu
yaa"? Ibu diam. Saya gendong ibu untuk duduk di kursi roda. Dengan sendok
saya memasukan nasi ke mulutnya. Mulut ibu terbuka dan dengan lahap ia makan.
Saya berseloroh, "Ibu mau pake sambal"? Dia senyum lebar giginya
kelihatan. Alhamdulillah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar