Rabu, 08 Agustus 2018

MISTIK (SPRITUAL)


 
YANG-TERSEMBUNYI
"Ayu batur beresana syareate, boh menawa bakal nemu hakekate"
Luput dari amatan sains modern yang menyajikan fakta terindra sebagai hal yang harus dipercaya, realitas kehidupan manusia juga menyimpan entitas lain yang menuntut untuk diketahui. Realitas itu mungkin tersembunyi, tak bisa nampak menjelma sebagai fakta yang terindra, tapi senyatanya ia sering menjadi wilayah yang menyedot perhatian dan rasa ingin tahu manusia.
Yang tersembunyi adalah "misterium tremendum" tapi pada saat yang sama ia juga adalah "misterium fascinosum". Manusia bisa ngeri atau terperangkap dalam kubangan takut tapi ia kerap menggoda sebagai pesona yang memunculkan hasrat untuk diketahui. Yang tremendum itu seumpama gelap, tanpa wujud dan sering menjadi misteri. Tapi karena gelap dan misteri itu manusia diam-diam suka terbujuk karena magnet pesona yang ditimbulkannya.

Yang-tersembunyi itu sering nampak dalam wajah mistik, supra natural atau bahasa popnya adalah dunia-lain. Filsafat menyebutnya sebagai dimensi metafisika. Dunia tarekat menyebutnya sebagai hakikat. Sebutan-sebutan itu hanya ingin menunjukkan bahwa disebalik dunia fisik ada juga dunia lain, dunia yang melampaui fisik. Kursi yang dilihat adalah forma benda, berbentuk dengan ciri dan definisi. Tapi kursi sebagai kursi pada dirinya (something it self) hanya bisa diketahui melalui abstraksi. Seumpama menyelam ke lautan yang dalam tanpa dasar itulah abstraksi. Yang berbentuk adalah fenomena sedang yang tak berujud adalah noumena.
Beragama secara umum adalah meyakini yang noumena itu. Kitab suci menegaskan percaya terhadap yang tak nampak (gaib) adalah bukti keimanan. Malaikat, jin, syetan, hari kiamat adalah unsur-unsur dunia lain. Apakah ia berwujud fisik? Pada masanya mungkin ia bisa diketahui dan menjadi realitas yang dialami. Tapi rumus agama menegaskan percayailah bahwa mereka ada. Tak perlu bertanya apa dan bagaimananya.
Mendekati yang-tersembunyi dan hasrat untuk mengetahuinya tak bisa dengan cara yang biasa. Sains modern yang menahbis logika ilmiah pasti kesulitan bahkan bisa gagal merumuskannya. Metode ilmiah adalah langkah pasti dari mulai proposisi logis-hypotetis-verifikasi. Tak ada asumsi mistis, supra natural atau sesuatu yang noumena di dalamnya. Dimengerti, jika sains modern menampik secara tegas seluruh yang-tersembunyi.
Yang-tersembunyi jika ia ingin diketahui membutuhkan sikap pasrah. Melampaui pasrah dibutuhkan juga kepekaan indera manusia. Indera yang peka adalah yang terasah oleh tempaan latihan dan doa (wirid) yang didawamkan. Dalam laku tarekat, yang hakikat juga ma'rifat hanya mungkin diketahui jika syariat dan tarekatnya tertib dilakukan. Sekalipun tidak ada jaminan menemukan hakekat melaksanakan syareat dan tarekat adalah kemestian. Sesuatu yang imperatif untuk dilakukan. Maka berlakulah tuturan nadhom "ayu batur beresana syareate, boh menawa bakal nemu hakekate".
Yang-tersembunyi tak selalu muncul dan hadir karena diusahakan, tapi ia kerap mengada karena inisiatif dan campur tangan Tuhan. Itulah aleitheia sebuah "ketersingkapan ada sebagaimana adanya". Allahu a'lam.

De Also Layang Kusumah

baca juga 

MARI BERSEPEDAH 3


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...