Selasa, 19 Februari 2019

KISAH CINTA IBU DAN ANAK


Kisah ini di ceritakan teman dari pelaku dalam kisah catatan ini. siapka tisu untuk menghapus air matanya.
Ibu sudah tidak kuat lagi untuk berjalan. Setiap hari dia hanya bisa berbaring di atas tempat tidur. Di samping sudah renta, jatuh dua kali mungkin menjadi penyebabnya. Tangan dan keningnya agak biru, kakinya memar. Jangankan untuk berjalan, untuk berdiri pun ibu meringis kesakitan.
Tempo hari nafas ibu sesak, penyakit jantungnya kambuh lagi. Kami semua panik juga khawatir. Lalu dokter datang memeriksa dan memberikan ibu beberapa obat. Dokter lalu menyarankan ibu untuk menggunakan oksigen. Alhamdulillah, ibu bisa bernafas dengan lapang. Dadanya tidak kelihatan lagi turun-naik dengan kencang.

Berbeda dengan bapak, ibu itu orangnya agak pendiam. Antara sakit dan tidak, ekspresi wajahnya sama saja, datar. Tak banyak kata yang bisa keluar dari mulutnya. Tak sering dia mengeluhkan apa yang dirasakannya. Kalau sakitnya puncak, biasanya ibu meneteskan air mata. Itu satu-satunya tanda yang bisa kami kenali jika ibu sedang sakit. Sesekali saja ibu tersenyum, itupun kalau melihat cucunya bikin ulah yang lucu.
Terlebih semenjak sakit, ibu jadi pendiam sama sekali. Matanya saja yang sering "berbicara" sekalipun sayu, sekalipun muram. Kalau tidak ditanya mana mau dia bercerita tentang apa yang dirasa juga tentang penyakitnya yang mendera. Jadinya, kami semua anak-anaknya sering was-was juga bawel sama ibu. "Apa yang sakit bu"? "Ibu sudah makan apa belum"? "Ibu ingin makan apa"? Beruntung jika ibu menjawab dengan kata-kata. Jawaban gelengan atau anggukan kepala pun adalah sesuatu yang luar biasa.
Hari-hari ini ibu semakin susah saja untuk makan. Otomatis badannya lemah, mukanya agak sedikit pucat dan menjadi sulit untuk diajak bicara. Kalau sudah menolak untuk makan, tak ada rayuan yang bisa meluluhkan hatinya untuk sekadar menyentuh nasi. Tak ada bujukan yang sanggup mendorong nafsunya untuk bergerak mendorong sesendok makanan masuk ke dalam mulutnya. "Bu makan ya"? Kata saya. Ibu hanya diam. Dengan sok menggurui, saya melanjutkan, "makan bagi ibu sekarang adalah kebutuhan bukan karena tidak ingin atau tidak bernafsu". Ibu tetap diam.
Saya kalah.
Tak banyak asupan yang masuk ke tubuhnya, jadinya ibu sukanya tidur. Akibatnya, badannya agak kurus dan tulang tubuhnya nampak kelihatan dan lebih terasa kalau dipegang. Untunglah, saudara sepupu mengiriminya kursi roda. Ada alasan bagi kami untuk merayu ibu sekadar untuk "jalan-jalan" di sekitar rumah atau kalau pagi bisa "memaksa" ibu untuk berjemur. Dan ini jadi kesempatan untuk merayu dia supaya mau makan. Tetap saja, ibu ogah.
Pulang dari Bandung saya bergegas menengok ibu. Dia terbaring di atas kasur. Ibu melihat saya, dia tersenyum. Saya raih tangannya saya cium keningnya. "Allah, Engkau Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Sehatkan ibu. Beri dia kekuatan dan ketabahan".
"Ibu sudah makan"? Saya tanya adik saya yang ada di situ. "Belum". Adik saya mengambil nasi dengan sayur sop di atasnya. "Saya suapin ibu yaa"? Ibu diam. Saya gendong ibu untuk duduk di kursi roda. Dengan sendok saya memasukan nasi ke mulutnya. Mulut ibu terbuka dan dengan lahap ia makan. Saya berseloroh, "Ibu mau pake sambal"? Dia senyum lebar giginya kelihatan. Alhamdulillah.

De Also Layang Kusumah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...