Minggu, 26 Agustus 2018

"MEM-BILAL-KAN" TOA


Toa hanyalah alat. Pada dirinya ia bebas nilai. Tergantung siapa yang memakainya. Jika suaranya cempreng dan bikin telinga menjerit maka Toa bisa menjadi alat yang terlaknat. Sebaliknya, jika suaranya merdu dan syahdu merayu maka Toa berubah menjadi ajakan yang melambungkan kesadaran untuk patuh pada Tuhan.
Bilal itu "Toa" yang menggugah kesadaran. Panggilan yang mengajak manusia untuk ingat dan bersimpuh di hadapan Tuhan. Bilal itu "Toa" yang indah, tak bising di telinga, menggerakkan malas menjadi siaga penuh ketaatan. Nabi tahu, Bilal adalah "Toa" sesuai isyarat al-Qur'an. "Serulah manusia ke jalan Tuhan dengan hikmah dan sebaik-sebaiknya perilaku. . . ".

Bilal juga adalah "Toa" rahmatan lil 'alamin. Sebagai rahmat untuk seluruh alam mustahil suaranya mengusik tetangga terdekat, membangkitkan antipati dan rasa benci. Adzan, sekalipun disebut sebagai panggilan suci tapi jika ia mengakibatkan luka di hati tetangga maka ia tidak sejurus dengan tuturan hadits yang menegaskan: "barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka ia harus memuliakan tetangganya".
Toa itu seumpama lisan. Jika tak hati-hati dan gegabah menggunakannya ia bisa mendatangkan bahaya dan petaka. Sebuah syair menegaskan ini: "jagalah lisanmu dan apa-apa yang keluar darinya. Melaluinya seseorang bisa beroleh hina atau mulia". Atau "selamatnya manusia tergantung dari usaha untuk menjaga lisannya".
Kita ingat cerita Rumi, dikisahkan seorang muazin yang bersuara jelek. Teman juga sahabat menasehatinya untuk tak lagi azan dan menyerahkan tugasnya pada yang lain, yang lebih merdu suaranya sehingga utuh menjadi ajakan sekaligus memberi kedamaian bagi pendengarnya. Memotivasi siapapun untuk terpanggil ke masjid menunaikan sholat. Tapi sang muadzin ngotot tak mau menyerahkan tugasnya pada siapapun.
Anehnya, suat saat seorang non muslim mencarinya untuk memberikan hadiah karena adzannya. “Katakan padaku, siapa dan di mana muazin itu? Suaranya membahagiakan hatiku,” katanya. "Kebahagiaan seperti apa yang kau dapatkan dari suara jelek itu?” tanya salah seorang muslim yang ditemuinya.
“Suara azannya menembus gereja kami", kata si non muslim. "Aku memiliki seorang anak cantik yang berperangai baik. Ia cinta dan ingin menikahi seorang muslim, serta tertarik mempelajari Islam. Aku gelisah karenanya. Aku kuatir dia menjadi muslim. Hingga suatu saat, ia mendengar suara itu, dan merasa terganggu sekali dengannya. Ketika ia tahu itu suara azan, ia berbalik benci pada Islam. Dan itu menjadi kegembiraan tak terkira bagiku. Karenanya, aku ingin memberinya hadiah sebagai ucapan terima kasih.”
Kisah Rumi adalah otokritik untuk kita yang sering menjadikan Toa sebagai penyambung suara yang kadang mengganggu dan mengusik ketenangan. Agama adalah akal maka pasti tidak berakal jika hasil dari beragama itu membuat orang lain mangkel, benci bahkan antipati. Allahu a'lam.


De-ALso Layang Kusumah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...