Cinta asmara adalah cinta
nafsu yang selalu bersyarat dan berpamrih. Cinta seperti ini muncul setelah
adanya suatu daya tarik yang menyenangkan, baik itu melalui ketampanan atau
kecantikan wajah, kelembutan, keramahan, bahkan dapat melalui kedudukan, kemuliaan,
kemewahan, atau kepintaran.
Ada sesuatu yang ingin
diraih dan dinikmati. Kalau pada suatu waktu terjadi sebaliknya,
sesuatu yang tidak menyenangkan lagi, bahkan menyusahkan atau mengecewakan,
maka cinta seperti ini mungkin saja akan berubah menjadi kebencian!
Kita
dengan mudah saja bersumpah cinta, sehidup semati, senasib sependeritaan, dan
semua itu dapat terjadi selama si dia yang dicinta memenuhi syarat. Sekali saja
syarat itu dilanggar, maka cinta berubah menjadi benci, dan kebahagiaan berubah
menjadi kesengsaraan.
Banyak sudah terjadi peristiwa yang membuktikan betapa fananya cinta itu. Suami isteri yang tadinya bersumpah saling cinta akhirnya bercerai setelah setiap hari cekcok. Sahabat yang tadinya saling mencinta dan saling setia akhirnya saling bermusuhan. Orang tua yang tadinya bersumpah mencinta anaknya, akhirnya menyumpahi anak itu.
Semua
ini terjadi karena syarat cinta itu dilanggar, pamrih dalam bercinta tidak
terpenuhi. Terjadi konflik-konflik yang dapat menjalar dan berkembang menjadi
konflik antar bangsa dan antar negara. Sumbernya adalah konflik dalam diri
pribadi kita masing-masing.
Selama
hati akal pikiran dikuasai nafsu daya redah, maka si-aku semakin menonjol,
semakin berkembang kuat. Si-aku adalah nafsu yang menguasai hati akal pikiran,
si aku adalah keinginan-keinginan. Selama si aku merajalela, maka terjadilah
bentrokan-bentrokan antar keinginan, antar kepentingan diri masing-masing dan
timbullah pertikaian dan permusuhan.
Hanya
cinta kasih Tuhan sajalah yang maha benar dan maha suci, tidak ada kebalikannya
karena tunggal! Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu membebaskan batin
dari cengkeraman nafsu daya rendah dan mengembalikan nafsu-nafsu ke dalam
kedudukannya yang semestinya, yaitu menjadi alat pelengkap kehidupan manusia,
menjadi abdi, bukan majikan.
Kalau
sudah begitu, hanya kekuasaan Tuhan yang akan menjadi kemudi, bukan lagi nafsu
daya rendah, dan barulah apa yang dinamakan cinta kasih tidak akan mendatangkan
sengsara!baca juga tulisan tentang Cinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar