Rabu, 15 Agustus 2018

TENTANGKU BINTANGMU 5


Aku membayangkanmu dengan kepercayaan, Seperti pagi yang menemui kita tanpa henti. Cahayanya menguning menumbuhkan bumi dan menyuburkan kehidupan. Sungguh, ia memberi arti dan warna kepada manusia. Ia menjadi gejala yang entah bagaimana tibatiba mengada dan menyampaikan pesan yang pantas untuk direnungkan juga (mungkin) dinajiskan.
Sampai di sini kita kemudian percaya, hidup adalah semesta yang tiap bagiannya adalah energi juga nyawa yang mustahil untuk dinista percuma. Senyatanya, Tuhan tidak sedang bercanda sambil lalu dan asyik bermain dadu.
Aku membayangkanmu dengan kepercayaan, Seperti suatu saat aku melihatmu di jendela maya mengulum senyum. Entah bagaimana aku mengenalmu. Entah darimana aku berhasrat mengakrabimu. Pesan kehidupan memberiku dalih dan kepercayaan bahwa hidup bukanlah rumus kebetulan.
Tiap serat yang merambat dalam nadi hidupku dan tentu hidupmu, adalah nubuwah dan gemuruh titah pemilik segala alpa-omega. Bentangan kehidupan seolah jejaring yang tiap bagiannya terhubung oleh ketentuan dan rumus yang dibuat Tuhan dan sunnah kehidupan. Dan itulah kita yang bertemu dalam keadaan dan stasi yang mungkin seolah menyempal untuk dimengerti. Tak jadi soal.
Aku membayangkanmu dengan kepercayaan, Seperti suatu petang saat aku mendapatimu bertutur tentang siapa kita. Siapa manusia. Engkau pasti membaca aku bermain nalar dan mengolok takdir yang kerap hadir menggoda kita.
Kawan, manusia dengan segala hal yang melekat padanya bukanlah monumen “yang purna selesai sekali dirumuskan”. Manusia “menjadi”, manusia “mengisi”, itulah kita.
Manusia adalah titah, tak berarti ia adalah kawanan burung yang harus buta aksara dan turut dengan gelegar amar dan kemudian mati kehabisan energi. Manusia adalah tindakan, kehendak juga nafsu dan hanya dengan itulah ia menjadi nyata berada.

Aku membayangkanmu dengan kepercayaan, Seperti kecewa yang kau keluhkan dan seolah menenggelamkanmu dalam resah yang tak sudah. Kecewa, bahagia, tertawa, berduka, apakah punya arti? Mungkin tak bisa pungkas aku membahasnya. Dan tak sampai renik aku menilik muara esensinya.
Keyakinanku mengatakan, manusia yang genap dan purna dalam kemanusiaannya adalah sosok yang rentan dengan bahaya dan berisi dengan cahaya mentari pagi.
Aku membayangkanmu dengan kepercayaan, dan dengan cara inilah aku hendak menyapamu. Satu lipatan lagi yang pantas aku syukuri

De Also Layang Kusumah

Baca Juga TENTANGKU BINTANGMU 4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...