NUR KHALIM
Di
hadapan muridnya yang menantang juga mengancam, Nur Khalim hanya diam. Mulutnya
terkatup. Matanya tak menyalak memberikan perlawanan balik terhadap amarah anak
didiknya. Tangannya seumpama terkunci tak berayun memberikan balasan.
Saya
yang menonton adegan dalam video viral itu malah geram menahan marah. Urat
tangan mendadak mengeras. Emosi dalam dada bergolak sarkas. Bayangkan, baju
saya dicekal. Di hadapan anak didik yang lain saya ditantang. Jadi korban
yang ditertawakan dan direndahkan. Lalu di
hadapan saya ada mata beringas nan ganas. Mencibir penuh nyinyir. Mustahil saya
diam. Mustahil nyali saya ciut, sekadar memberikan tamparan pada mulutnya yang
bersungut tak sopan, pasti sudah saya lakukan.
Nur Khalim tidak. Saya gemes sendiri melihatnya. Sebagai
pribadi, saya tak bisa mengomentari diamnya Nur Khalim, tapi sebagai
personifikasi pendidik, perilaku anak asuhnya adalah pelecehan terhadap tugas
mulia yang disandangnya. Sejenis penghinaan yang keterlaluan terhadap profesi
mulia yang diembannya.
Dan saya tak bisa menerimanya! Bisikan vandalisme
merayap dalam benak saya. "Kenapa kamu diam Nur Khalim"? "Kenapa
kamu tak hajar congornya yang kurang ajar"? "Ah sialan, kamu lembek
bahkan ketika profesi guru dilecehkan"!
Tapi itulah bedanya Nur Khalim dengan saya. Diamnya Nur
Khalim seumpama jurus yang mematikan. Perlawanan "tanpa bayangan"
yang sebenarnya meruntuhkan kesombongan musuh paling angkuh yang ada di
hadapannya. Barangkali, Nur Khalim tahu persis, bahwa musuh terbesar bukanlah
sosok biadab yang ada di hadapannya dengan amarah dan paras beringas. Tapi si
biadab yang tergolek di dalam dirinya sendiri. Musuh abadi di sudut yang paling
kelam dalam palung dirinya sendiri: nafsu amarah.
Apa jadinya jika Nur Khalim melakukan tindakan balasan.
Atau sekadar bereaksi terhadap tantangan muridnya? Sudah bisa dibayangkan,
urusan bisa jadi panjang. Persoalan bisa tak cepat selesai bahkan mungkin akan
berujung di pengadilan. Tidak hanya waktu yang dihabiskan secara sia-sia tapi
tugas dan kesempatan mengajar yang seharusnya dilakukan banyak tersita.
Bisa jadi. Sikap Nur Khalim adalah sikap yang benar.
Sosok autentik yang menyadari profesi mendidik sebagai tugas suci mirip akhlak
sang Nabi. Ingatlah hikayatnya, mulut nabi berdarah, beberapa giginya patah.
Malaikat geram menawarkan bantuan. Nabi malah kukuh, teguh dan tidak mengeluh.
Nabi malah berdoa, "Allahumahdiy qaumy fainnahum laa ya'lamuun".
Mendidik itu mengolah lempung menjadi patung. Membentuk
sesuatu yang potensia menjadi aktualita. Merubah yang tak berwajah menjelma
menjadi sosok yang memiliki rupa sarat pesona. Dibutuhkan kehalusan dan
kelembutan bukan sikap keras. Dan Nur Khalim secara sempurna sudah
melakukannya. Ia memberikan pelajaran paling berharga buat kita.
De ALso Layang Kusumah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar