YANG-TERSEMBUNYI
"Ayu
batur beresana syareate, boh menawa bakal nemu hakekate"
Luput
dari amatan sains modern yang menyajikan fakta terindra sebagai hal yang harus
dipercaya, realitas kehidupan manusia juga menyimpan entitas lain yang menuntut
untuk diketahui. Realitas itu mungkin tersembunyi, tak bisa nampak menjelma
sebagai fakta yang terindra, tapi senyatanya ia sering menjadi wilayah yang
menyedot perhatian dan rasa ingin tahu manusia.
Yang
tersembunyi adalah "misterium tremendum" tapi pada saat yang sama ia
juga adalah "misterium fascinosum". Manusia bisa ngeri atau
terperangkap dalam kubangan takut tapi ia kerap menggoda sebagai pesona yang
memunculkan hasrat untuk diketahui. Yang tremendum itu seumpama gelap, tanpa
wujud dan sering menjadi misteri. Tapi karena gelap dan misteri itu manusia
diam-diam suka terbujuk karena magnet pesona yang ditimbulkannya.
Yang-tersembunyi
itu sering nampak dalam wajah mistik, supra natural atau bahasa popnya adalah
dunia-lain. Filsafat menyebutnya sebagai dimensi metafisika. Dunia tarekat
menyebutnya sebagai hakikat. Sebutan-sebutan itu hanya ingin menunjukkan bahwa
disebalik dunia fisik ada juga dunia lain, dunia yang melampaui fisik. Kursi
yang dilihat adalah forma benda, berbentuk dengan ciri dan definisi. Tapi kursi
sebagai kursi pada dirinya (something it self) hanya bisa diketahui melalui
abstraksi. Seumpama menyelam ke lautan yang dalam tanpa dasar itulah abstraksi.
Yang berbentuk adalah fenomena sedang yang tak berujud adalah noumena.
Beragama
secara umum adalah meyakini yang noumena itu. Kitab suci menegaskan percaya
terhadap yang tak nampak (gaib) adalah bukti keimanan. Malaikat, jin, syetan,
hari kiamat adalah unsur-unsur dunia lain. Apakah ia berwujud fisik? Pada
masanya mungkin ia bisa diketahui dan menjadi realitas yang dialami. Tapi rumus
agama menegaskan percayailah bahwa mereka ada. Tak perlu bertanya apa dan
bagaimananya.
Mendekati
yang-tersembunyi dan hasrat untuk mengetahuinya tak bisa dengan cara yang
biasa. Sains modern yang menahbis logika ilmiah pasti kesulitan bahkan bisa
gagal merumuskannya. Metode ilmiah adalah langkah pasti dari mulai proposisi
logis-hypotetis-verifikasi. Tak ada asumsi mistis, supra natural atau sesuatu
yang noumena di dalamnya. Dimengerti, jika sains modern menampik secara tegas
seluruh yang-tersembunyi.
Yang-tersembunyi
jika ia ingin diketahui membutuhkan sikap pasrah. Melampaui pasrah dibutuhkan
juga kepekaan indera manusia. Indera yang peka adalah yang terasah oleh tempaan
latihan dan doa (wirid) yang didawamkan. Dalam laku tarekat, yang hakikat juga
ma'rifat hanya mungkin diketahui jika syariat dan tarekatnya tertib dilakukan.
Sekalipun tidak ada jaminan menemukan hakekat melaksanakan syareat dan tarekat
adalah kemestian. Sesuatu yang imperatif untuk dilakukan. Maka berlakulah
tuturan nadhom "ayu batur beresana syareate, boh menawa bakal nemu
hakekate".
Yang-tersembunyi
tak selalu muncul dan hadir karena diusahakan, tapi ia kerap mengada karena
inisiatif dan campur tangan Tuhan. Itulah aleitheia sebuah "ketersingkapan
ada sebagaimana adanya". Allahu a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar