Minggu, 26 Agustus 2018

SIMBIOSIS MUTUALISME


Sudah selayaknya jika aparat keamanan (Polri) dan Asy-Syahadatain di bawah pimpinan Sayid Gamal Yahya bersatu dan bersinergi. Bersatu dalam menjaga dan memelihara keutuhan sebagai umat dan rakyat. Bersinergi dan saling mendukung dalam memprakarsai pola hidup yang sehat dan hemat energi.
Bersepeda bersama adalah pintu ke arah persatuan dan sinergisitas itu. Masing-masing pihak dengan peran dan fungsinya yang berbeda menjadi contoh terbaik di hadapan rakyat secara keseluruhan bahwa persatuan adalah benteng pertahanan yang kokoh yang bisa menangkis dan mematahkan bahaya dan serangan yang mengancam.

"MEM-BILAL-KAN" TOA


Toa hanyalah alat. Pada dirinya ia bebas nilai. Tergantung siapa yang memakainya. Jika suaranya cempreng dan bikin telinga menjerit maka Toa bisa menjadi alat yang terlaknat. Sebaliknya, jika suaranya merdu dan syahdu merayu maka Toa berubah menjadi ajakan yang melambungkan kesadaran untuk patuh pada Tuhan.
Bilal itu "Toa" yang menggugah kesadaran. Panggilan yang mengajak manusia untuk ingat dan bersimpuh di hadapan Tuhan. Bilal itu "Toa" yang indah, tak bising di telinga, menggerakkan malas menjadi siaga penuh ketaatan. Nabi tahu, Bilal adalah "Toa" sesuai isyarat al-Qur'an. "Serulah manusia ke jalan Tuhan dengan hikmah dan sebaik-sebaiknya perilaku. . . ".

Jumat, 24 Agustus 2018

HIRU JEUNG KAHIRUPAN

éling- éling mangka éling
Rumingkang di bumi alam
Darma wawayangan baé Raga taya pangawasa
Seni sunda pikeun suluk gambaran siloka diri
Hirup ulah rék ka jongjonan mawa diri sing taliti
Satincak maké pikiran, pikiran ieu pépéling

Nyucruk galur ti Karuhun nutur lacak para wali nu nyambung ka balarea. Kalimah di luhur salah sahiji pepeling pikeun urang nu ku melendang di alam marcapada, ngeunaan hirup jeung kahirupan nu geus dilakonan, jeung nu eukeur di lakonan sarta nu bakal kalakonan, hirup, hurip jeung hirupna urang nu kumelendang, kabeh oge balik deui ka urang mun ceuk salaha sahiji paribasa mah“Tamiang Meulit Kabitis” .

Kamis, 23 Agustus 2018

SELAMAT JALAN KAWANKU (SAMUEL NAINGGOLAN)




Bayangan yang membuatku tersentak dan hatiku bergetar tak kala mengingat, apa yang aku dengar tentang kepergianmu dari salah satu teman kita. Aku sempat tak percaya namun dia meyakini dengan sepenuhnya bahwa kau telah menghadap kepadanya, maaf aku kawan…
Kupikir inilah saat aku hilang arah menuju hatimu. Selalu ada yang ingin kusampaikan dalam kesah yang menghunjam di ujung lidah. Dan mengertikah hanya kamu yang mendengar, aku selalu tergetar sebelum sempat kuteguhkan ucap yang tegar; tentang cinta yang padam oleh kematian, tentang aku yang muram karena harapan yang terbungkam. Mengertikah kamu kawanku, jalan menemuimu entah kenapa senantiasa terjal dan berliku. Dan aku selalu kalah sebelum kutuntaskan semua kisah tentangmu kawanku.

Selasa, 21 Agustus 2018

POLITIK PILIHAN


Sejarah telah memilih Anda: 1 sampai 13. Tapi "memilih" bukanlah tindakan ketanpasengajaan. Sebuah laku acak tanpa “kematangan” pertimbangan. Memilih adalah membuat garis antara yang pantas dan tidak. Memilih adalah membuat kategori antara yang patut dan tidak. Karena itu memilih bukanlah perkara bebas nilai. Ia bukan sejenis egologi yang sepi dari pengaruh. Persis, ia juga bukan suara batin yang murni dari bisikan dan hasutan.  Apapun pertimbangannya, memilih adalah isyarat bahwa manusia punya kehendak, memiliki kebebasan. 
Kita telah memilih 1 sampai 13. Dengan kesadaran, keseriusan, kemunafikan mungkin juga sekedar permainan. Tak jadi soal, sebab sejarah adalah bentangan peristiwa ketaksempurnaan, sejenis medan Kurusetra. Sebuah pertarungan yang tak usai antara yang tak nampak juga nyata. Antara kesalehan juga kekurangajaran. Antara yang rasional dan irrasional. Tak bisa sempurna kita menulis sejarah, seperti halnya kita bisa kecewa, ketika jago yang kita elus tak beroleh nama juga angka. Tapi dengan itu, kita telah membuat jejak yang akan dibaca oleh mereka yang datang kelak setelah kita.

Minggu, 19 Agustus 2018

Dholim


Secara etimologi kata "dholim" berarti "gelap" atau ketiadaan cahaya. Gelap atau ketiadaan cahaya harus dimengerti secara metaforis. Bayangkan orang yang berjalan dalam gelap karena ketiadaan cahaya atau lentera. Pasti tersesat, sebab tak jelas arah yang dituju. Tak bisa leluasa melangkah karena tak ada kompas yang memandu. Dalam gelap, perilaku bisa serampangan. Dalam gelap tindakan bisa menjadi tak terduga. Dalam gelap, pikiran bisa menjadi muasal munculnya kejahatan.
Gelap dan ketiadaan cahaya inilah yang bisa menyebabkan siapapun untuk melakukan perbuatan yang dilarang norma. Manusia yang dikepung gelap nampak dalam perbuatan yang menyimpang dari tuntunan. Manusia yang disergap gelap memanifestasi dalam perilaku tak patuh terhadap nasihat dan pitutur Guru. Itulah perbuatan yang melampaui batas.
ومن يتعد حدود الله فأولئك هم الظالمون
"Orang-orang yang melanggar batasan-batasan Allah adalah orang yang dholim" (al-Baqaroh:223).

Cinta asmara dan nafsu

Cinta asmara adalah cinta nafsu yang selalu bersyarat dan berpamrih. Cinta seperti ini muncul setelah adanya suatu daya tarik yang menyenangkan, baik itu melalui ketampanan atau kecantikan wajah, kelembutan, keramahan, bahkan dapat melalui kedudukan, kemuliaan, kemewahan, atau kepintaran.
Ada sesuatu yang ingin diraih dan dinikmati. Kalau pada suatu waktu terjadi sebaliknya, sesuatu yang tidak menyenangkan lagi, bahkan menyusahkan atau mengecewakan, maka cinta seperti ini mungkin saja akan berubah menjadi kebencian!
Kita dengan mudah saja bersumpah cinta, sehidup semati, senasib sependeritaan, dan semua itu dapat terjadi selama si dia yang dicinta memenuhi syarat. Sekali saja syarat itu dilanggar, maka cinta berubah menjadi benci, dan kebahagiaan berubah menjadi kesengsaraan.

CINTA


Cinta adalah perasaan yang dimiliki oleh setiap mahluk di dunia, setiap mahluk yang hidup wajar sesuai dengan kodrat dan kekuasaan alam. Cinta bukan merupakan sesuatu yang kotor dan bukan merupakan hal yang tak patut dibicarakan. Sebaliknya daripada itu! Cinta antara pria dan wanita adalah hal yang amat wajar, merupakan anugrah dari Tuhan, merupakan dorongan alamiah yang tak dapat dibantah.
Bahkan tak dapat dihindarkan dan tak dapat dibuang karena cinta ini pula yang membuat manusia masih berlangsung ada di dunia ini, berkembang biak dan mencipta generasi demi generasi. Karenanya, cinta adalah bersih dan murni, tidak kotor dan bukannya tidak patut dibicarakan, bahkan seharusnya dibicarakan agar tidak disalah gunakan. 

KEMUNAPIKAN


Semenjak kecil, kita diajar oleh orang tua, oleh guru, oleh masyarakat di sekeliling kita, untuk bersopan-sopan untuk bersusila. Kita diperkenalkan kepada hal-hal yang dianggap tidak sopan den tidak bersusila, hal-hal yang dianggap sopan dan bersusila. Ditekankan kepada kita sampai mendalam sekali bahwa yang tidak sopan itu tidak baik dan yang sopan itu baik, dan sebagainya.
Ditekankan pula bahwa hidup haruslah baik dan sebagainya. Tekanan-tekanan inilah yang mendorong kita untuk menjadi baik! Untuk dianggap baik! Dan keinginan baik inilah yang melahirkan kepalsuan, kemunafikan, sehingga kita pandai sekali berpura-pura, lain mulut lain di hati.

Rabu, 15 Agustus 2018

TENTANGKU BINTANGMU 5


Aku membayangkanmu dengan kepercayaan, Seperti pagi yang menemui kita tanpa henti. Cahayanya menguning menumbuhkan bumi dan menyuburkan kehidupan. Sungguh, ia memberi arti dan warna kepada manusia. Ia menjadi gejala yang entah bagaimana tibatiba mengada dan menyampaikan pesan yang pantas untuk direnungkan juga (mungkin) dinajiskan.
Sampai di sini kita kemudian percaya, hidup adalah semesta yang tiap bagiannya adalah energi juga nyawa yang mustahil untuk dinista percuma. Senyatanya, Tuhan tidak sedang bercanda sambil lalu dan asyik bermain dadu.

Kamis, 09 Agustus 2018

TENTANGKU BINTANGMU 4


Kau tak perlu menggerutu dengan caraku menyayangimu. Sebab matahari yang pernah kukisahkan datang menemui pagi selalu sama dalam warna. Selalu sempurna menjumpai manusia. Ia berkunjung menjenguk kita menumbuhkan kehidupan dan memoles alam dengan sejuta pesona. Seperti matahari pula, tak ingin jemu aku menggodamu. Tak ingin diam untuk sekedar membuatmu geram. Itulah caraku memuliakan kehadiranmu. Itulah dayaku mencintaimu, setulus hatiku. Setulus pengakuanku.
Kau tak perlu menggerutu dengan caraku menyayangimu, seperti tanda yang pernah kaujumpai di pangkal malam. Warnanya kelabu dan mengaburkan jarak pandangmu. Mungkin wanginya menyesak di lubang hidung. Menekan ulu hati dan pasti menggoyahkan kedua kakimu. Maafkan aku. Aku menyangka ini soal biasa, sekalipun akhirnya membuatmu murka. Ini perkara sederhana tak perlu dinalar terlalu pintar, sekalipun membuat kedua matamu nanar. Sebab aku ingin selalu mengejutkanmu. Sebab aku ingin selalu menyaksikan kehadiranmu terasa mengusik dan berjejak di kesadaranku. 

Rabu, 08 Agustus 2018

MISTIK (SPRITUAL)


 
YANG-TERSEMBUNYI
"Ayu batur beresana syareate, boh menawa bakal nemu hakekate"
Luput dari amatan sains modern yang menyajikan fakta terindra sebagai hal yang harus dipercaya, realitas kehidupan manusia juga menyimpan entitas lain yang menuntut untuk diketahui. Realitas itu mungkin tersembunyi, tak bisa nampak menjelma sebagai fakta yang terindra, tapi senyatanya ia sering menjadi wilayah yang menyedot perhatian dan rasa ingin tahu manusia.
Yang tersembunyi adalah "misterium tremendum" tapi pada saat yang sama ia juga adalah "misterium fascinosum". Manusia bisa ngeri atau terperangkap dalam kubangan takut tapi ia kerap menggoda sebagai pesona yang memunculkan hasrat untuk diketahui. Yang tremendum itu seumpama gelap, tanpa wujud dan sering menjadi misteri. Tapi karena gelap dan misteri itu manusia diam-diam suka terbujuk karena magnet pesona yang ditimbulkannya.

Kamis, 02 Agustus 2018

Homo Deus

Ilmu pengetahuan memapah kita. Menjadi lentera yang menerangi ketidaktahuan manusia. Misteri yang membuat ngeri disingkap. Aneh dan ganjil yang berkabut diterobos menjadi biasa, tidak lagi membuat manusia menduga dan berburuk sangka.
Doxa ditinggalkan, fajar episteme menyingsing dengan banyak harapan dan janji yang memuaskan. Lambat tapi pasti, ilmu pengetahuan merubah cara pandang manusia. Bersama ilmu pengetahuan manusia mendaku diri sebagai telah sampai pada tahap mundigkeit.
Capaian mundigkeit itu menjelma dalam kalimat yang dianggap menyihir dan sekaligus memutus keterhubungan manusia dengan asal muasal. Akar segala yang diyakini kaum beriman. Gott ist tot. God is dead. Seumpama tanpa dosa lalu manusia menahbis sebagai pusat alam semesta. I think therefore I'm.

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...