Secara etimologi kata "dholim" berarti
"gelap" atau ketiadaan cahaya. Gelap atau ketiadaan cahaya harus
dimengerti secara metaforis. Bayangkan orang yang berjalan dalam gelap karena
ketiadaan cahaya atau lentera. Pasti tersesat, sebab tak jelas arah yang dituju.
Tak bisa leluasa melangkah karena tak ada kompas yang memandu. Dalam gelap,
perilaku bisa serampangan. Dalam gelap tindakan bisa menjadi tak terduga. Dalam
gelap, pikiran bisa menjadi muasal munculnya kejahatan.
Gelap
dan ketiadaan cahaya inilah yang bisa menyebabkan siapapun untuk melakukan
perbuatan yang dilarang norma. Manusia yang dikepung gelap nampak dalam
perbuatan yang menyimpang dari tuntunan. Manusia yang disergap gelap
memanifestasi dalam perilaku tak patuh terhadap nasihat dan pitutur Guru.
Itulah perbuatan yang melampaui batas.
ومن
يتعد حدود الله فأولئك هم الظالمون
"Orang-orang
yang melanggar batasan-batasan Allah adalah orang yang dholim"
(al-Baqaroh:223).
Dalam
Al-Quran kata dholim dan seluruh akar katanya diulang sebanyak 289 kali. Ini
cukup menegaskan bahwa dholim adalah perbuatan yang banyak dilakukan manusia.
Bahkan ada mufasir yang memberikan 9 pengertian dari kata dholim.
Jika
dholim disebut untuk menunjukkan perbuatan, maka "dholimun" adalah
orangnya atau subjek pelaku perbuatan dholim itu. Secara eksistensial, subjek
yang dholim adalah manusia yang rusak akal, hati dan metabolismenya. Seumpama
cerdas apa yang dipikirkannya sekalipun ayat dan hadits jadi sandarannya.
Seumpama pintar tingkah lakunya sekalipun norma yang menjadi rujukannya.
Seupama cerdik cara mencari rijkinya sekalipun tuntunan yang menjadi kompasnya.
Manusia
yang dholim secara eksistensial adalah manusia yang terputus atau telah dengan
sengaja memutuskan dirinya sendiri dengan sumber cahaya kebenaran. Jangankan
memberikan pencerahan dan cahaya kebenaran pada manusia dan lingkungan
sekitarnya bahkan pada dirinya sendiri pun, dia tak bisa. Itulah yang dimaksud
dengan "dholimun linafsihi" (ظالم لنفسه).
Secara
eksistensial pula, manusia yang dholim adalah sosok yang tidak autentik.
Manusia citra. Manusia bayang-bayang. Manusia yang bangga dan merasa cukup
karena asal usul dan keturunan tapi abai dan lalai terhadap potensi yang
dimilikinya sendiri. Masa lalu dan keturunan adalah jaminan karenanya tak perlu
pembuktian. Garis suci keturunan adalah pemberian Tuhan tak butuh aktualisasi
diri, tak butuh kesungguhan untuk menempa diri.
Keturunan
bukan jaminan. Asal-usul bukan keistimewaan. Maka, satu-satunya cara supaya
bisa keluar dari gelap dan ketiadaan cahaya adalah melecut akal, menempa hati
dan menuntun metabolisme untuk terus belajar dan berevolusi. Tak bosan mencari.
Tak berhenti belajar menempa diri. Malas bahkan gagal memfungsikan ketiganya
menjadi isyarat bahwa dia sudah berlaku dholim. Dholim lah yang menjadi alasan Allah
azza wa jalla untuk "memutus" kemungkinan lahirnya pemimpin
sebagaimana tersurat dalam dialog antara nabi Ibrahim dan Allah Swt:
"Dan
(ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia
melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, Sesungguhnya Aku
menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia. Dia (Ibrahim) berkata,
Dan (juga) dari anak cucuku? Allah berfirman, (Benar, tetapi) janji-Ku tidak
berlaku bagi orang-orang zalim" (al-Baqarah:124).
Proses
mencari selalu meniscayakan kehadiran penuntun. Supaya keluar dari gelap butuh
cahaya. Agar terhindar dari ketidakjelasan arah perlu kompas.
Sang penuntun, sumber cahaya dan kompas, itulah Maulana. Sungguh, kata dan perilaku Maulana adalah tuntunan. Nasihatnya adalah sumber cahaya. Bimbingannya adalah kompas yang dibutuhkan. Allahu a'lam.
Sang penuntun, sumber cahaya dan kompas, itulah Maulana. Sungguh, kata dan perilaku Maulana adalah tuntunan. Nasihatnya adalah sumber cahaya. Bimbingannya adalah kompas yang dibutuhkan. Allahu a'lam.
De ALso Layang Kusumah
Baca Juga Cinta Asmara dan Nafsu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar