Lanjutan dari Membakar Daratan bersama Nelayan tua
Kulangkahkan kaki ke arah pantai. Kupanggil tukang sampan
di muara sungai, Ternyata, ada enam orang dibelakangku yang juga minta diantar
ke seberang sana. Di atas sampan wajahku berhadapan dengan wajah mereka. Lelaki
tua berambut hitam putih berwajah ramah. Ia tersenyum kepadaku sambil
menganggukkan kepalanya. Aku balas gerakan itu, juga dengan senyum di wajah.
“Mau
ke mana Nak?” ia bertanya.
"Entah
mau kemana pak, hanya sekedar ingin jalan-jalan. Bapak mau ke mana?" Aku
balik bertanya.
"Mau
ke tengah laut, mencari ikan. Kami nelayan, sekarang ini memang waktu kami
untuk berlayar," jawabnya.
Ingin
rasanya aku meminta di bawa pergi ke tengah laut, tapi aku segan. Namun setelah
rasa itu bercampur aduk, tak kuhiraukan apa yang sebenarnya bergejolak dalam
hati sampai pada titik kesimpulan “aku harus ikut ketengah laut”, dan segera
aku berkata,
"Bolehkah
saya ikut pak? Ke tengah laut bersama para nelayan lainya. Aku tidak akan
merepotkan," pintaku dengan sedikit memelas.
"Sudah
pernah melaut sebelumnya?" tanya nelayan wajah ramah.
"Belum.
Tapi aku tahu aku memiliki perut yang kuat. bapak tidak usah khawatir, aku
tidak akan mabuk laut," jawabku.
"Kau
membawa bekal makanan?" tanya dia lagi.
"Sayangnya
tidak. Tapi kalau aku diberi sedikit waktu, aku bisa membeli makanan
sekarang," jawabku. Lelaki itu tersenyum sambil memandangku.
"Kau
benar-benar ingin ikut ya? Baiklah, tapi kita tidak punya banyak waktu lagi.
Kau tak perlu membeli makanan, aku rasa bekal kami cukup untuk dibagi denganmu.
Mari kita jalan bersama.
PERAHU kayu angkat jangkar. Mesin dieselnya dinyalakan,
bunyi berisik mengalahkan gemuruh ombak. Lambat-lambat perahu ini bergerak,
keluar dari pelabuhan menuju laut lepas. Hantaman ombak yang sangat kuat
menyulitkan nakhoda untuk mengendalikan perahu maju ke depan. Setelah setengah
jam berjuang, perahu ini akhirnya bergerak menjauhi pantai. Ah, lihat laut
lepas di depan sana. Belum pernah aku merasa sebebas ini.
Angin merembus kencang menuju perahu, Gelombang laut
setinggi bukit seakan-akan melahap bulat-bulat perahu yang aku tumpangi. Perahu
terombang-ambing dengan keras seperti daun kering yang melayang diatas sungai
berbatu. Dengan bersusah payah aku berjalan ke haluan, lalu aku berdiri di sana
seperti seorang laksamana. Kubiarkan angin menerpa tubuh, dan rambutku terhelai
mengikuti arah angin. Badanku ikut naik turun mengikuti irama gerak perahu yang
diempas gelombang. Di haluan itu aku berteriak keras hingga sulit untuk
bernapas.
Aku merebahkan diri di atas geladak kayu. Oh, begitu
indahnya dunia, begitu luasnya bumi ini. Tidak kusadari Dua jam telah berlalu,
pantai sudah tak terlihat lagi. Aku benar berada ditengah-tengah samudera!
tiba-tiba ada gulungan ombak yang sangat besar. “Ya Tuhan, semoga omabak itu
tidak menggulung kami” aku berkata dalam hati. Perahu ini terangkat ke atas.
Semua orang ternganga dan aku menutup mata.
KETIKA kelopak mata kubuka. Matahari sudah tak menyengat
lagi. Dia kini berada di ufuk barat, warnanya jingga kemerahan. Kulihat
sekeliling, gelombang masih bergulung-gulung, tapi perahu ini bergerak
tenang. Suasana begitu sepi, suara mesin diesel itu tak terdengar lagi dan
semua orang terdiam.
Enam orang nelayan itu kini mulai menebar jala dan baru
usai ketika bulatan matahari tinggal tersisa puncaknya saja. Semburat merah dan
jingga mewarnai cakrawala. Alam terasa begitu agung. Tapi semua orang masih
juga belum bicara. Sampai nelayan tua yang agak ber-uban tadi berbicara
kepadaku.
"Mesin kapal dimatikan. Sekarang kita mengikuti arus
laut, ke mana kita akan dibawanya. Lepaskan segala ikatanmu, mungkin kita tak
akan pernah kembali," ujarnya datar.
Apa
maksudmu pak? Aku tak mengerti apa yang kau ucapkan bapak!"
Aku
mencoba menelisik. Tapi Nelayan tua kembali terdiam. Kulihat nelayan lain di
perahu ini. Mereka kini berada di sisi perahu, memegang tali pancing yang
ujungnya ada di dalam air. Wajah mereka tampak tenang dan teduh. Semuanya diam.
Tak lama berlalu, aku pun merasa sangat tenang dan khidmat.
Aku tak ingin bertanya lagi. Aku kembali merebahkan
badan, menerawang ke angkasa menyaksikan bulan sabit dan bintang-bintang yang
bermunculan, dengan suara dentingan yang lembut di telinga. Malam tiba dan
gelap menyergap di sekeliling. Tapi cahaya bintang dan bulan begitu megah di
angkasa. Aku masih terdiam, juga para nelayan ini.
Nelayan tua itu masuk ke dalam ruang dan menyalakan
Damar. Percikan cahaya yang berasal dari dammar itu menari-nari ditiup angin.
Suasana begitu hening dan hanya desiran angin lembut yang terdengar di telinga.
"Ah,
rupanya kita memang tak akan pernah kembali,"
Nelayan
tua itu kembali memecahkan keheningan lagi. Aku menatapnya dengan tajam. Aku
tetap tak mengerti apa maksud perkataannya. Tapi mulutku seakan terkunci untuk
mengajukan pertanyaan. Aku hanya menatapnya, terus menatap matanya dengan
pandangan tajam.
Nelayan tua membalas tatapanku dan ia tersenyum. Dengan
gerakan mata, ia perintahkan aku untuk melihat ke depan perahu ini. Oh, ada
kabut tebal di depan sana dan perahu ini bergerak mendekatinya. Tak berapa
lama, perahu ini masuk ke dalam gulungan kabut. Ya Tuhan terasa sangat dingin
sekali! Aku baru tersadar, tak kudengar lagi suara gemuruh ombak dan gelombang,
yang terdengar hanya kecipak air. Badanku menggigil, yang terasa hanya dingin
sekali!
kabut mulai bergerak menghilang. Kehangatan mulai
menyelimutiku. Aku merasa sangat lega dan lepas, perasaanku begitu damai. Bulan
sabit terasa begitu dekat. Aku tak tahu lagi apakah kami masih berada di tengah
laut atau sedang mengangkasa bersama perahu ini.
"Maafkan aku nak, kita tidak akan kembali
lagi,"
Nelayan
tua tiba-tiba memecah keheningan. Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti
ucapannya. Pikiranku melayang kepada ombak besar itu. Ah, rupanya aku memang
tidak bisa kembali. Seperti juga para nelayan ini. Kami memang tidak akan
kembali. Langit dan laut seakan menyatu dan menjadi lebih terang dari
sebelumnya.
Warnanya gradasi biru, dari yang paling gelap
menuju yang paling terang. Bulan sabit bersinar dengan warna perak, bintang
bertebaran di angkasa seperti tebaran berlian di atas beludru biru gelap.
Seharusnya pagi sudah menjelang, tapi kali ini malam akan selamanya tak beranjak.
Perahu kami terus bergerak perlahan, di permukaan laut yang tak bertepi. Aku
tak lagi merindukan daratan lagi.
By Jal Wahid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar