Selasa, 25 September 2018

SYAHADAT SEBAGAI TASAWUF JAMAN AKHIR


SYAHADAT SEBAGAI TASAWUF JAMAN AKHIR
(ngamanaken dhohir batin kabeh rakyat)

Tulisan ini merupakan hasil dari buah pikir mursyid besar Asy-Syahadatain yang bertempat di daerah Kabupaten cirebon tepatnya di desa panguragan.  
Apa artinya syahadat sebagai tashawwuf atau tazkiyyatun-nafs (penyucian diri) itu? Adakah dalil-dalil dari Alqur`an dan hadits berkenaan dengan syahadat sebagai tashawwuf? Sebagaimana telah diketahui bahwa para pemimpin spiritual kaum Sufi telah berjasa dalam menyebarkan ajaran Islam, baik di sub-benua India, Asia Tengah dan Tenggara, Afrika Tengah, Utara dan Selatan, atau di beberapa bagian di Rusia, Eropa, dan bahkan di Amerika pada masa sekarang, lantas darimanakah kaum Sufi itu berasal? Kapankah mereka muncul untuk pertama kalinya? Dimanakah posisi para Sahabat, para ulama madzhab fiqih dan ulama Ummat ini berkenaan dengan gerakan syahadat sebagai tashawwuf ini? pandangan dari ensiklopedia ini secara khusus akan menggarap prinsip-prinsip syahadat sebagai tashawwuf atau tazkiyatun-nafs (penyucian diri) serta berbagai jalan yang ditempuh oleh para pengikut Sufi yang telah mencapai banyak kemajuan.

Pada zaman sekarang Islam hanya diajarkan melalui kata-kata oleh orang-orang yang tidak mempedulikan pengamalannya secara murni dan menyucikan dirinya dalam tindakan nyata. Inilah yang digambarkan dalam hadits-hadits yang menyatakan, “Mereka akan menyuruh orang-orang dan tidak mengindahkan peringatan itu untuk dirinya sendiri. Mereka itulah seburuk-buruknya manusia.” Demikian pula Nabi saw. bersabda, “Saya tidak hanya menghawatirkan Dajjal atasmu semata.” Mereka bertanya, “Lantas hal lain apa lagi yang engkau khawatirkan?” Beliau bersabda, “Para ulama yang tidak mendapat petunjuk.” Nabi saw. juga bersabda, “Yang paling aku khawatirkan atau ummatku adalah kaum munafik yang memiliki lidah ulama.” Yang demikian itu bukanlah jalan yang ditempuh oleh para Sahabat, termasuk para Sahabat dari kalangan Ahlus-Suffah, yaitu para Sahabat yang tinggal di beranda-beranda Mesjid, yang berkenaan dengan merekalah ayat berikut diturunkan: [Wahai Muhammad,]
Hendaklah engkau bersabar bersama orang-orang yang selalu memanggil-manggil Tuhan mereka siang dan malam semata-mata mengharapkan ridha dari pada-Nya. Janganlah engkau palingkan pandangan dari mereka karena mengharapkan kemewahan hidup dunia, juga janganlah mengikuti orang-orang yang hatinya aku biarkan lalai dari mengingat-Ku dan lebih mengikuti dorongan hawa nafsunya, sehingga perbuatannya melampaui batas (18:28). Ini juga bukanlah jalan yang ditempuh oleh Abu Bakar as-Shiddiq, yang berkenaan dengannya Bakr ibnu Abdullah berkata, “Abu Bakar tidaklah lebih unggul daripada kalian karena shalat dan shaumnya yang banyak, akan tetapi karena suatu rahasia yang terhunjam di dalam hatinya.” Juga bukan jalan yang ditempuh oleh para Tabi`in seperti Hasan al-Basri, Sufyan ats-Tsauri, dan yang lain-lainnya dari generasi kaum Sufi selanjutnya yang menjadikan mereka sebagai model ikutannya.
Al-Qusyairi meriwayatkan bahwa al-Junaid berkata, “Tashawwuf atau penyucian diri bukanlah banyak melakukan shalat dan puasa, tetapi ketulus-ikhlasan yang sepenuhnya dan tidak mementingkan diri sendiri.” Yang semacam itu tadi bukan juga jalan yang ditempuh oleh para imam yang diakui yang menekankan zuhud (asketis, atau menjauhi cinta duniawi) dan wara`` (berhati-hati sekali takut melanggar aturan Allah), di samping melaksanakan segala kewajiban agama secara penuh. Imam Ahmad menyusun dua buah kitab dengan menggunakan dua sifat ini sebagai judul bagi masing-masing bukunya tersebut.
Beliau mendudukkan pengetahuan orang-orang suci yang shalih (yaitu para wali) di atas pengetahuan para ulama, sebagaimana digambarkan oleh murid beliau Abu Bakar al-Marwazi dalam riwayat berikut: Saya mendengar Fath ibnu Abi al-Fath berkata kepada Abu Abdillah (yaitu Imam Ahmad) pada saat sakit terakhirnya, ‘Mohonkanlah kepada Allah untuk kami agar Ia memberikan kepada kami seorang pengganti (khalîfah) yang baik sebagai penggantimu.’ Ia melanjutkan, ‘Siapakah yang harus kami mintai pengetahuan setelah engkau? Ahmad menjawab, ‘Tanyailah Abdul-Wahhab.’ Seseorang yang hadir di sana menceriterakan kepada saya bahwa ia bertanya, “Tetapi dia itu tidak banyak punya pengetahuan-‘ Abu Abdullah menjawab, “Dia itu adalah seorang shalih (innahû rajulun shâlihun), dan orang semacam dia itu dianugerahi kesanggupan mengatakan kebenaran.
Dalam sebuah fatwa yang masyhur, yang akan disebutkan di bawah nanti, seorang ulama Syafi`iyah, yaitu al-Izz ibnu Abdussalam memberikan prioritas yang sama kepada para Pengenal Allah (`ârifîn), di atas para ahli fiqih. Imam Malik memberikan penekanan yang sama mengenai kedudukan kesempurnaan batin dalam kata-katanya, “Agama tidaklah diperoleh dengan pengetahuan tentang berbagai riwayat, tetapi dengan cahaya Allah yang diletakkan di dalam hati.” Ibnu Ata’ullah mengutip Ibnu Arabi yang mengatakan, “Kepastian (al-yaqîn) itu tidak muncul dari bukti-bukti dalam fikiran, akan tetapi keluar dari lubuk hati.”
Karena inilah mengapa banyak di antara para imam memperingatkan agar tidak sekedar haus terhadap pengetahuan dengan mengorbankan pembinaan jiwa. Imam Ghazali meninggalkan ruang-ruang pengajaran di tengah karirnya yang sedang memuncak untuk menghususkan dirinya melakukan penyucian jiwa. Pada awal usahanya ini, ia menulis karyanya yang berkelas tinggi Ihyâ’u `ulûmiddîn, yang dimulai dengan suatu peringatan untuk siapa saja yang punya anggapan bahwa agama hanya meliput sekedar urusan fiqih.
Salah seorang Sufi awal dan ahli hadits (huffâz) terbesar pada masanya, yaitu Sufyan ats-Tsauri (meninggal th.161), menyampaikan peringatan yang sama. Beliau menujukan peringatannya ini kepada mereka yang menggunakan periwayatan hadits sebagai bukti keberagamaan. Beliau mengatakan, “Apabila hadits tidak mengandung kebaikan, maka ia akan lenyap sebagaimana halnya kebaikan telah lenyap. Mengejar ilmu hadits bukanlah bagian dari persiapan untuk kematian, tetapi merupakan suatu penyakit yang mengasyikan orang-orang.”
Adz-Dzahabi mengomentarinya: Demi Allah beliau telah mengatakan kebenaran… Pada masa kita sekarang ini, mencari pengetahuan dan hadits, tidak lagi bermakna bagi ilmuwan hadits sebagai suatu keharusan untuk berbuat sesuai dengannya, yang merupakan tujuan dari hadits itu sendiri. Beliau benar dalam perkataannya karena mengejar ilmu hadits berbeda dengan hadits itu sendiri. Adalah yaitu demi tujuan agar dapat berbuat sesuai dengan sunnah Nabi saw. dan Alqur`an yang Suci, Syahadat sebagai tashawwuf mempelajari pengejaran ilmu pengetahuan sebagai suatu pemahaman bahayanya kegairahan duniawi, dan lebih memilih meningkatkan intelektual kesempurnaan pengembangan ihsan (akhlak sempurna) dan menempatkannya di atasnya.
Pilihan ini sangat sesuai dengan hadits terkenal dari `Â’isyah yang berkaitan dengan kepribadian Nabi saw. Sebagai contoh adalah Abu Nasr Bisyr al-Hafi (wafat th. 227), yang memandang kajian hadits sebagai suatu ilmu yang bersifat menduga-duga apabila dibandingkan dengan kepastian iman yang ditanamkan oleh Fudail ibnu Iyad (wafat th. 187).8 Baik ihsan atau proses yang menunjukkan ke arahnya dikenal dengan sebutan tashawwuf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...