Selasa, 21 Agustus 2018

POLITIK PILIHAN


Sejarah telah memilih Anda: 1 sampai 13. Tapi "memilih" bukanlah tindakan ketanpasengajaan. Sebuah laku acak tanpa “kematangan” pertimbangan. Memilih adalah membuat garis antara yang pantas dan tidak. Memilih adalah membuat kategori antara yang patut dan tidak. Karena itu memilih bukanlah perkara bebas nilai. Ia bukan sejenis egologi yang sepi dari pengaruh. Persis, ia juga bukan suara batin yang murni dari bisikan dan hasutan.  Apapun pertimbangannya, memilih adalah isyarat bahwa manusia punya kehendak, memiliki kebebasan. 
Kita telah memilih 1 sampai 13. Dengan kesadaran, keseriusan, kemunafikan mungkin juga sekedar permainan. Tak jadi soal, sebab sejarah adalah bentangan peristiwa ketaksempurnaan, sejenis medan Kurusetra. Sebuah pertarungan yang tak usai antara yang tak nampak juga nyata. Antara kesalehan juga kekurangajaran. Antara yang rasional dan irrasional. Tak bisa sempurna kita menulis sejarah, seperti halnya kita bisa kecewa, ketika jago yang kita elus tak beroleh nama juga angka. Tapi dengan itu, kita telah membuat jejak yang akan dibaca oleh mereka yang datang kelak setelah kita.

Melalui mekanisme politik, Anda dilahirkan di hitungan ke-12. Ada aneka warna dari susunan 1-13 itu. Yang muda juga yang tua, nampak di sana. Perlukah ia diikat menjadi satu bunyi yang sama? Haruskah tiap-tiap bagiannya disimpulkan menjadi keinginan yang seragam? Mungkin benar, jika organisasi adalah entitas hidup yang menyatukan hasrat dan keberbedaan menjadi satu tujuan. Sejenis “a melting pot", sebuah kuali yang menghasilkan sesuatu yang padu dari pelbagai bahan mentah .Tapi mengikat keberbedaan dengan dalih kebersamaan tujuan adalah sejenis kepura-kepuraan. Sebuah alasan penghindaran dari keniscayaan tentang kebebasan dan pilihan yang menjadi tanda keberadaan manusia. Tapi jika tiap orang diberi ruang untuk bebas bermanuver, maka organisasi telah berubah menjadi kerumunan tanpa tujuan. Persis di sini harus dibuat mekanisme organisasi yang lebih adil dengan tidak menafikan hak-hak individu juga tidak melukai spirit dasar tujuan berorganisasi.
Manifesto organisasi ini adalah berkhidmat di kehidupan publik. Bersenyawa dengan rakyat melalui pendidikan juga pelayanan.  Tapi publik juga bukan genangan tanpa riak. Realitas yang kosong dari pesona kuasa. Di titik ini, kerap kita bertemu dengan bujukan jabatan juga hasrat kekuasaan: POLITIK. Diakui,  politik di negeri ini kian sering tampak sebagai sebuah keasyikan yang sia-sia. Wujudnya telah menjelma menjadi makhluk yang culas dan durjana. Karenanya, siapa saja yang merasa punya peran menjadi suara moral akan berfikir seribu kali untuk terjun di medan pergulatan ini, sebuah medan yang sepenuhnya tak bersih dan murni. Mungkin, ada sebagian kita yang menampik dunia politik, dunia orang ramai. Tapi menampik dunia politik sama artinya dengan pergi mengungsi ke sebuah gua dan urung mengubah dunia.
Memilih menjauh dari panggung politik dan mengelak dari kehidupan orang ramai tak dengan sendirinya meneguhkan sebuah posisi moral. Tak ada yang salah dengan politik, karena ia adalah bagian dari kehidupan publik. Sejatinya, subjek selalu berupa “inter-subjek”. Sebuah pertemuan antara "aku" dan "kau", menjelma menjadi "kita". Di stasi ini, sebuah aksi komunikasi bukan saja sebuah keniscayaan, tetapi jika kita bicara tentang hasil dan manfaat, aksi itu merupakan tindakan yang bernas dan produktif. Mufakat dapat lahir dari perbedaan pendapat dan silang alasan dimana argumen yang lebih baik akan menang dan beroleh nilai.  1-13, jatuh di angka 12. Semoga Anda semua adalah pemimpin yang sebenar-benarnya. Yang bisa menulis sejarah dengan tinta emas. Dengan tindakan yang punya manfaat bagi banyak orang. Wallahu a’lam bi-shawab

De Also Layang Kusumah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...