Allah itu tujuan, tentu saja. Allah itu adalah orientasi
utama dalam setiap doa-doa yang kita panjatkan, pasti. Karena itulah kita
bersaksi kepada Allah dalam syahadat. Bersaksi kepada-Nya adalah meneguhkan
kesadaran hanya Dia-lah "yang-awal" dan "yang-akhir". Hanya
Dia dan hanya Dia muara dari seluruh gelisah dan pinta manusia.
Tapi benarkah kesadaran manusia bisa menunjukkan secara
langsung bahwa Allah adalah sosok yang pantas disaksikan? Bisa! Kesadaran manusia bisa hidup dan berfungsi salah satunya
karena ilmu. Ilmu menampilkan pengertian. Ilmu memberikan pemahaman. Ilmu
membantu menumbuhkan keyakinan. Kesadaran manusia berhutang budi salah satunya
kepada ilmu.
Apakah hanya dengan ilmu kesadaran manusia bisa
dibangkitkan?
Mari kita lihat kalimat syahadat. Dalam kalimat syahadat
tidak hanya Allah saja yang kita persaksikan keberadaanya. Tapi juga kita
bersaksi tentang sosok lain, yaitu Muhammad. Siapa dia? Dia lah rasulullah.
Manusia yang dipilih Allah untuk menjadi utusan-Nya.
Kenapa Allah memerlukan utusan? Bukankah Dia kuasa dalam
segala hal? Bukankah dia tidak bergantung dan membutuhkan apapun dari manusia
bahkan kepada Muhammad sekalipun? Tapi melalui al-Qur'an Allah memberikan
jawaban: "Katakanlah olehmu Muhammad jika kamu sekalian mencintai Allah,
maka ikutilah aku".
Jadi. Kesadaran manusia untuk hanya bersaksi kepada Allah
itu diantarai oleh persaksian kita kepada Muhammad sebagai utusan Allah. Kenapa
bersaksi butuh "antara". Kenapa tidak langsung? Kalimat syahadat
secara langsung memberikan jawaban bahwa bersaksi kepada Allah memerlukan
bentuk persaksian lain, yaitu persaksian kepada Muhammad rasulullah. Muhammad
adalah posisi antara. Sosok yang bisa menjadi persaksian manusia kepada Allah.
Selesaikah urusanya?! Belum!!!
Para syahabat yang sezaman dengan rasulullah sungguh
beruntung. Mereka bisa langsung bersyahadat secara benar. Kenapa? Sebuah
persaksian disebut dibenar karena si penyaksi bisa melihat fisik sosok yang
dipersaksikannya. Bagaimana dengan kita? Allah azzw wajalla tak terlihat begitu
juga Muhammad rasulullah telah lama wafat. Benarkah kita telah bersyahadat? Apa
yang kita syahadatkan jika Allah dan rasulullah tidak kelihatan?
Jika bersyahadat meniscayakan "antara".
Membutuhkan media. Maka persaksian kita kepada khalifah rasul itulah
jawabannya. Bersaksi kepada khalifah rasul adalah bersaksi bahwa rasulullah ada
sekaligus bersaksi bahwa Allah itu ada. Begitu ringkasnya. Siapa khalifah
rasul?
Dalam kerangka Asy-Syahadatain, khalifah rasul itulah
Syeikhuna. Siapa Syeikhuna? Dialah manusia yang menuntun. Dia menuntun manusia
supaya pengenalan dan persaksian kepada Allah dan rasulullah benar sebagai
persaksian.
Syeikhuna, dia lah manusia pilihan yang mewakafkan dan
mengabdikan seluruh hidupnya untuk umat. Dia lah manusia yang memelihara,
menjaga dan menumbuhkan kesadaran. Kesadaran hanya Allah-lah alfa dan omeganya
kehidupan manusia. Allahu a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar