Tema "sontoloyo" tibatiba menjalar mengepung
pikiran manusia Indonesia kontemporer. Pro dan kontra di sana-sini. Sebagian
menyebutnya sebagai terma peyoratif yang tak patut dilisankan oleh orang
sekelas presiden. Sebagiannya bertahan dengan argumen tentang akurasi terma
itu.
Ada
yang salah dalam cara kita berpolitik. Ada yang tak patut pada cara kita
mengkomunikasikan demokrasi dan kekuasaan. Sontoloyo lalu ditahbis sebagai
sebutan bagi perilaku yang menjadikan politik dan demokrasi sebagai kurusetra.
Medan pertempuran yang menghalalkan segala cara. Arena pertempuran yang hanya
mengumbar hasrat purba manusia yang nihil etika dan keadaban.
Melampaui
sebutan yang dilekatkan pada perilaku politisi yang hanya mengumbar hasrat
purba dalam memburu kekuasaan, sontoloyo memiliki riwayat dan akar persoalan
yang tidak sederhana. Paling tidak menurut saya. Ehmm...
Begini.
Pertama, sontoloyo itu resultan atau akumulasi dari kekeliruan berpikir.
Berpikir yang benar tidak sekadar benar dalam kalkulasi logika yang mempertimbangkan
premis mayor, premis minor lalu konklusi. Berpikir yang benar adalah kesadaran
menemukan "yang-paling-baik" diantara "yang-baik".
Menyempal dari logika modernisme yang menekankan tentang
"biner-oposisi" (baik-buruk), berpikir yang benar adalah tindakan
aktif yang sadar tentang fungsi dan kedudukan akal yang sedemikian istimewa
bagi manusia. Sampai di sini mengerti? Mengerti sajalah biar cepat urusan. Oke
my lov?!
Kedua.
Sontoloyo itu jumlah dari kegagalan qalbu untuk memahami. Memahami yang benar adalah
gerak terukur yang sanggup membedakan mana "yang-sempurna" dan mana
"yang-paling-sempurna". Bukan deret paradigmatik yang dipakai di
sini, sebaliknya ia menggunakan deret sintagmatik. Deret sintagmatik tidak
mengenal lawan (subjek-objek) tapi siasat menemukan "yang-lain" yang
sejajar (primus interpares) sebagai cermin untuk meningkatkan kualitas diri
menjadi lebih baik.
Pemahaman
selalu berrelasi dengan qalbu. Karena qalbu adalah entitas yang tidak hanya
lembut tapi juga spiritual yang dilesakkan Tuhan untuk manusia sebagai self
control yang mustahil berdusta sekalipun mulut melisankan kebenaran. Fahimtum?
Fahimnaaaaa.... !!!!
Ketiga.
Sontoloyo itu akumulasi dari kebrengsekan "perut" dalam menemukan dan
mengejar dunia. Termasuk posisi dan jabatan. Selebihnya adalah telunjuk dan
kekuasaan. Menemukan dunia yang benar adalah kesanggupan untuk meraih
"yang-paling-utama" dari "yang-utama". Ini terminologi
agama atau tuntunan yang sumbernya dari Tuhan melalui para nabi dan orang-orang
shalih. Dalam bahasa teologis ia disebut sebagai "halalan toyyiba"
(cieeee... ).
Nah.
Sontoloyo itu pada akhirnya adalah jumlah keseluruhan dari cacat bahkan
rusaknya keutuhan kemanusiaan yang fondasinya dibangun oleh aqal, qalbu dan
perut. Manusia yang cacat bahkan rusak pasti sontoloyo. Sebenar-benarnya
sontoloyo. The real sontoloyo. Karena ia seperti binatang bahkan lebih buruk
derajatnya dari binatang. Beyond animals. Itulah makna dari teks suci tentang
prasa "balhum adhol". Sontoloyo siah!!!
Sekian
dan terimakasih. Allahu a'lam
By : De Also –Layang Kusumah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar