Selasa, 20 November 2018

MEMBAKAR DARATAN BERSAMA NELAYAN TUA Bag. 2

Kulangkahkan kaki ke arah pantai. Kupanggil tukang sampan di muara sungai, Ternyata, ada enam orang dibelakangku yang juga minta diantar ke seberang sana. Di atas sampan wajahku berhadapan dengan wajah mereka. Lelaki tua berambut hitam putih berwajah ramah. Ia tersenyum kepadaku sambil menganggukkan kepalanya. Aku balas gerakan itu, juga dengan senyum di wajah.
“Mau ke mana Nak?” ia bertanya.
"Entah mau kemana pak, hanya sekedar ingin jalan-jalan. Bapak mau ke mana?" Aku balik bertanya.
"Mau ke tengah laut, mencari ikan. Kami nelayan, sekarang ini memang waktu kami untuk berlayar," jawabnya.
Ingin rasanya aku meminta di bawa pergi ke tengah laut, tapi aku segan. Namun setelah rasa itu bercampur aduk, tak kuhiraukan apa yang sebenarnya bergejolak dalam hati sampai pada titik kesimpulan “aku harus ikut ketengah laut”, dan segera aku berkata,
"Bolehkah saya ikut pak? Ke tengah laut bersama para nelayan lainya. Aku tidak akan merepotkan," pintaku dengan sedikit memelas.
"Sudah pernah melaut sebelumnya?" tanya nelayan wajah ramah.
"Belum. Tapi aku tahu aku memiliki perut yang kuat. bapak tidak usah khawatir, aku tidak akan mabuk laut," jawabku.

"Kau membawa bekal makanan?" tanya dia lagi.
"Sayangnya tidak. Tapi kalau aku diberi sedikit waktu, aku bisa membeli makanan sekarang," jawabku. Lelaki itu tersenyum sambil memandangku.
"Kau benar-benar ingin ikut ya? Baiklah, tapi kita tidak punya banyak waktu lagi. Kau tak perlu membeli makanan, aku rasa bekal kami cukup untuk dibagi denganmu. Mari kita jalan bersama.
PERAHU kayu angkat jangkar. Mesin dieselnya dinyalakan, bunyi berisik mengalahkan gemuruh ombak. Lambat-lambat perahu ini bergerak, keluar dari pelabuhan menuju laut lepas. Hantaman ombak yang sangat kuat menyulitkan nakhoda untuk mengendalikan perahu maju ke depan. Setelah setengah jam berjuang, perahu ini akhirnya bergerak menjauhi pantai. Ah, lihat laut lepas di depan sana. Belum pernah aku merasa sebebas ini.
Angin merembus kencang menuju perahu, Gelombang laut setinggi bukit seakan-akan melahap bulat-bulat perahu yang aku tumpangi. Perahu terombang-ambing dengan keras seperti daun kering yang melayang diatas sungai berbatu. Dengan bersusah payah aku berjalan ke haluan, lalu aku berdiri di sana seperti seorang laksamana. Kubiarkan angin menerpa tubuh, dan rambutku terhelai mengikuti arah angin. Badanku ikut naik turun mengikuti irama gerak perahu yang diempas gelombang. Di haluan itu aku berteriak keras hingga sulit untuk bernapas.
Aku merebahkan diri di atas geladak kayu. Oh, begitu indahnya dunia, begitu luasnya bumi ini. Tidak kusadari Dua jam telah berlalu, pantai sudah tak terlihat lagi. Aku benar berada ditengah-tengah samudera! tiba-tiba ada gulungan ombak yang sangat besar. “Ya Tuhan, semoga omabak itu tidak menggulung kami” aku berkata dalam hati. Perahu ini terangkat ke atas. Semua orang ternganga dan aku menutup mata.
KETIKA kelopak mata kubuka. Matahari sudah tak menyengat lagi. Dia kini berada di ufuk barat, warnanya jingga kemerahan. Kulihat sekeliling, gelombang masih bergulung-gulung, tapi  perahu ini bergerak tenang. Suasana begitu sepi, suara mesin diesel itu tak terdengar lagi dan semua orang terdiam.
Enam orang nelayan itu kini mulai menebar jala dan baru usai ketika bulatan matahari tinggal tersisa puncaknya saja. Semburat merah dan jingga mewarnai cakrawala. Alam terasa begitu agung. Tapi semua orang masih juga belum bicara. Sampai nelayan tua yang agak ber-uban tadi berbicara kepadaku.
"Mesin kapal dimatikan. Sekarang kita mengikuti arus laut, ke mana kita akan dibawanya. Lepaskan segala ikatanmu, mungkin kita tak akan pernah kembali," ujarnya datar.
Apa maksudmu pak? Aku tak mengerti apa yang kau ucapkan bapak!"
Aku mencoba menelisik. Tapi Nelayan tua kembali terdiam. Kulihat nelayan lain di perahu ini. Mereka kini berada di sisi perahu, memegang tali pancing yang ujungnya ada di dalam air. Wajah mereka tampak tenang dan teduh. Semuanya diam. Tak lama berlalu, aku pun merasa sangat tenang dan khidmat.
Aku tak ingin bertanya lagi. Aku kembali merebahkan badan, menerawang ke angkasa menyaksikan bulan sabit dan bintang-bintang yang bermunculan, dengan suara dentingan yang lembut di telinga. Malam tiba dan gelap menyergap di sekeliling. Tapi cahaya bintang dan bulan begitu megah di angkasa. Aku masih terdiam, juga para nelayan ini.
Nelayan tua itu masuk ke dalam ruang dan menyalakan Damar. Percikan cahaya yang berasal dari dammar itu menari-nari ditiup angin. Suasana begitu hening dan hanya desiran angin lembut yang terdengar di telinga.
"Ah, rupanya kita memang tak akan pernah kembali,"
Nelayan tua itu kembali memecahkan keheningan lagi. Aku menatapnya dengan tajam. Aku tetap tak mengerti apa maksud perkataannya. Tapi mulutku seakan terkunci untuk mengajukan pertanyaan. Aku hanya menatapnya, terus menatap matanya dengan pandangan tajam.
Nelayan tua membalas tatapanku dan ia tersenyum. Dengan gerakan mata, ia perintahkan aku untuk melihat ke depan perahu ini. Oh, ada kabut tebal di depan sana dan perahu ini bergerak mendekatinya. Tak berapa lama, perahu ini masuk ke dalam gulungan kabut. Ya Tuhan terasa sangat dingin sekali! Aku baru tersadar, tak kudengar lagi suara gemuruh ombak dan gelombang, yang terdengar hanya kecipak air. Badanku menggigil, yang terasa hanya dingin sekali!
kabut mulai bergerak menghilang. Kehangatan mulai menyelimutiku. Aku merasa sangat lega dan lepas, perasaanku begitu damai. Bulan sabit terasa begitu dekat. Aku tak tahu lagi apakah kami masih berada di tengah laut atau sedang mengangkasa bersama perahu ini.
"Maafkan aku nak, kita tidak akan kembali lagi,"
Nelayan tua tiba-tiba memecah keheningan. Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti ucapannya. Pikiranku melayang kepada ombak besar itu. Ah, rupanya aku memang tidak bisa kembali. Seperti juga para nelayan ini. Kami memang tidak akan kembali. Langit dan laut seakan menyatu dan menjadi lebih terang dari sebelumnya.
Warnanya gradasi biru, dari yang paling gelap menuju yang paling terang. Bulan sabit bersinar dengan warna perak, bintang bertebaran di angkasa seperti tebaran berlian di atas beludru biru gelap. Seharusnya pagi sudah menjelang, tapi kali ini malam akan selamanya tak beranjak. Perahu kami terus bergerak perlahan, di permukaan laut yang tak bertepi. Aku tak lagi merindukan daratan lagi.

By Jal Wahid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...