SYAHADAT SEBAGAI TASAWUF JAMAN AKHIR
(ngamanaken dhohir batin kabeh rakyat)
Tulisan ini merupakan hasil dari buah pikir mursyid besar Asy-Syahadatain yang bertempat di daerah Kabupaten cirebon tepatnya di desa panguragan.
Apa artinya syahadat sebagai tashawwuf
atau tazkiyyatun-nafs (penyucian diri) itu? Adakah dalil-dalil dari Alqur`an
dan hadits berkenaan dengan syahadat sebagai tashawwuf? Sebagaimana telah
diketahui bahwa para pemimpin spiritual kaum Sufi telah berjasa dalam
menyebarkan ajaran Islam, baik di sub-benua India, Asia Tengah dan Tenggara,
Afrika Tengah, Utara dan Selatan, atau di beberapa bagian di Rusia, Eropa, dan
bahkan di Amerika pada masa sekarang, lantas darimanakah kaum Sufi itu berasal?
Kapankah mereka muncul untuk pertama kalinya? Dimanakah posisi para Sahabat,
para ulama madzhab fiqih dan ulama Ummat ini berkenaan dengan gerakan syahadat
sebagai tashawwuf ini? pandangan dari ensiklopedia ini secara khusus akan
menggarap prinsip-prinsip syahadat sebagai tashawwuf atau tazkiyatun-nafs
(penyucian diri) serta berbagai jalan yang ditempuh oleh para pengikut Sufi
yang telah mencapai banyak kemajuan.
Pada zaman sekarang Islam hanya
diajarkan melalui kata-kata oleh orang-orang yang tidak mempedulikan
pengamalannya secara murni dan menyucikan dirinya dalam tindakan nyata. Inilah
yang digambarkan dalam hadits-hadits yang menyatakan, “Mereka akan menyuruh
orang-orang dan tidak mengindahkan peringatan itu untuk dirinya sendiri. Mereka
itulah seburuk-buruknya manusia.” Demikian pula Nabi saw. bersabda, “Saya tidak
hanya menghawatirkan Dajjal atasmu semata.” Mereka bertanya, “Lantas hal lain
apa lagi yang engkau khawatirkan?” Beliau bersabda, “Para ulama yang tidak
mendapat petunjuk.” Nabi saw. juga bersabda, “Yang paling aku khawatirkan atau
ummatku adalah kaum munafik yang memiliki lidah ulama.” Yang demikian itu
bukanlah jalan yang ditempuh oleh para Sahabat, termasuk para Sahabat dari
kalangan Ahlus-Suffah, yaitu para Sahabat yang tinggal di beranda-beranda
Mesjid, yang berkenaan dengan merekalah ayat berikut diturunkan: [Wahai Muhammad,]
Hendaklah engkau bersabar bersama
orang-orang yang selalu memanggil-manggil Tuhan mereka siang dan malam
semata-mata mengharapkan ridha dari pada-Nya. Janganlah engkau palingkan
pandangan dari mereka karena mengharapkan kemewahan hidup dunia, juga janganlah
mengikuti orang-orang yang hatinya aku biarkan lalai dari mengingat-Ku dan
lebih mengikuti dorongan hawa nafsunya, sehingga perbuatannya melampaui batas
(18:28). Ini juga bukanlah jalan yang ditempuh oleh Abu Bakar as-Shiddiq, yang
berkenaan dengannya Bakr ibnu Abdullah berkata, “Abu Bakar tidaklah lebih
unggul daripada kalian karena shalat dan shaumnya yang banyak, akan tetapi
karena suatu rahasia yang terhunjam di dalam hatinya.” Juga bukan jalan yang
ditempuh oleh para Tabi`in seperti Hasan al-Basri, Sufyan ats-Tsauri, dan yang
lain-lainnya dari generasi kaum Sufi selanjutnya yang menjadikan mereka sebagai
model ikutannya.
Al-Qusyairi meriwayatkan bahwa al-Junaid
berkata, “Tashawwuf atau penyucian diri bukanlah banyak melakukan shalat dan
puasa, tetapi ketulus-ikhlasan yang sepenuhnya dan tidak mementingkan diri
sendiri.” Yang semacam itu tadi bukan juga jalan yang ditempuh oleh para imam
yang diakui yang menekankan zuhud (asketis, atau menjauhi cinta duniawi) dan
wara`` (berhati-hati sekali takut melanggar aturan Allah), di samping
melaksanakan segala kewajiban agama secara penuh. Imam Ahmad menyusun dua buah
kitab dengan menggunakan dua sifat ini sebagai judul bagi masing-masing bukunya
tersebut.
Beliau mendudukkan pengetahuan
orang-orang suci yang shalih (yaitu para wali) di atas pengetahuan para ulama,
sebagaimana digambarkan oleh murid beliau Abu Bakar al-Marwazi dalam riwayat
berikut: Saya mendengar Fath ibnu Abi al-Fath berkata kepada Abu Abdillah (yaitu
Imam Ahmad) pada saat sakit terakhirnya, ‘Mohonkanlah kepada Allah untuk kami
agar Ia memberikan kepada kami seorang pengganti (khalîfah) yang baik sebagai
penggantimu.’ Ia melanjutkan, ‘Siapakah yang harus kami mintai pengetahuan
setelah engkau? Ahmad menjawab, ‘Tanyailah Abdul-Wahhab.’ Seseorang yang hadir
di sana menceriterakan kepada saya bahwa ia bertanya, “Tetapi dia itu tidak
banyak punya pengetahuan-‘ Abu Abdullah menjawab, “Dia itu adalah seorang
shalih (innahû rajulun shâlihun), dan orang semacam dia itu dianugerahi
kesanggupan mengatakan kebenaran.
Dalam sebuah fatwa yang masyhur, yang
akan disebutkan di bawah nanti, seorang ulama Syafi`iyah, yaitu al-Izz ibnu
Abdussalam memberikan prioritas yang sama kepada para Pengenal Allah (`ârifîn),
di atas para ahli fiqih. Imam Malik memberikan penekanan yang sama mengenai
kedudukan kesempurnaan batin dalam kata-katanya, “Agama tidaklah diperoleh
dengan pengetahuan tentang berbagai riwayat, tetapi dengan cahaya Allah yang
diletakkan di dalam hati.” Ibnu Ata’ullah mengutip Ibnu Arabi yang mengatakan,
“Kepastian (al-yaqîn) itu tidak muncul dari bukti-bukti dalam fikiran, akan
tetapi keluar dari lubuk hati.”
Karena inilah mengapa banyak di antara
para imam memperingatkan agar tidak sekedar haus terhadap pengetahuan dengan
mengorbankan pembinaan jiwa. Imam Ghazali meninggalkan ruang-ruang pengajaran
di tengah karirnya yang sedang memuncak untuk menghususkan dirinya melakukan
penyucian jiwa. Pada awal usahanya ini, ia menulis karyanya yang berkelas
tinggi Ihyâ’u `ulûmiddîn, yang dimulai dengan suatu peringatan untuk siapa saja
yang punya anggapan bahwa agama hanya meliput sekedar urusan fiqih.
Salah seorang Sufi awal dan ahli hadits
(huffâz) terbesar pada masanya, yaitu Sufyan ats-Tsauri (meninggal th.161),
menyampaikan peringatan yang sama. Beliau menujukan peringatannya ini kepada
mereka yang menggunakan periwayatan hadits sebagai bukti keberagamaan. Beliau
mengatakan, “Apabila hadits tidak mengandung kebaikan, maka ia akan lenyap
sebagaimana halnya kebaikan telah lenyap. Mengejar ilmu hadits bukanlah bagian
dari persiapan untuk kematian, tetapi merupakan suatu penyakit yang mengasyikan
orang-orang.”
Adz-Dzahabi mengomentarinya: Demi Allah
beliau telah mengatakan kebenaran… Pada masa kita sekarang ini, mencari
pengetahuan dan hadits, tidak lagi bermakna bagi ilmuwan hadits sebagai suatu
keharusan untuk berbuat sesuai dengannya, yang merupakan tujuan dari hadits itu
sendiri. Beliau benar dalam perkataannya karena mengejar ilmu hadits berbeda
dengan hadits itu sendiri. Adalah yaitu demi tujuan agar dapat berbuat sesuai
dengan sunnah Nabi saw. dan Alqur`an yang Suci, Syahadat sebagai tashawwuf mempelajari
pengejaran ilmu pengetahuan sebagai suatu pemahaman bahayanya kegairahan
duniawi, dan lebih memilih meningkatkan intelektual kesempurnaan pengembangan
ihsan (akhlak sempurna) dan menempatkannya di atasnya.
Pilihan ini sangat sesuai dengan hadits terkenal
dari `Â’isyah yang berkaitan dengan kepribadian Nabi saw. Sebagai contoh adalah
Abu Nasr Bisyr al-Hafi (wafat th. 227), yang memandang kajian hadits sebagai
suatu ilmu yang bersifat menduga-duga apabila dibandingkan dengan kepastian
iman yang ditanamkan oleh Fudail ibnu Iyad (wafat th. 187).8 Baik ihsan atau
proses yang menunjukkan ke arahnya dikenal dengan sebutan tashawwuf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar