Seorang
teman bercerita tentang hidupnya yang sering dituduh salah. Dianggap berbeda.
Atau malah dicela karena prinsipnya yang tak lajim dengan tuntunan manusia
kebanyakan. Bahkan ketika politik menjadi "Tuhan". Berbeda adalah
ketidakwarasan.
Dalam pikiran si penuduh,
hidup adalah tunggal. Atau sejenis garis lurus yang tak boleh menyempal.
Menyimpang dari ukuran adalah sesat. Memilih jalan berbeda adalah hidup yang
pasti tercela. Cermin tak boleh seragam. Ukuran harus sama. Sejarah adalah garis linear yang menahbis
gerak manusia dalam titian lurus yang jelas dan pasti ukurannya.
Martin
Buber memetakan sikap menentukan ukuran diri untuk menakar orang lain itu
dengan istilah "stranger". Orang lain tidak dianggap setara tapi
dituduh sebagai sosok yang "asing". Supaya hidup tertib dan disiplin
tak boleh ada "orang asing". Kehadirannya mesti diringkus oleh kita
yang sama. Melalui ukuran yang dianggap benar sekalipun memaksakan.
Faktanya,
realitas itu beragam. Di sebuah taman kota, mustahil ada bunga dengan jenis dan
warna yang sama. Dengan putik yang sebangun tiap sisinya. Dengan harum yang
persis serupa. Hidup adalah album kenyataan yang menampilkan keberbedaan.
Ketaksamaan.
Lalu
Buber menyebut tentang sisi lain memperlakukan sesama dengan istilah "neighbor".
Yang tak sama dan berbeda dengan kita adalah "tetangga". Prinsip
"bertetangga" adalah menyulam keberbedaan dengan penghormatan dan
penghargaan. Prinsip "bertetangga" yang otentik adalah menjalin
dialog bukan monolog. Cermin bisa tak sama. Tapi kita patut mengjormatinya.
Itulah
barangkali konteks pesan agama yang menegaskan, "Barang siapa beriman
kepada Allah dan hari akhir, maka dia harus memuliakan tetangganya"
By : De Also Layang Kusumah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar