Rabu, 13 Februari 2019

NUR KHALIM GURU BIJAKSANA


NUR KHALIM
Di hadapan muridnya yang menantang juga mengancam, Nur Khalim hanya diam. Mulutnya terkatup. Matanya tak menyalak memberikan perlawanan balik terhadap amarah anak didiknya. Tangannya seumpama terkunci tak berayun memberikan balasan.
Saya yang menonton adegan dalam video viral itu malah geram menahan marah. Urat tangan mendadak mengeras. Emosi dalam dada bergolak sarkas. Bayangkan, baju saya dicekal. Di hadapan anak didik yang lain saya ditantang. Jadi korban yang ditertawakan dan direndahkan. Lalu di hadapan saya ada mata beringas nan ganas. Mencibir penuh nyinyir. Mustahil saya diam. Mustahil nyali saya ciut, sekadar memberikan tamparan pada mulutnya yang bersungut tak sopan, pasti sudah saya lakukan.
Nur Khalim tidak. Saya gemes sendiri melihatnya. Sebagai pribadi, saya tak bisa mengomentari diamnya Nur Khalim, tapi sebagai personifikasi pendidik, perilaku anak asuhnya adalah pelecehan terhadap tugas mulia yang disandangnya. Sejenis penghinaan yang keterlaluan terhadap profesi mulia yang diembannya.
Dan saya tak bisa menerimanya! Bisikan vandalisme merayap dalam benak saya. "Kenapa kamu diam Nur Khalim"? "Kenapa kamu tak hajar congornya yang kurang ajar"? "Ah sialan, kamu lembek bahkan ketika profesi guru dilecehkan"!
Tapi itulah bedanya Nur Khalim dengan saya. Diamnya Nur Khalim seumpama jurus yang mematikan. Perlawanan "tanpa bayangan" yang sebenarnya meruntuhkan kesombongan musuh paling angkuh yang ada di hadapannya. Barangkali, Nur Khalim tahu persis, bahwa musuh terbesar bukanlah sosok biadab yang ada di hadapannya dengan amarah dan paras beringas. Tapi si biadab yang tergolek di dalam dirinya sendiri. Musuh abadi di sudut yang paling kelam dalam palung dirinya sendiri: nafsu amarah.
Apa jadinya jika Nur Khalim melakukan tindakan balasan. Atau sekadar bereaksi terhadap tantangan muridnya? Sudah bisa dibayangkan, urusan bisa jadi panjang. Persoalan bisa tak cepat selesai bahkan mungkin akan berujung di pengadilan. Tidak hanya waktu yang dihabiskan secara sia-sia tapi tugas dan kesempatan mengajar yang seharusnya dilakukan banyak tersita.
Bisa jadi. Sikap Nur Khalim adalah sikap yang benar. Sosok autentik yang menyadari profesi mendidik sebagai tugas suci mirip akhlak sang Nabi. Ingatlah hikayatnya, mulut nabi berdarah, beberapa giginya patah. Malaikat geram menawarkan bantuan. Nabi malah kukuh, teguh dan tidak mengeluh. Nabi malah berdoa, "Allahumahdiy qaumy fainnahum laa ya'lamuun".
Mendidik itu mengolah lempung menjadi patung. Membentuk sesuatu yang potensia menjadi aktualita. Merubah yang tak berwajah menjelma menjadi sosok yang memiliki rupa sarat pesona. Dibutuhkan kehalusan dan kelembutan bukan sikap keras. Dan Nur Khalim secara sempurna sudah melakukannya. Ia memberikan pelajaran paling berharga buat kita.

De ALso Layang Kusumah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...