Dalam kemalasanku, aku berniat habiskan waktu sore ini
untuk tidur. Mengatasi segala kebimbangan dan segala bentuk takut. Mungkin
pembaca merasa heran, kenapa harus tidur ? Bukankah itu suatu bentuk kemalasan
yang sangat ? Aku Jawab, bisa iya, bisa tidak.
Belum
lama aku tertidur, sebelumnya tak penah dijanjikan atau direncanakan. Suara
tawa terdengar dari jauh, samar-samar, mulai mendekat dan semakin nyaring
tawanya. Perlahan langkah demi langkah kurasa betul, berjalan menghampiriku
yang sedang duduk termenung sendirian. Berbaju putih, bersarung putih serta
sorban pun putih. Semuanya putih.
Sejenak
suasana menjadi tambah hening, hening sekali. Aku coba tatap dengan jelas,
siapakah orang yang datang di mimpiku ini dan sekarang berdiri di hadapanku.
Hmmm……ternyata Maulana. Dia tersenyum melihatku, aku pun membalas senyumnya
penuh tanda tanya.
Maulana
: “Kenapa kamu is ?” memulai pembicaraan sambil menurunkan badannya, duduk
bersila di hadapanku.
Saya
: “Kau pasti tahu kebingunganku !” jawabku.
Maulana
: “Tidak !, aku tidak tahu !” tegas Maulana.
Saya
: “Lalu, kenapa kau datang dalam mimpiku ?” tanyaku penasaran.
Maulana
: “Karena aku ingin !”, datar bicaranya.
Saya
: “Hmmmm….gitu ya. Tidak mungkin tanpa alasan kau tiba-tiba datang kepadaku”.
Semakin penasaran
Maulana
: “Hahahaha…..”. Maulana Tertawa keras mendengar rasa penasaranku. “Aku memang
sengaja datang kepadamu, karena aku lihat kau dalam kebingungan. Sepertinya
sangat bingung, benarkah ?”. Matanya mendesak diriku bercerita tentang
persoalan yang kuhadapi.
Saya
: “Baiklah, begini Maulana”, aku memulai pembicaraan. “Malam jumat kemarin, aku
dan teman-teman hadir dalam kuliah Filsafat Pemberontakan bersama Kang Ami.
Biasanya, malam selasa kuliah itu, tapi karena Kang Ami berhalangan hadir, jadi
dia menggesernya ke malam jumat”.
Maulana
: “Merokoklah biar santai”, sambil mengeluarkan rokok dari saku jubahnya. “Dan
buatkan aku kopi, biar aku nyaman mendengarmu bercerita”.
Saya
: “Ok ! Tunggu sebentar, biar aku panaskan dulu airnya. Sambil menunggu air
mendidih, aku lanjutkan ceritaku.“
Maulana
: “Yap…..aku dengarkan…huffff…..nikmat sekali rokok ini”. Maulana rileks sekali
menghisap rokoknya.
Saya
: “Nah….tak banyak yang hadir kuliah tersebut. Mungkin teman-teman yang lain
punya kesibukan. Padahal aku sudah ingatkan siangnya. Untungnya, Kang Ami tak
mempersoalkan banyak atau tidaknya yang hadir. Seperti biasa, dia datang penuh
semangat, kalaupun agak telat, karena harus menemani dulu anak-anaknya untuk
makan malam. Sebentar ! ……airnya mungkin sudah panas, aku buat kopi dulu”.
Segera aku pergi ke dapur. “Kau mau kopi apa Maulana ?” tanyaku.
Maulana
: “Seperti biasa…..”jawabnya datar.
Saya
: “Ini kopinya, hati-hati masih terlalu panas. Aku memasaknya di kompor, tidak
dari dispenser”, cepat memberitahu, karena biasanya Maulana suka langsung
meminum kopinya.
Maulana
: “Oh…iya.terima kasih. Lanjutkan ceritamu”. Cepat maulana sambil memegang
gelasnya dan menyimpannya kembali, karena memang kopi tersebut masih terlalu
panas untuk dinikmati.
Saya
: “Dalam kuliah itu, Kang Ami menceritakan padaku tentang tema ‘kembalinya
segala sesuatu’, akhir dari tema filsafat pemberontakan Friedrich Nietzsche.
Ada yang terlewat sebenarnya, yaitu tentang Ubermensch. Kang Ami lupa membawa
filenya, setelah mencari-cari di laptopnya”.
Maulana
: “Lalu, apa masalahmu ?”, potong Maulana sambil menikmati kopinya.
Saya
: “Ya itu….tentang tema itu, ‘kembalinya segala sesuatu’, aku tidak cukup paham
Maulana. Aku sulit sekali memahami tema itu. Konon tema itu merangkum semua
dari ide-ide F. Nietzsche.
Maulana
: “Semuanya ?”, tanya Maulana Penasaran.
Saya
: “Ya….semuanya”, jawabku cepat. “Tidak hanya seperti yang Kang Ami ungkap, aku
juga baca di buku karangan ST Sunardi yang membahas tentang pemikiran
Nietzsche. Bahwa gagasan Nietzsche, dimulai dari ‘nihilisme’, ‘kehendak untuk
berkuasa’, ‘revaluasi nilai’, ‘moralitas tuan-moralitas budak’, dan Ubermensch,
semuanya terangkum dalam totalitas dari gagasan ‘kembalinya segala sesuatu’. Di
tema itu juga, konon Nietzsche berusaha menulisnya tidak dalam bentuk aforisme
lagi, melainkan dalam bentuk skematisasi. Maksudnya, Nietzsche ingin berusaha
meyakinkan banyak orang bahwa gagasannya termasuk dalam kategori ilmiah.
Nietzsche pun merasa bahagia sekali ketika mendapatkan gagasan ‘kembalinya
segala sesuatu’, sampai ia menyebutnya sebagai pengetahuan yang mengasyikan (la
gaya scienza).”, aku coba terangkan apa yang aku tahu pada Maulana.
Maulana
: “Tadi kau bilang ada yang terlewat…..?”, potong Maulana berusaha memahami
jalan pikiranku.
Saya
: “Iya….tentang ‘Ubermensh’. Dan itu akan dibahas senin besok !”, jawabku penuh
percaya.
Maulana
: “Nah…itu masalahmu. Bersabarlah dalam memahami sesuatu. Jangan terburu-buru.
Belajar filsafat itu menuntut kesabaran, bukan pada hasilnya, tapi dari
prosesnya ! Bagaimana kamu memahaminya dengan baik sambil diterapkan dalam
keseharian kamu”.
Saya
: “Ya…aku sudah dengar itu dari Kang Ami di awal sesi kuliah filsafat
pemberontakan ini. Bukan hanya sekedar tahu dan menjadi ahli filsafat, tapi
lebih pada sikap sebagai sebagai Filusuf itu sendiri, wise atau wisdom. Yang
tidak cukup dengan rasio saja, rasa dan karsa juga harus dilibatkan. Dan semua
manusia adalah Filusuf, jika bisa mendayagunakan segenap potensi yang ada dalam
dirinya”.
Maulana
: “Betul itu…….”, jawab Maulana cepat, sambil berdiri hendak pergi.
“rais……rais…..aku senang melihatmu gelisah. Namun, tak cukup dengan gelisah
saja, kamu harus buat jejak dalam hidupmu !”…..terdiam sejenak….”kamu ingin
paham tentang tema itu ?”
Saya
: “Ya iyalah Maulana”, pungkasku semangat.
Maulana
: “kalau begitu, sebut saja namaku 3 kali atau ratusan kali, lalu kau tulis
segala keinginanmu. Kamu pasti akan mengerti tentang ‘kembalinya segala
sesuatu’. Buang Segala bentuk ketakutan !....hahahahaha………”Maulana mengambil
gelas kopinya, dan menyiramkannya pada wajahku. Pergi menghilang dengan tawanya
yang lepas.
Sontak….segera
aku terbangun dari tidurku, terlihat disampingku segelas kopi bahe, mungkin
karena tersenggol oleh badanku. Cepat aku ambil baju kotor untuk mengelapnya
agar tidak tercecer kemana-mana. Tertegun memikirkan kejadian dalam mimpi,
benar memang Maulana datang di mimpiku. Mencoba mengingat-ingat apa yang
dikatakan Maulana dalam mimpi, aku lebih baik tulis saja,
“Maulana…….Maulana…….Maulana…….
Keinginanku
sekarang ini,
Menyiapkan
tulisan hasil dari kuliah filsafat pemberontakan ala Nietzsche yang berlangsung
di Sophia
Memperbaiki
tulisan, segera menerbitkan buletin Sophia edisi ke-II dan selanjutnya
Memperbaiki
blog Sophia atau Taman Baca Sophia, dan mengelolanya dengan baik.
Buang
segala ketakutan ! begitu ungkap Maulana….hmmmmmm……aku masih kurang paham,
mungkin bisa lebih jelas setelah dapat materi tentang Ubermensch senin besok.
La
gaya Maulana……
to
be continue untuk ‘kembalinya segala sesuatu’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar