Selasa, 05 Februari 2019

BEBERES" ALA KONDO


"BEBERES" ALA KONDO
Periksa lemari pakaian. Cek juga rak-rak buku. Lihatlah deretan sepatu. Tengoklah barang-barang yang tersimpan di gudang. Pegang dan amati. Rasakan, apakah ia memercikan kebahagiaan ketika kita pegang? Jika tidak, mungkin sudah waktunya kita harus singkirkan dan sumbangkan. Siapa tahu pakaian, buku, sepatu dan barang yang tersimpan di gudang tadi bisa membahagiakan orang lain.
Itulah KonMari. Sebuah metode "beberes" (tidying up) yang diperkenalkan Marie Kondo. Seorang perempuan asal Jepang kelahiran 1984. Kondo menulis 4 buku tentang "beberes" dan mengatur barang. Dahsyat, bukunya terjual jutaan eksemplar. The Life-Changing Magic of Tidying Up yang terbit 2011 menjadi buku best seller di Jepang dan Eropa. Bahkan di Amerika Serikat (2014) buku ini laris manis tanjung kimpul di pasaran. Tak heran jika buku ini masuk daftar buku terlaris menurut The New York Times.
KonMari bukanlah tindakan "beberes" an sich. Menurut Kondo beberes dan mengorganisir barang yang tak terpakai apalagi tak memercikan kebahagiaan adalah salah satu cara membenahi energi kehidupan kita. Dalam "beberes", kita jangan fokus menyingkirkan barang-barang semata, namun lebih ke menyimpan barang-barang yang saat disentuh memercikkan kebahagiaan (tokimeku) di hati. Kondo percaya, dengan menyimpan hanya barang-barang yang membahagiakan, hidup kita pun akan lebih bahagia. Kita tak terbebani dengan semua obyek yang beraura negatif.
KonMari sebenarnya tak jauh berbeda dengan konsep infaq atau shodaqoh. Itulah memberi. Menyumbangkan barang. Mendermakan apa yang kita punya. Sayangnya, sumbangan, infaq dan shodaqoh yang kita berikan sering hanya pada barang yang sudah tak terpakai atau sekadar "layak pakai". Shodaqoh harusnya melampaui itu. Setiap barang yang tidak lagi memercikan kebahagian buat kita sudah saat nya ia kita sumbangkan.
Infak atau shodaqoh harusnya melampaui KonMari ala Kondo. Sebab pada keduanya ada kesadaran ruhani dan tuturan suci yang menegaskan bahwa kekayaan dan harta "supaya tidak hanya berputar pada orang tertentu saja". Shodaqoh dan infak pasti mencerahkan karena kita tidak berusaha untuk terjerat atau tidak tergantung pada barang yang kita punya. Tidak membiarkan barang yang kita punya menentukan siapa kita. Dan yang paling penting tentu saja adalah bahwa "sebaik-baiknya manusia adalah dia yang bermanfaat bagi sesamanya"

De Also Layang Kusumah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...