Toa
hanyalah alat. Pada dirinya ia bebas nilai. Tergantung siapa yang memakainya.
Jika suaranya cempreng dan bikin telinga menjerit maka Toa bisa menjadi alat
yang terlaknat. Sebaliknya, jika suaranya merdu dan syahdu merayu maka Toa berubah
menjadi ajakan yang melambungkan kesadaran untuk patuh pada Tuhan.
Bilal
itu "Toa" yang menggugah kesadaran. Panggilan yang mengajak manusia
untuk ingat dan bersimpuh di hadapan Tuhan. Bilal itu "Toa" yang
indah, tak bising di telinga, menggerakkan malas
menjadi siaga penuh ketaatan. Nabi tahu, Bilal adalah "Toa" sesuai
isyarat al-Qur'an. "Serulah manusia ke jalan Tuhan dengan hikmah dan
sebaik-sebaiknya perilaku. . . ".
Bilal juga adalah "Toa" rahmatan lil 'alamin.
Sebagai rahmat untuk seluruh alam mustahil suaranya mengusik tetangga terdekat,
membangkitkan antipati dan rasa benci. Adzan, sekalipun disebut sebagai
panggilan suci tapi jika ia mengakibatkan luka di hati tetangga maka ia tidak
sejurus dengan tuturan hadits yang menegaskan: "barang siapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir maka ia harus memuliakan tetangganya".
Toa itu seumpama lisan. Jika tak hati-hati dan gegabah
menggunakannya ia bisa mendatangkan bahaya dan petaka. Sebuah syair menegaskan
ini: "jagalah lisanmu dan apa-apa yang keluar darinya. Melaluinya
seseorang bisa beroleh hina atau mulia". Atau "selamatnya manusia
tergantung dari usaha untuk menjaga lisannya".
Kita ingat cerita Rumi, dikisahkan seorang muazin yang
bersuara jelek. Teman juga sahabat menasehatinya untuk tak lagi azan dan
menyerahkan tugasnya pada yang lain, yang lebih merdu suaranya sehingga utuh
menjadi ajakan sekaligus memberi kedamaian bagi pendengarnya. Memotivasi
siapapun untuk terpanggil ke masjid menunaikan sholat. Tapi sang muadzin ngotot
tak mau menyerahkan tugasnya pada siapapun.
Anehnya, suat saat seorang non muslim mencarinya untuk
memberikan hadiah karena adzannya. “Katakan padaku, siapa dan di mana muazin
itu? Suaranya membahagiakan hatiku,” katanya. "Kebahagiaan seperti apa
yang kau dapatkan dari suara jelek itu?” tanya salah seorang muslim yang
ditemuinya.
“Suara azannya menembus gereja kami", kata si non
muslim. "Aku memiliki seorang anak cantik yang berperangai baik. Ia cinta
dan ingin menikahi seorang muslim, serta tertarik mempelajari Islam. Aku gelisah
karenanya. Aku kuatir dia menjadi muslim. Hingga suatu saat, ia mendengar suara
itu, dan merasa terganggu sekali dengannya. Ketika ia tahu itu suara azan, ia
berbalik benci pada Islam. Dan itu menjadi kegembiraan tak terkira bagiku.
Karenanya, aku ingin memberinya hadiah sebagai ucapan terima kasih.”
Kisah Rumi adalah otokritik untuk kita yang
sering menjadikan Toa sebagai penyambung suara yang kadang mengganggu dan
mengusik ketenangan. Agama adalah akal maka pasti tidak berakal jika hasil dari
beragama itu membuat orang lain mangkel, benci bahkan antipati. Allahu a'lam.
De-ALso Layang Kusumah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar