Gempitanya tak sehebat pergantian perayaan tahun masehi.
Tak ada hitungan waktu yang diseru satu-satu. Tak ada panggung gembira dengan
penampilan artis-artis ternama. Tak ada gelegar kembang api yang memekakan
telinga. Pun tak ada ucapan pejabat tampil di publik dengan penampilan
dibuat-buat bersama janji untuk menjadi lebih baik.
Muharram
seumpama perawan malang yang "disingkirkan" keramaian. Dibiarkan
asyik sendirian. Dijauhi sapaan kasih sayang. Di ruang yang terasing dan sudut waktu yang seumpama tak bergerak, ia
tampak membisu dan kesepian. Tak ada hiasan warna-warni di tubuhnya. Bibirnya
pucat tak bergincu.
Muharram, mungkin tak patut dirayakan berlebihan. Dihiasi
kepalsuan apalagi pencitraan. Ia momen refleksi manusia menyapa bagian yang
paling dalam. Meneguhkan apa yang menjadi keyakinan yang paling inti. Titik
jumpa manusia untuk menakar kesadaran dengan bersaksi mungkin dengan sedikit
berjanji.
Bagi saya, muharram tidak sekadar penanda waktu. Ia
adalah kabar sejarah tentang peristiwa yang menggugah kesadaran manusia
seutuhnya. Ia adalah sejarah "penaklukan" hasrat dan nafsu. Hikayat
yang memutar seratus delapan puluh derajat orientasi manusia. "Hari ini
telah aku sempurnakan agama ini untukmu sekalian. Dan telah aku purnakan
seluruh nikmatku. Sungguh, aku ridla Islam sebagai agamamu".
Muharram seumpama perawan yang menjaga kehormatan
eksistensi dirinya. Martabat dirinya. Mungkin dengan menyepi. Mungkin sendiri.
Tapi kesendirian adalah peristiwa yang bisa membuka cakrawala kesadaran. Mampu
meruntuhkan tembok kesombongan yang sering mengemuka seenaknya.
Muharram adalah gerak kembali menengok sejarah seorang
manusia. Yang menjadi contoh dan keteladanan. Bahwa, penaklukan juga kekuasaan
tak seluruhnya diraih dengan ambisi dan dominasi. "Menaklukan"
hanyalah pintu menyebarkan rahmat untuk sekalian alam. Allahu a'lam
De Also Layang Kusumah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar