Selasa, 13 November 2018

CINTA RASULLAH


Allah itu tujuan, tentu saja. Allah itu adalah orientasi utama dalam setiap doa-doa yang kita panjatkan, pasti. Karena itulah kita bersaksi kepada Allah dalam syahadat. Bersaksi kepada-Nya adalah meneguhkan kesadaran hanya Dia-lah "yang-awal" dan "yang-akhir". Hanya Dia dan hanya Dia muara dari seluruh gelisah dan pinta manusia.
Tapi benarkah kesadaran manusia bisa menunjukkan secara langsung bahwa Allah adalah sosok yang pantas disaksikan? Bisa! Kesadaran manusia bisa hidup dan berfungsi salah satunya karena ilmu. Ilmu menampilkan pengertian. Ilmu memberikan pemahaman. Ilmu membantu menumbuhkan keyakinan. Kesadaran manusia berhutang budi salah satunya kepada ilmu.
Apakah hanya dengan ilmu kesadaran manusia bisa dibangkitkan?
Mari kita lihat kalimat syahadat. Dalam kalimat syahadat tidak hanya Allah saja yang kita persaksikan keberadaanya. Tapi juga kita bersaksi tentang sosok lain, yaitu Muhammad. Siapa dia? Dia lah rasulullah. Manusia yang dipilih Allah untuk menjadi utusan-Nya.
Kenapa Allah memerlukan utusan? Bukankah Dia kuasa dalam segala hal? Bukankah dia tidak bergantung dan membutuhkan apapun dari manusia bahkan kepada Muhammad sekalipun? Tapi melalui al-Qur'an Allah memberikan jawaban: "Katakanlah olehmu Muhammad jika kamu sekalian mencintai Allah, maka ikutilah aku".

Jadi. Kesadaran manusia untuk hanya bersaksi kepada Allah itu diantarai oleh persaksian kita kepada Muhammad sebagai utusan Allah. Kenapa bersaksi butuh "antara". Kenapa tidak langsung? Kalimat syahadat secara langsung memberikan jawaban bahwa bersaksi kepada Allah memerlukan bentuk persaksian lain, yaitu persaksian kepada Muhammad rasulullah. Muhammad adalah posisi antara. Sosok yang bisa menjadi persaksian manusia kepada Allah.
Selesaikah urusanya?! Belum!!!
Para syahabat yang sezaman dengan rasulullah sungguh beruntung. Mereka bisa langsung bersyahadat secara benar. Kenapa? Sebuah persaksian disebut dibenar karena si penyaksi bisa melihat fisik sosok yang dipersaksikannya. Bagaimana dengan kita? Allah azzw wajalla tak terlihat begitu juga Muhammad rasulullah telah lama wafat. Benarkah kita telah bersyahadat? Apa yang kita syahadatkan jika Allah dan rasulullah tidak kelihatan?
Jika bersyahadat meniscayakan "antara". Membutuhkan media. Maka persaksian kita kepada khalifah rasul itulah jawabannya. Bersaksi kepada khalifah rasul adalah bersaksi bahwa rasulullah ada sekaligus bersaksi bahwa Allah itu ada. Begitu ringkasnya. Siapa khalifah rasul?
Dalam kerangka Asy-Syahadatain, khalifah rasul itulah Syeikhuna. Siapa Syeikhuna? Dialah manusia yang menuntun. Dia menuntun manusia supaya pengenalan dan persaksian kepada Allah dan rasulullah benar sebagai persaksian.
Syeikhuna, dia lah manusia pilihan yang mewakafkan dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk umat. Dia lah manusia yang memelihara, menjaga dan menumbuhkan kesadaran. Kesadaran hanya Allah-lah alfa dan omeganya kehidupan manusia. Allahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...