Aku membayangkanmu dengan kepercayaan, Seperti pagi yang menemui
kita tanpa henti. Cahayanya menguning menumbuhkan bumi dan menyuburkan
kehidupan. Sungguh, ia memberi arti dan warna kepada manusia. Ia menjadi gejala
yang entah bagaimana tibatiba mengada dan menyampaikan pesan yang pantas untuk direnungkan
juga (mungkin) dinajiskan.
Sampai di sini kita kemudian percaya, hidup
adalah semesta yang tiap bagiannya adalah energi juga nyawa yang mustahil untuk
dinista percuma. Senyatanya, Tuhan tidak sedang bercanda sambil lalu dan asyik
bermain dadu.
Aku
membayangkanmu dengan kepercayaan, Seperti suatu saat aku melihatmu
di jendela maya mengulum senyum. Entah bagaimana aku mengenalmu. Entah darimana
aku berhasrat mengakrabimu. Pesan kehidupan memberiku dalih dan kepercayaan
bahwa hidup bukanlah rumus kebetulan.
Tiap serat
yang merambat dalam nadi hidupku dan tentu hidupmu, adalah nubuwah dan gemuruh
titah pemilik segala alpa-omega. Bentangan kehidupan seolah jejaring yang tiap
bagiannya terhubung oleh ketentuan dan rumus yang dibuat Tuhan dan sunnah kehidupan.
Dan itulah kita yang bertemu dalam keadaan dan stasi yang mungkin seolah
menyempal untuk dimengerti. Tak jadi soal.
Aku
membayangkanmu dengan kepercayaan, Seperti suatu petang saat aku
mendapatimu bertutur tentang siapa kita. Siapa manusia. Engkau pasti membaca
aku bermain nalar dan mengolok takdir yang kerap hadir menggoda kita.
Kawan,
manusia dengan segala hal yang melekat padanya bukanlah monumen “yang purna
selesai sekali dirumuskan”. Manusia “menjadi”, manusia “mengisi”, itulah kita.
Manusia adalah
titah, tak berarti ia adalah kawanan burung yang harus buta aksara dan turut
dengan gelegar amar dan kemudian mati kehabisan energi. Manusia adalah
tindakan, kehendak juga nafsu dan hanya dengan itulah ia menjadi nyata berada.
Aku membayangkanmu dengan kepercayaan, Seperti kecewa yang kau keluhkan dan seolah menenggelamkanmu dalam resah yang tak sudah. Kecewa, bahagia, tertawa, berduka, apakah punya arti? Mungkin tak bisa pungkas aku membahasnya. Dan tak sampai renik aku menilik muara esensinya.
Aku membayangkanmu dengan kepercayaan, Seperti kecewa yang kau keluhkan dan seolah menenggelamkanmu dalam resah yang tak sudah. Kecewa, bahagia, tertawa, berduka, apakah punya arti? Mungkin tak bisa pungkas aku membahasnya. Dan tak sampai renik aku menilik muara esensinya.
Keyakinanku
mengatakan, manusia yang genap dan purna dalam kemanusiaannya adalah sosok yang
rentan dengan bahaya dan berisi dengan cahaya mentari pagi.
Aku
membayangkanmu dengan kepercayaan, dan dengan cara inilah aku
hendak menyapamu. Satu lipatan lagi yang pantas aku syukuri
De Also Layang Kusumah
Baca Juga TENTANGKU BINTANGMU 4
De Also Layang Kusumah
Baca Juga TENTANGKU BINTANGMU 4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar