Sejarah telah memilih Anda: 1 sampai 13. Tapi
"memilih" bukanlah tindakan ketanpasengajaan. Sebuah laku acak tanpa
“kematangan” pertimbangan. Memilih adalah membuat garis antara yang pantas dan
tidak. Memilih adalah membuat kategori antara yang patut dan tidak. Karena itu
memilih bukanlah perkara bebas nilai. Ia bukan sejenis egologi yang sepi dari pengaruh. Persis, ia juga bukan suara batin yang
murni dari bisikan dan hasutan. Apapun pertimbangannya, memilih adalah
isyarat bahwa manusia punya kehendak, memiliki kebebasan.
Kita telah memilih 1 sampai 13. Dengan kesadaran,
keseriusan, kemunafikan mungkin juga sekedar permainan. Tak jadi soal, sebab
sejarah adalah bentangan peristiwa ketaksempurnaan, sejenis medan Kurusetra.
Sebuah pertarungan yang tak usai antara yang tak nampak juga nyata. Antara
kesalehan juga kekurangajaran. Antara yang rasional dan irrasional. Tak bisa
sempurna kita menulis sejarah, seperti halnya kita bisa kecewa, ketika jago
yang kita elus tak beroleh nama juga angka. Tapi dengan itu, kita telah membuat
jejak yang akan dibaca oleh mereka yang datang kelak setelah kita.
Melalui mekanisme politik, Anda dilahirkan di hitungan
ke-12. Ada aneka warna dari susunan 1-13 itu. Yang muda juga yang tua, nampak
di sana. Perlukah ia diikat menjadi satu bunyi yang sama? Haruskah tiap-tiap
bagiannya disimpulkan menjadi keinginan yang seragam? Mungkin benar, jika
organisasi adalah entitas hidup yang menyatukan hasrat dan keberbedaan menjadi
satu tujuan. Sejenis “a melting pot", sebuah kuali yang menghasilkan
sesuatu yang padu dari pelbagai bahan mentah .Tapi mengikat keberbedaan dengan
dalih kebersamaan tujuan adalah sejenis kepura-kepuraan. Sebuah alasan
penghindaran dari keniscayaan tentang kebebasan dan pilihan yang menjadi tanda
keberadaan manusia. Tapi jika tiap orang diberi ruang untuk bebas bermanuver,
maka organisasi telah berubah menjadi kerumunan tanpa tujuan. Persis di sini
harus dibuat mekanisme organisasi yang lebih adil dengan tidak menafikan
hak-hak individu juga tidak melukai spirit dasar tujuan berorganisasi.
Manifesto organisasi ini adalah berkhidmat di kehidupan
publik. Bersenyawa dengan rakyat melalui pendidikan juga pelayanan. Tapi
publik juga bukan genangan tanpa riak. Realitas yang kosong dari pesona kuasa.
Di titik ini, kerap kita bertemu dengan bujukan jabatan juga hasrat kekuasaan:
POLITIK. Diakui, politik di negeri ini kian sering tampak sebagai sebuah
keasyikan yang sia-sia. Wujudnya telah menjelma menjadi makhluk yang culas dan
durjana. Karenanya, siapa saja yang merasa punya peran menjadi suara moral akan
berfikir seribu kali untuk terjun di medan pergulatan ini, sebuah medan yang
sepenuhnya tak bersih dan murni. Mungkin, ada sebagian kita yang menampik dunia
politik, dunia orang ramai. Tapi menampik dunia politik sama artinya dengan
pergi mengungsi ke sebuah gua dan urung mengubah dunia.
Memilih menjauh dari panggung politik dan mengelak dari
kehidupan orang ramai tak dengan sendirinya meneguhkan sebuah posisi moral. Tak
ada yang salah dengan politik, karena ia adalah bagian dari kehidupan publik.
Sejatinya, subjek selalu berupa “inter-subjek”. Sebuah pertemuan antara
"aku" dan "kau", menjelma menjadi "kita". Di
stasi ini, sebuah aksi komunikasi bukan saja sebuah keniscayaan, tetapi jika
kita bicara tentang hasil dan manfaat, aksi itu merupakan tindakan yang bernas
dan produktif. Mufakat dapat lahir dari perbedaan pendapat dan silang alasan
dimana argumen yang lebih baik akan menang dan beroleh nilai. 1-13, jatuh
di angka 12. Semoga Anda semua adalah pemimpin yang sebenar-benarnya. Yang bisa
menulis sejarah dengan tinta emas. Dengan tindakan yang punya manfaat bagi
banyak orang. Wallahu a’lam bi-shawab
De Also Layang Kusumah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar