Santet merupakan salah satu ilmu yang kerap menjadi kontroversi karena dianggap bertentangan dengan agama. Tapi jika dihadapkan pada fenomena sosial di masyarakat, akan berbeda ceritanya. Ilmu tersebut selalu ada, banyak yang mencaci akan tetapi juga banyak yang mencari. Selain di nusatara ilmu ini juga berkembang di Negara lain seperti Eropa, Afrika, India, dan di bagian lain dunia ini.
Ilmu santet ini tidak hanya menggunakan kekuatan pikiran dan bantuan makhlus halus, ada banyak cara yang sering dilakukan oleh para dukun pengguna santet dalam mengirimkan teluhnya. Salah satunya dengan cara lebih berfokus bagaimana mengubah benda yang akan dijadikan medium itu berubah menjadi energi yang bisa menyerang secara kasatmata ke dalam tubuh target, hanya dengan energi dari benda yang dijadikan medium ini yang paling susah untuk penyembuhannya karena barang masih di pegang si pengirim santet.
Contoh dari barang yang hadi kirim energinya saja diantaranya paku, silet, dan lainnya diubah menjadi semacam energi untuk dikirim secara gaib kepada seseorang di tempat lain dengan tujuan merusak ke dalam tubuh target. Kasus diatas merupakan pengembangan dari kasus pengriman dari padat ke energi dan di kepadatkan lagi setelah mencapai target/orang yang dituju. Akan tetapi di kasusu ini, energi tersebut tidak diubah kembali menjadi mated aslinya (rematerialisasi). Akan tetapi tetap menjadi energi dan mediumnya tetap di pegang sama pengirim santetnya.
Dalam kasusu ini si-praktisi penyembuh haruslah bisa menemus pada tempat dimana si pengirim santet tersebut. Karena hanya dengan tahu dari mana dan siapa pengirimnya si-praktisi akan meminta langsung si pengirim untuk mencabut energi dari medium tersbut yang sudah merasuk pada diri target.
Penulis mengetahui adanya fenomena ini terkait kasus yang di hadapai di daerah tasikmalaya yaitu ketika salah seorang target terserang santet. Dimana si target tidak merasakan kesakitan dalam tubuhnya akan tetapi terjadi perubahan yang tidak normal pada tubuhnya. Setelah melakukan analisa ternyata si target mendapatkan serang dari energi medium jenis besi yang mengakibatkan fisik gatal dan ada keracunan di seluran darah, hingga mengakibatkan adanya gelembung-gelembung darah yang di akibatkan karena tidak lancarnya peredaran.
Santet jenis ini susah untuk di idetifikasi kena santet karena semua akan menganggap itu medik, akan tetapi kalau terus di tangani oleh medik malah akan lebih parah karena akan terjadi infeksi di sana sini. Akan tetapi tidak semua praktisi/paranormal tau akan adanya santet sejenis ini, karena ketika di scan dengan menggunakan terawangan atau sejenisnya untuk menganalisa tidak akan di temukan barang atau benda di dalam tubuh si pasien/target.
Akan tetapi tidak ada sakit tanpa obat dan kita percaya Allah Swt., menurukan penyakit dengan obatnya. Penulis pun sama berpendapat seperti itu yaitu “ ada penyakit pasti ada obat”. Dalam kasus tasikmalaya kami penulis dan teman-teman satu tim melakukan analisa dan penerawangan. Penulis mencoba membagi tugas teman-teman satu tim karena kebetulan oleh sesepuh dari tim, penulis di minta untuk menjadi korlap (yang mengkondisikan di lapangan).
Di waktu itu penulis mencuba untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga tersebut, karena menurut pandangan lahir tidak ada masalah selain dari masalah sakit medic. Setelah melakukakan scanan dengan penerawangan penulis menemukan satu titik dalam tubuh yang berubah ata beda dari susunan biasanyan ada penggelembungan energi yang bukan dari dalam tubuh, kebetulan kami menanganin 4 pasien dalam satu kali waktu. Pasien-A ada yang beda di daerah pusar dan tulang punggung, pasien-b ada yang beda di pinggul tulang kanan sampe ujung anus, pasien-c kacau peredaran darahnya di ulu hatinya, pasien-d murni mistik, pasien-d hanya di ikat khodam pendampingnya dalam satu lorong di daerah ulu palembang.
Akhirnya kami dengan di bantu beberapa keluarganya dapat juga menyelesaikan tugas kami yang di berikan oleh para sesepuh komunitas kami, dengan pergulatan semalamman dan dilanjutkan siang harinya kami menyelesaikan dari malam hingga jam sepuluh pagi, walaupun dengan keadaan babak belur kami berhasil juga melakukan pengobatan tersebut, dan kami pulang sekitar ashar pas magrib kami sudah sampai kota kembang dengan keadaan lelah akan tetapi berbahagia tugas sudah terselesaikan. terima kasih kepada semua yang telah membantu salam pasamoan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar