"BEBERES"
ALA KONDO
Periksa lemari pakaian. Cek
juga rak-rak buku. Lihatlah deretan sepatu. Tengoklah barang-barang yang
tersimpan di gudang. Pegang dan amati. Rasakan, apakah ia memercikan
kebahagiaan ketika kita pegang? Jika tidak, mungkin sudah waktunya kita harus
singkirkan dan sumbangkan. Siapa tahu pakaian, buku, sepatu dan barang yang
tersimpan di gudang tadi bisa membahagiakan orang lain.
Itulah KonMari. Sebuah metode
"beberes" (tidying up) yang diperkenalkan Marie Kondo. Seorang perempuan asal Jepang kelahiran 1984. Kondo
menulis 4 buku tentang "beberes" dan mengatur barang. Dahsyat,
bukunya terjual jutaan eksemplar. The Life-Changing Magic of Tidying Up yang
terbit 2011 menjadi buku best seller di Jepang dan Eropa. Bahkan di Amerika
Serikat (2014) buku ini laris manis tanjung kimpul di pasaran. Tak heran jika
buku ini masuk daftar buku terlaris menurut The New York Times.
KonMari
bukanlah tindakan "beberes" an sich. Menurut Kondo beberes dan
mengorganisir barang yang tak terpakai apalagi tak memercikan kebahagiaan adalah
salah satu cara membenahi energi kehidupan kita. Dalam "beberes",
kita jangan fokus menyingkirkan barang-barang semata, namun lebih ke menyimpan
barang-barang yang saat disentuh memercikkan kebahagiaan (tokimeku) di hati.
Kondo percaya, dengan menyimpan hanya barang-barang yang membahagiakan, hidup
kita pun akan lebih bahagia. Kita tak terbebani dengan semua obyek yang beraura
negatif.
Infak
atau shodaqoh harusnya melampaui KonMari ala Kondo. Sebab pada keduanya ada
kesadaran ruhani dan tuturan suci yang menegaskan bahwa kekayaan dan harta
"supaya tidak hanya berputar pada orang tertentu saja". Shodaqoh dan
infak pasti mencerahkan karena kita tidak berusaha untuk terjerat atau tidak
tergantung pada barang yang kita punya. Tidak membiarkan barang yang kita punya
menentukan siapa kita. Dan yang paling penting tentu saja adalah bahwa
"sebaik-baiknya manusia adalah dia yang bermanfaat bagi sesamanya"
De Also Layang Kusumah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar