Bayangan
yang membuatku tersentak dan hatiku bergetar tak kala mengingat, apa yang aku dengar
tentang kepergianmu dari salah satu teman kita. Aku sempat tak percaya namun
dia meyakini dengan sepenuhnya bahwa kau telah menghadap kepadanya, maaf aku kawan…
Kupikir inilah saat aku hilang arah menuju hatimu. Selalu
ada yang ingin kusampaikan dalam kesah yang menghunjam di ujung lidah. Dan
mengertikah hanya kamu yang mendengar, aku selalu tergetar sebelum sempat kuteguhkan ucap yang
tegar; tentang cinta yang padam oleh kematian, tentang aku yang muram karena
harapan yang terbungkam. Mengertikah kamu kawanku, jalan menemuimu entah kenapa
senantiasa terjal dan berliku. Dan aku selalu kalah sebelum kutuntaskan semua
kisah tentangmu kawanku.
hei,
sahabatku tahukah bahwa aku selalu rindu gurauan dan tawamu. kawan, ingatkah
kemarin masa-masa kita selalu berguaru tentang cinta yang sia-sia, mimpi yang belum
terwujud kenangan masa-masa indah bermain motor dengan tenlanjang dada di
tengah malam (mungkin orang sekitar yang melihat kita dulu nyinyir sedikit
nyindir) dan juga persahabatan yang telah kita jalani suka dan duka, kemarin
kau sempat berceloteh dalam sebuah koment di media sosial mencandaiku tentang cerita,
kau sempat bilang menyukaiku istri orang namun kuanggap itu sebuah candaanmu.
Lalu
kau pun memilih untuk berangkat tiba-tiba.
Sahabatku
aku ingin mengucapkan terima kasih kepada tuhan yang mengenalkan aku kepadamu
karna telah menjadi salah satu sahabat terbaikku dalam kehidupan yang ku jalani
ini, kita selalu bahu membahu saling menolong, kau selalu siap mendengarkan ketika
aku ingin bercerita, kau adalah sosok yang berhati baik bagiku, selama
mengenalmu sekalipun aku tak pernah melihat amarah dalam dirimu walau dalam
keadaan apapun.
Aku masih nanar ketika mendengar sebelum saatnya datang ajal, dan aku masih terlampau sibuk mencari jejak aksara
yang dulu kutitipkan pada surga. Di antara lipatan waktu dan kenangan yang
berlari satu-satu, akupun sadar; hidup bisa saja culas rupa dan warnanya.
Adakah kau mengerti kawanku? Aku hanya ingin kau sempat percaya, bahwa aku
bisa memikul beban ini andai saja kau mengajariku bagaimana merendahkan diri.
Aku bisa sepanjang usia menemani bila saja kau memberiku kesempatan itu lagi.
Tentu
saja kau benar; tidak setiap persoalan harus kau utarakan. Aku sangat mengerti
bagaimana kamu dengan raya payah menahan luka agar tak berdarah. Tapi bukankah
itu menegaskan bahwa dirimu memang belum juga mempercayaiku sepenuh hati? Aku
tak ingin memaksakan apa yang tak sanggup kuamini awal dan akhirnya bagi
hidupmu. Aku hanya ingin mendapati penanda yang merona di dirimu dan berdiam
diri di sana. Seperti mega yang memilih tersesat di cakrawala, dengan sinar
lembut surya senja, dan pekik elang yang melayang gembira menuju sarang. Itulah
mungkin pilihanmu.
Mungkin kesedihanku saat ini tak seberapa dibanding dengan
keluargamu akan tetapi walaupun kita bukan sekandung kita selalu bersama seperti
saudara, kita selalu meneriakan di luar kita sama-sama di rumah tanggung jawab
masing-masing.
Mungkin Karna kesibukan kita masing-masing membuat
kita jarang meluangkan waktu bertemu kawan, namun kita tetap menjaga
silaturahim dengan komunikasi dan canda tawa.
Sejauh aku mengakrabi dunia, harapanku mungkin
terlihat mengada-ada. Sungguh rasanya, sampai detik ini aku masih belum
yakin dan percaya akan kepergianmu kawan, masih banyak mimpi yang belum kita raih namun kau
telah meninggalkan cita-citamu secepat ini, kamu meninggalkan kenangan yang
sejak dulu kau impikan dan kau bicarakan, tapi sungguh ini mungkin sudah takdir
untukmu kawan.
Tuhan
punya rencana lain untukmu kawan akan tetapi tidak disini namun di akhirat sana.
Selamat jalan kawanku, sahabat terbaikku, semoga tenang dan damai disisi-Nya. Surga
terbaik untukmu kawanku.
Sebab, seperti yang pernah kau ucapkan pada diriku,
bagimu dunia ini hanya tampak akrab dengan perasaan percuma? “Siapakah aku selain seorang anak muda yang
berangkat dari kata dan melupakan sinisnya peristiwa?” Kau katakan padaku, sedangkan
waktu itu aku tidak percaya dengan puisi jiwa terhidupi. Tapi aku juga tidak
yakin dengan semangat, cita-cita,
karya, harta, dan sedikit cinta, hidup dengan sendirinya kan bermakna itu
ucapmu.”
Belum selesai aku mengatakan banyak hal kepadamu kawanku.
Sebab hidup adalah beragam pilihan. Barangkali, ia adalah pohon dengan dahan
dan ranting tak berbilang. Di sebelah mana saja kau tentukan titik pastinya.
Pada dahan dan ranting mana saja kau lekatkan cengkramanmu, itulah saat ketika
janji tak boleh menyempal diingkari. Itulah waktu ketika ludah tak baik untuk
dijilat kembali. Tapi manusia tak selalu kukuh dalam niat yang teguh. Sebab
seperti katamu, “hidup adalah warna.
Gemuruh kemungkinan yang menampilkan berjuta kesempatan dan cara, bahkan untuk
berdusta dan menjadi terhina sekalipun.” Dan itulah kita yang menolak
mengingkari rasa yang tiba-tiba sudah tertanam jauh di sana.
Kawan usiamu telah sampai di sini. Menghampiri di
titik pasti yang mustahil untuk dihindari dengan berlari ataupun sembunyi.
Dalam hitungan jari, kamu sudah saatnya membangun istanamu, wajahmu yang kenyal
dan lembut seperti kulit bayi, matamu yang berkilat merona memesona seperti dewa
athena. Sungguh, itu bukan persoalan!! Seperti kau mengerti, kehidupan adalah
gemuruh perubahan yang silih berganti. Itulah intinya. Dan perubahan tak harus
disesali sebagai takdir yang mematikan elan vital kehendak, kreatifitas juga
keinginan. Kiranya, perubahan tak perlu dikhawatirkan sebagai mimpi.
Mungkin dari inilah aku pun menyadari kalau kau
hanya titip-Nya. Mustahil bisa dipertahan jika suatu waktu kau di memintanya
kembali. Selamat jalan kawanku, sahabat terbaikku, semoga tenang dan
damai disisi-Nya. Surga terbaik untukmu kawanku, Amin…
Tuhan. Terimalah kembalinya seorang hamba kepada-Mu
dengan senyum juga peluk kasih sayang-Mu. Tuhan. Aku berlindung kepada-Mu dari habisnya
usia sebelum siap sedia.
Percayalah kawan. Bahwa kami kawan-kawan yang kau
tinggalkan disini akan selalu mendoakanmu disana.
Salam untukmu, kawanku Samuel....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar