Kamis, 23 Agustus 2018

SELAMAT JALAN KAWANKU (SAMUEL NAINGGOLAN)




Bayangan yang membuatku tersentak dan hatiku bergetar tak kala mengingat, apa yang aku dengar tentang kepergianmu dari salah satu teman kita. Aku sempat tak percaya namun dia meyakini dengan sepenuhnya bahwa kau telah menghadap kepadanya, maaf aku kawan…
Kupikir inilah saat aku hilang arah menuju hatimu. Selalu ada yang ingin kusampaikan dalam kesah yang menghunjam di ujung lidah. Dan mengertikah hanya kamu yang mendengar, aku selalu tergetar sebelum sempat kuteguhkan ucap yang tegar; tentang cinta yang padam oleh kematian, tentang aku yang muram karena harapan yang terbungkam. Mengertikah kamu kawanku, jalan menemuimu entah kenapa senantiasa terjal dan berliku. Dan aku selalu kalah sebelum kutuntaskan semua kisah tentangmu kawanku.

hei, sahabatku tahukah bahwa aku selalu rindu gurauan dan tawamu. kawan, ingatkah kemarin masa-masa kita selalu berguaru tentang cinta yang sia-sia, mimpi yang belum terwujud kenangan masa-masa indah bermain motor dengan tenlanjang dada di tengah malam (mungkin orang sekitar yang melihat kita dulu nyinyir sedikit nyindir) dan juga persahabatan yang telah kita jalani suka dan duka, kemarin kau sempat berceloteh dalam sebuah koment di media sosial mencandaiku tentang cerita, kau sempat bilang menyukaiku istri orang namun kuanggap itu sebuah candaanmu.
Lalu kau pun memilih untuk berangkat tiba-tiba.
Sahabatku aku ingin mengucapkan terima kasih kepada tuhan yang mengenalkan aku kepadamu karna telah menjadi salah satu sahabat terbaikku dalam kehidupan yang ku jalani ini, kita selalu bahu membahu saling menolong, kau selalu siap mendengarkan ketika aku ingin bercerita, kau adalah sosok yang berhati baik bagiku, selama mengenalmu sekalipun aku tak pernah melihat amarah dalam dirimu walau dalam keadaan apapun.
Aku masih nanar ketika mendengar sebelum saatnya datang ajal, dan aku masih terlampau sibuk mencari jejak aksara yang dulu kutitipkan pada surga. Di antara lipatan waktu dan kenangan yang berlari satu-satu, akupun sadar; hidup bisa saja culas rupa dan warnanya. Adakah kau mengerti kawanku? Aku hanya ingin kau sempat percaya, bahwa aku bisa memikul beban ini andai saja kau mengajariku bagaimana merendahkan diri. Aku bisa sepanjang usia menemani bila saja kau memberiku kesempatan itu lagi.
Tentu saja kau benar; tidak setiap persoalan harus kau utarakan. Aku sangat mengerti bagaimana kamu dengan raya payah menahan luka agar tak berdarah. Tapi bukankah itu menegaskan bahwa dirimu memang belum juga mempercayaiku sepenuh hati? Aku tak ingin memaksakan apa yang tak sanggup kuamini awal dan akhirnya bagi hidupmu. Aku hanya ingin mendapati penanda yang merona di dirimu dan berdiam diri di sana. Seperti mega yang memilih tersesat di cakrawala, dengan sinar lembut surya senja, dan pekik elang yang melayang gembira menuju sarang. Itulah mungkin pilihanmu.
Mungkin kesedihanku saat ini tak seberapa dibanding dengan keluargamu akan tetapi walaupun kita bukan sekandung kita selalu bersama seperti saudara, kita selalu meneriakan di luar kita sama-sama di rumah tanggung jawab masing-masing.
Mungkin Karna kesibukan kita masing-masing membuat kita jarang meluangkan waktu bertemu kawan, namun kita tetap menjaga silaturahim dengan komunikasi dan canda tawa.
Sejauh aku mengakrabi dunia, harapanku mungkin terlihat mengada-ada. Sungguh rasanya, sampai detik ini aku masih belum yakin dan percaya akan kepergianmu kawan, masih banyak mimpi yang belum kita raih namun kau telah meninggalkan cita-citamu secepat ini, kamu meninggalkan kenangan yang sejak dulu kau impikan dan kau bicarakan, tapi sungguh ini mungkin sudah takdir untukmu kawan.
Tuhan punya rencana lain untukmu kawan akan tetapi tidak disini namun di akhirat sana. Selamat jalan kawanku, sahabat terbaikku, semoga tenang dan damai disisi-Nya. Surga terbaik untukmu kawanku.
Sebab, seperti yang pernah kau ucapkan pada diriku, bagimu dunia ini hanya tampak akrab dengan perasaan percuma? “Siapakah aku selain seorang anak muda yang berangkat dari kata dan melupakan sinisnya peristiwa?” Kau katakan padaku, sedangkan waktu itu aku tidak percaya dengan puisi jiwa terhidupi. Tapi aku juga tidak yakin dengan semangat, cita-cita, karya, harta, dan sedikit cinta, hidup dengan sendirinya kan bermakna itu ucapmu.”
Belum selesai aku mengatakan banyak hal kepadamu kawanku. Sebab hidup adalah beragam pilihan. Barangkali, ia adalah pohon dengan dahan dan ranting tak berbilang. Di sebelah mana saja kau tentukan titik pastinya. Pada dahan dan ranting mana saja kau lekatkan cengkramanmu, itulah saat ketika janji tak boleh menyempal diingkari. Itulah waktu ketika ludah tak baik untuk dijilat kembali. Tapi manusia tak selalu kukuh dalam niat yang teguh. Sebab seperti katamu, “hidup adalah warna. Gemuruh kemungkinan yang menampilkan berjuta kesempatan dan cara, bahkan untuk berdusta dan menjadi terhina sekalipun.” Dan itulah kita yang menolak mengingkari rasa yang tiba-tiba sudah tertanam jauh di sana.
Kawan usiamu telah sampai di sini. Menghampiri di titik pasti yang mustahil untuk dihindari dengan berlari ataupun sembunyi. Dalam hitungan jari, kamu sudah saatnya membangun istanamu, wajahmu yang kenyal dan lembut seperti kulit bayi, matamu yang berkilat merona memesona seperti dewa athena. Sungguh, itu bukan persoalan!! Seperti kau mengerti, kehidupan adalah gemuruh perubahan yang silih berganti. Itulah intinya. Dan perubahan tak harus disesali sebagai takdir yang mematikan elan vital kehendak, kreatifitas juga keinginan. Kiranya, perubahan tak perlu dikhawatirkan sebagai mimpi.
Mungkin dari inilah aku pun menyadari kalau kau hanya titip-Nya. Mustahil bisa dipertahan jika suatu waktu kau di memintanya kembali. Selamat jalan kawanku, sahabat terbaikku, semoga tenang dan damai disisi-Nya. Surga terbaik untukmu kawanku, Amin…
Tuhan. Terimalah kembalinya seorang hamba kepada-Mu dengan senyum juga peluk kasih sayang-Mu. Tuhan. Aku berlindung kepada-Mu dari habisnya usia sebelum siap sedia. 
Percayalah kawan. Bahwa kami kawan-kawan yang kau tinggalkan disini akan selalu mendoakanmu disana.
Salam untukmu, kawanku Samuel.... 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...