Kamis, 21 Februari 2019

Politik Indonesia kontemporer (ADu KAMPRET dan CEBONG)


Politik Indonesia kontemporer  (ADu KAMPRET dan CEBONG)
Pandangan perpolitikan hari-hari ini di negara tercinta. Mulut kita tiba-tiba refleks mengucapkan dua kosa kata itu. Dua kosa kata yang mengidentifikasi kelompok yang tengah berhadap-hadapan. Dua kosa kata yang dilekatkan dan disebut mewakili karakter juga identitas kelompok yang tengah sengit "berseteru". Kampret itu "sumbu pendek". Cebong itu "sekolam sepedunguan".
Dalam kondisi normal atau dalam keadaan bercanda, menyebut dua kosa kata itu mungkin tak jadi soal. Kata tersebut bisa menjadi semacam sebutan untuk melepaskan ketegangan, mungkin juga kata-kata untuk mengakrabkan perkawanan. Tapi dalam situasi sekarang, ketika suhu politik kekuasaan sedang panas-panasnya, dua kosa kata itu bisa bermakna pejoratif. Ia bermetamorfosa menjadi kata yang menohok. Sebutan melecehkan. Panggilan merendahkan. Landihan yang sungguh tak pantas ditujukan pada sesama. Siapapun dia. Apakah kawan atau pun lawan. Apakah preferensi politiknya berbeda ataupun tidak.

Langit politik kita hari ini memang bising dan tercemar dengan dua kosa kata itu. Tengoklah dunia media sosial, apakah Facebook, Twitter ataupun Instagram yang secara transparan dan vulgar menampilkan dua kosa kata itu diikuti kata-kata ataupun kalimat bawaan lainnya yang menohok, bernuansa merisak, membully dan melecehkan.
Di dunia media sosial, tidak ada lagi ruang bagi keadaban dengan kata-kata sopan penuh penghargaan. "Karena engkau Kampret, kau pantas dilecehkan, dihinakan"! "Karena kau Cebong, kau pantas dinistakan, direndahkan"! Demokrasi yang tadinya dinujum sebagai pertukaran ide dan gagasan. Silang sengketa tentang diskursus dan pemikiran berubah menjadi medan kurusetra yang menampilkan sumpah serapah dan gelegak amarah sebagai pelurunya.
Politik Indonesia kontemporer adalah pertunjukan congor dan mulut yang tak sopan. Ia menjadi wabah endemik yang menyasar tidak hanya kaum Brahmana dan Ksatria, kelas Sudra dan Paria pun sama "gilanya". Meluncurlah dari atas sana sebutan "politisi sontoloyo" ataupun "genderewo" yang ditimpali dengan "tampang Boyolali". Omongan kaum Brahmana dan Ksatria itu menyadarkan kita, bahwa yang mendiami republik ini ternyata adalah makhluk menyeramkan, semacam siluman atau manusia jadi-jadian.
Uniknya. Kita secara tak sadar berpihak dan ikut-ikutan untuk berperilaku "sontoloyo" memosisikan diri pada dua sebutan itu. Alih-alih menjernihkan situasi dengan nalar yang bersih, menjadi begawan yang meneduhkan, diam-diam kita menjadi agen bahkan corong yang seolah mewakili perasaan dan kepentingan dua kelompok yang berbeda itu.
Akademisi dan kaum intelektual ikut tersapu badai ketaksadaran ini. Apa yang menguntungkan bagi kaum Kampret secara refleks jempol mereka gatal kalau tidak ikut memviralkan pesan atau gambar tertentu. Apa yang mendatangkan manfaat bagi kaum Cebong jempol mereka otomatis dan tak sabar untuk segera menyebarluaskannya. Cuih... !!!
Berbeda itu hukum alam. Mustahil realitas dicipta dalam kondisi dan bentuknya yang seragam. Sikap dan pilihan politik tak sama adalah hal biasa. Keberbedaan tak seharusnya menjadi stigma untuk gampang merendahkan mereka yang "tak-sama" atau "yang-lain" dengan kita. Yang beda dan tak sama bukanlah "neraka".
Ketika politik menjadi seumpama najis yang harus dibersihkan dan dijauhi ada baiknya kita belajar dari "local wisdom"nya masyarakat Baduy yang menampik ikut-ikutan larut dalam pusaran kebencian antara dua gelombang yang saling berlawanan, "kalau kami ikut-ikutan memilih atau mendukung anu dan anu, pemilihannya cuma sebentar, tapi ribut-ributnya dengan tetangga atau saudara bisa lama"
Tabik!

De Also Layang Kusumah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...