Minggu, 19 Agustus 2018

Dholim


Secara etimologi kata "dholim" berarti "gelap" atau ketiadaan cahaya. Gelap atau ketiadaan cahaya harus dimengerti secara metaforis. Bayangkan orang yang berjalan dalam gelap karena ketiadaan cahaya atau lentera. Pasti tersesat, sebab tak jelas arah yang dituju. Tak bisa leluasa melangkah karena tak ada kompas yang memandu. Dalam gelap, perilaku bisa serampangan. Dalam gelap tindakan bisa menjadi tak terduga. Dalam gelap, pikiran bisa menjadi muasal munculnya kejahatan.
Gelap dan ketiadaan cahaya inilah yang bisa menyebabkan siapapun untuk melakukan perbuatan yang dilarang norma. Manusia yang dikepung gelap nampak dalam perbuatan yang menyimpang dari tuntunan. Manusia yang disergap gelap memanifestasi dalam perilaku tak patuh terhadap nasihat dan pitutur Guru. Itulah perbuatan yang melampaui batas.
ومن يتعد حدود الله فأولئك هم الظالمون
"Orang-orang yang melanggar batasan-batasan Allah adalah orang yang dholim" (al-Baqaroh:223).

Dalam Al-Quran kata dholim dan seluruh akar katanya diulang sebanyak 289 kali. Ini cukup menegaskan bahwa dholim adalah perbuatan yang banyak dilakukan manusia. Bahkan ada mufasir yang memberikan 9 pengertian dari kata dholim.
Jika dholim disebut untuk menunjukkan perbuatan, maka "dholimun" adalah orangnya atau subjek pelaku perbuatan dholim itu. Secara eksistensial, subjek yang dholim adalah manusia yang rusak akal, hati dan metabolismenya. Seumpama cerdas apa yang dipikirkannya sekalipun ayat dan hadits jadi sandarannya. Seumpama pintar tingkah lakunya sekalipun norma yang menjadi rujukannya. Seupama cerdik cara mencari rijkinya sekalipun tuntunan yang menjadi kompasnya.
Manusia yang dholim secara eksistensial adalah manusia yang terputus atau telah dengan sengaja memutuskan dirinya sendiri dengan sumber cahaya kebenaran. Jangankan memberikan pencerahan dan cahaya kebenaran pada manusia dan lingkungan sekitarnya bahkan pada dirinya sendiri pun, dia tak bisa. Itulah yang dimaksud dengan "dholimun linafsihi" (ظالم لنفسه).
Secara eksistensial pula, manusia yang dholim adalah sosok yang tidak autentik. Manusia citra. Manusia bayang-bayang. Manusia yang bangga dan merasa cukup karena asal usul dan keturunan tapi abai dan lalai terhadap potensi yang dimilikinya sendiri. Masa lalu dan keturunan adalah jaminan karenanya tak perlu pembuktian. Garis suci keturunan adalah pemberian Tuhan tak butuh aktualisasi diri, tak butuh kesungguhan untuk menempa diri.
Keturunan bukan jaminan. Asal-usul bukan keistimewaan. Maka, satu-satunya cara supaya bisa keluar dari gelap dan ketiadaan cahaya adalah melecut akal, menempa hati dan menuntun metabolisme untuk terus belajar dan berevolusi. Tak bosan mencari. Tak berhenti belajar menempa diri. Malas bahkan gagal memfungsikan ketiganya menjadi isyarat bahwa dia sudah berlaku dholim. Dholim lah yang menjadi alasan Allah azza wa jalla untuk "memutus" kemungkinan lahirnya pemimpin sebagaimana tersurat dalam dialog antara nabi Ibrahim dan Allah Swt:
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia. Dia (Ibrahim) berkata, Dan (juga) dari anak cucuku? Allah berfirman, (Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim" (al-Baqarah:124).
Proses mencari selalu meniscayakan kehadiran penuntun. Supaya keluar dari gelap butuh cahaya. Agar terhindar dari ketidakjelasan arah perlu kompas.
Sang penuntun, sumber cahaya dan kompas, itulah Maulana. Sungguh, kata dan perilaku Maulana adalah tuntunan. Nasihatnya adalah sumber cahaya. Bimbingannya adalah kompas yang dibutuhkan. Allahu a'lam.

De ALso Layang Kusumah



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...