Politik
Indonesia kontemporer (ADu KAMPRET dan CEBONG)
Pandangan perpolitikan hari-hari ini di negara
tercinta. Mulut kita tiba-tiba refleks mengucapkan dua kosa kata itu. Dua kosa
kata yang mengidentifikasi kelompok yang tengah berhadap-hadapan. Dua kosa kata
yang dilekatkan dan disebut mewakili karakter juga identitas kelompok yang
tengah sengit "berseteru". Kampret itu "sumbu pendek".
Cebong itu "sekolam sepedunguan".
Dalam kondisi normal atau dalam keadaan
bercanda, menyebut dua kosa kata itu mungkin tak jadi soal. Kata tersebut bisa
menjadi semacam sebutan untuk melepaskan ketegangan, mungkin juga kata-kata
untuk mengakrabkan perkawanan. Tapi dalam situasi sekarang, ketika suhu politik
kekuasaan sedang panas-panasnya, dua kosa kata itu bisa bermakna pejoratif. Ia
bermetamorfosa menjadi kata yang menohok. Sebutan melecehkan. Panggilan
merendahkan. Landihan yang sungguh tak pantas ditujukan pada sesama. Siapapun
dia. Apakah kawan atau pun lawan. Apakah preferensi politiknya berbeda ataupun
tidak.
Langit politik kita hari ini memang bising dan
tercemar dengan dua kosa kata itu. Tengoklah dunia media sosial, apakah
Facebook, Twitter ataupun Instagram yang secara transparan dan vulgar
menampilkan dua kosa kata itu diikuti kata-kata ataupun kalimat bawaan lainnya
yang menohok, bernuansa merisak, membully dan melecehkan.
Di dunia media sosial, tidak ada lagi ruang
bagi keadaban dengan kata-kata sopan penuh penghargaan. "Karena engkau
Kampret, kau pantas dilecehkan, dihinakan"! "Karena kau Cebong, kau
pantas dinistakan, direndahkan"! Demokrasi yang tadinya dinujum sebagai pertukaran
ide dan gagasan. Silang sengketa tentang diskursus dan pemikiran berubah
menjadi medan kurusetra yang menampilkan sumpah serapah dan gelegak amarah
sebagai pelurunya.
Politik Indonesia kontemporer adalah
pertunjukan congor dan mulut yang tak sopan. Ia menjadi wabah endemik yang
menyasar tidak hanya kaum Brahmana dan Ksatria, kelas Sudra dan Paria pun sama
"gilanya". Meluncurlah dari atas sana sebutan "politisi
sontoloyo" ataupun "genderewo" yang ditimpali dengan "tampang
Boyolali". Omongan kaum Brahmana dan Ksatria itu menyadarkan kita, bahwa
yang mendiami republik ini ternyata adalah makhluk menyeramkan, semacam siluman
atau manusia jadi-jadian.
Uniknya. Kita secara tak sadar berpihak dan
ikut-ikutan untuk berperilaku "sontoloyo" memosisikan diri pada dua
sebutan itu. Alih-alih menjernihkan situasi dengan nalar yang bersih, menjadi
begawan yang meneduhkan, diam-diam kita menjadi agen bahkan corong yang seolah
mewakili perasaan dan kepentingan dua kelompok yang berbeda itu.
Akademisi dan kaum intelektual ikut tersapu
badai ketaksadaran ini. Apa yang menguntungkan bagi kaum Kampret secara refleks
jempol mereka gatal kalau tidak ikut memviralkan pesan atau gambar tertentu.
Apa yang mendatangkan manfaat bagi kaum Cebong jempol mereka otomatis dan tak sabar
untuk segera menyebarluaskannya. Cuih... !!!
Berbeda itu hukum alam. Mustahil realitas
dicipta dalam kondisi dan bentuknya yang seragam. Sikap dan pilihan politik tak
sama adalah hal biasa. Keberbedaan tak seharusnya menjadi stigma untuk gampang
merendahkan mereka yang "tak-sama" atau "yang-lain" dengan
kita. Yang beda dan tak sama bukanlah "neraka".
Ketika politik menjadi seumpama najis yang
harus dibersihkan dan dijauhi ada baiknya kita belajar dari "local
wisdom"nya masyarakat Baduy yang menampik ikut-ikutan larut dalam pusaran
kebencian antara dua gelombang yang saling berlawanan, "kalau kami
ikut-ikutan memilih atau mendukung anu dan anu, pemilihannya cuma sebentar,
tapi ribut-ributnya dengan tetangga atau saudara bisa lama"
Tabik!
De Also Layang Kusumah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar