Kau tak perlu menggerutu dengan caraku
menyayangimu. Sebab
matahari yang pernah kukisahkan datang menemui pagi selalu sama dalam warna.
Selalu sempurna menjumpai manusia. Ia berkunjung menjenguk kita menumbuhkan
kehidupan dan memoles alam dengan sejuta pesona. Seperti matahari pula, tak
ingin jemu aku menggodamu. Tak ingin diam untuk sekedar membuatmu geram. Itulah
caraku memuliakan kehadiranmu. Itulah dayaku mencintaimu, setulus hatiku.
Setulus pengakuanku.
Kau tak perlu menggerutu dengan caraku
menyayangimu, seperti tanda yang pernah kaujumpai di pangkal malam. Warnanya kelabu
dan mengaburkan jarak pandangmu. Mungkin wanginya menyesak di lubang hidung.
Menekan ulu hati dan pasti menggoyahkan kedua kakimu. Maafkan aku. Aku
menyangka ini soal biasa, sekalipun akhirnya membuatmu murka. Ini perkara
sederhana tak perlu dinalar terlalu pintar, sekalipun membuat kedua matamu
nanar. Sebab aku ingin selalu mengejutkanmu. Sebab aku ingin selalu menyaksikan
kehadiranmu terasa mengusik dan berjejak di kesadaranku.
Kau tak perlu menggerutu dengan caraku
menyayangimu, Seperti suatu masa ketika keluhanmu menyentak kesadaranku. Kau bertutur
tentang kejujuran yang disembunyikan. Kau menuntut pengakuan yang tak juga kau
temukan. Sorot matamu mengabarkan pesan geram. Di gemuruh katakatamu tegas
isyarat tentang tikaman yang membuatmu sempoyongan. Di stasi itu, aku sangat
mengerti bagaimana merumuskan rasa yang seolah tak mudah lagi aku cerna.
Setulus pengakuanku, tak ingin aku menjadi duri yang menorehkan luka di telapak
kakimu. Seikhlas rasaku tentangmu tak sudi aku menjadi onak di setiap
langkahmu. Dan seperti yang kau baca di statusku “aku hendak memberimu jalan
supaya kesadaranmu terselamatkan. Agar nalarmu tak buta membaca peristiwa”.
Kau tak perlu menggerutu dengan caraku
menyayangimu, ketika malam genap bersaksi menumpahi letih badanku. Ketika mata dipaksa
untuk selalu awas terjaga mengindera. Ingatanku tentangmu selalu terlihat
menggeliat. Ia berdenyut mengerubungi setiap sel sarafku. Ia menggenapi rindu
yang lipatannya selalu terpilin rapih. Ia bergemuruh memaksaku untuk segera
menjumpai mimpi di tidurmu. Sayup kudengar lagu dan kuamini setiap katanya,
“Love me when I'm wrong. Hold me when I'm scared” (3 Doors Down)
De Also Layang Kusumah
Baca Juga Tentangku Bintangmu 3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar