Selasa, 05 Februari 2019

HITAM PUTIH


Seorang teman bercerita tentang hidupnya yang sering dituduh salah. Dianggap berbeda. Atau malah dicela karena prinsipnya yang tak lajim dengan tuntunan manusia kebanyakan. Bahkan ketika politik menjadi "Tuhan". Berbeda adalah ketidakwarasan.
Dalam pikiran si penuduh, hidup adalah tunggal. Atau sejenis garis lurus yang tak boleh menyempal. Menyimpang dari ukuran adalah sesat. Memilih jalan berbeda adalah hidup yang pasti tercela. Cermin tak boleh seragam. Ukuran harus sama. Sejarah adalah garis linear yang menahbis gerak manusia dalam titian lurus yang jelas dan pasti ukurannya.
Martin Buber memetakan sikap menentukan ukuran diri untuk menakar orang lain itu dengan istilah "stranger". Orang lain tidak dianggap setara tapi dituduh sebagai sosok yang "asing". Supaya hidup tertib dan disiplin tak boleh ada "orang asing". Kehadirannya mesti diringkus oleh kita yang sama. Melalui ukuran yang dianggap benar sekalipun memaksakan.

Faktanya, realitas itu beragam. Di sebuah taman kota, mustahil ada bunga dengan jenis dan warna yang sama. Dengan putik yang sebangun tiap sisinya. Dengan harum yang persis serupa. Hidup adalah album kenyataan yang menampilkan keberbedaan. Ketaksamaan.
Lalu Buber menyebut tentang sisi lain memperlakukan sesama dengan istilah "neighbor". Yang tak sama dan berbeda dengan kita adalah "tetangga". Prinsip "bertetangga" adalah menyulam keberbedaan dengan penghormatan dan penghargaan. Prinsip "bertetangga" yang otentik adalah menjalin dialog bukan monolog. Cermin bisa tak sama. Tapi kita patut mengjormatinya.

Itulah barangkali konteks pesan agama yang menegaskan, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka dia harus memuliakan tetangganya"


By : De Also Layang Kusumah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...