Minggu, 11 November 2018

SONTOLOYO


Tema "sontoloyo" tibatiba menjalar mengepung pikiran manusia Indonesia kontemporer. Pro dan kontra di sana-sini. Sebagian menyebutnya sebagai terma peyoratif yang tak patut dilisankan oleh orang sekelas presiden. Sebagiannya bertahan dengan argumen tentang akurasi terma itu.
Ada yang salah dalam cara kita berpolitik. Ada yang tak patut pada cara kita mengkomunikasikan demokrasi dan kekuasaan. Sontoloyo lalu ditahbis sebagai sebutan bagi perilaku yang menjadikan politik dan demokrasi sebagai kurusetra. Medan pertempuran yang menghalalkan segala cara. Arena pertempuran yang hanya mengumbar hasrat purba manusia yang nihil etika dan keadaban.
Melampaui sebutan yang dilekatkan pada perilaku politisi yang hanya mengumbar hasrat purba dalam memburu kekuasaan, sontoloyo memiliki riwayat dan akar persoalan yang tidak sederhana. Paling tidak menurut saya. Ehmm...
Begini. Pertama, sontoloyo itu resultan atau akumulasi dari kekeliruan berpikir. Berpikir yang benar tidak sekadar benar dalam kalkulasi logika yang mempertimbangkan premis mayor, premis minor lalu konklusi. Berpikir yang benar adalah kesadaran menemukan "yang-paling-baik" diantara "yang-baik".

Menyempal dari logika modernisme yang menekankan tentang "biner-oposisi" (baik-buruk), berpikir yang benar adalah tindakan aktif yang sadar tentang fungsi dan kedudukan akal yang sedemikian istimewa bagi manusia. Sampai di sini mengerti? Mengerti sajalah biar cepat urusan. Oke my lov?!
Kedua. Sontoloyo itu jumlah dari kegagalan qalbu untuk memahami. Memahami yang benar adalah gerak terukur yang sanggup membedakan mana "yang-sempurna" dan mana "yang-paling-sempurna". Bukan deret paradigmatik yang dipakai di sini, sebaliknya ia menggunakan deret sintagmatik. Deret sintagmatik tidak mengenal lawan (subjek-objek) tapi siasat menemukan "yang-lain" yang sejajar (primus interpares) sebagai cermin untuk meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik.
Pemahaman selalu berrelasi dengan qalbu. Karena qalbu adalah entitas yang tidak hanya lembut tapi juga spiritual yang dilesakkan Tuhan untuk manusia sebagai self control yang mustahil berdusta sekalipun mulut melisankan kebenaran. Fahimtum? Fahimnaaaaa.... !!!!
Ketiga. Sontoloyo itu akumulasi dari kebrengsekan "perut" dalam menemukan dan mengejar dunia. Termasuk posisi dan jabatan. Selebihnya adalah telunjuk dan kekuasaan. Menemukan dunia yang benar adalah kesanggupan untuk meraih "yang-paling-utama" dari "yang-utama". Ini terminologi agama atau tuntunan yang sumbernya dari Tuhan melalui para nabi dan orang-orang shalih. Dalam bahasa teologis ia disebut sebagai "halalan toyyiba" (cieeee... ).
Nah. Sontoloyo itu pada akhirnya adalah jumlah keseluruhan dari cacat bahkan rusaknya keutuhan kemanusiaan yang fondasinya dibangun oleh aqal, qalbu dan perut. Manusia yang cacat bahkan rusak pasti sontoloyo. Sebenar-benarnya sontoloyo. The real sontoloyo. Karena ia seperti binatang bahkan lebih buruk derajatnya dari binatang. Beyond animals. Itulah makna dari teks suci tentang prasa "balhum adhol". Sontoloyo siah!!!
Sekian dan terimakasih. Allahu a'lam

By : De Also –Layang Kusumah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...