Selasa, 25 September 2018

Sikap Beragama


Sikap Beragama
(Pengajian Syahadat Sayyid Gamal Yahya Senin, 2 April Bakda Asar)

Situasi sosial umat Islam dewasa ini menggambarkan fenomena sikap keberagamaan yang gamang, bingung sehingga banyak kaum Muslim yang mudah diombang-ambing oleh dinamika sosial politik yang berlangsung di negeri ini. Kaum muslim menjadi sasaran empuk perebutan kuasa politik kekuasaan atas nama demokrasi. Secara kuantitas kaum Muslim merupakan penganut agama terbesar di Indonesia dan tentu saja mereka menjadi target suara dalam berbagai peristiwa pemilu/pilkada. Dengan mudah mereka digiring untuk menyukai, mendukung, berpihak atau juga melawan, menentang, dan memusuhi suatu kelompok melalui berbagai isu keagamaan yang muncul di tengah masyarakat, seperti isu tentang air kencing unta, cadar, memelihara anjing, puisi Sukmawati, dan lain sebagainya.
Menurut Sayid Gamal Yahya, kesemrawutan dan sikap saling memusuhi antara berbagai kelompok Islam di Indonesia dan juga di belahan dunia lainnya ini disebabkan oleh sikap keberagamaan mereka yang bertaklid pada pendapat. Semestinya kaum Muslim menyadari bahwa pendapat seorang ulama tentang suatu ketetapan hukum bukanlah sumber hukum yang harus ditaklidi. Hanya ada dua ketetapan syariat yang pasti, yaitu Al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad saw.

Lebih lanjut SGY mengungkapkan bahwa syariat merupakan proses dialektis yang dinamis antara dua sumber hukum tersebut dengan realitas atau konteks sosial yang terjadi pada zamannya. Bahkan pada zaman Nabi Muhammad saw. ketetapan syariat merupakan proses dialektis antara wahyu dan realitas sosial yang terjadi. Salah satu contoh dialektika hukum itu--yang akhir-akhir ini kerap dikemukakan SGY--adalah mengenai air yang suci dan mensucikan. Sejak masa para imam mazhab, ketetapan tentang air ini lebih bersifat fisikal yang non-atomik. Air dianggap suci dan mensucikan jika ia terbebas dari anasir najis atau kotoran yang merusak kualitas air. Saat ini, melalui berbagai telaah ilmiah, ditemukan berbagai kandungan berbahaya bagi tubuh manusia pada air yang sekilas tampaknya bersih dan tidak tercampur najis. Anasir berbahaya itu teramat kecil sehingga tak kentara oleh mata. Dibutuhkan analisis sains untuk menemukan anasir berbahaya tersebut. Maka sejatinya, harus ada penambahan kriteria terhadap "air yang suci dan mensucikan" yaitu, terbebas dari anasir berbahaya bagi tubuh manusia.
Sikap bertaklid pada pendapat pada gilirannya juga berpengaruh terhadap sikap berpolitik yang keliru. Secara dialektika, ketika kuasa politik ingin mendapatkan dukungan massa maka ia akan merekayasa apa pun yang bisa menggiring massa agar berpihak kepadanya. Dengan demikian, berbagai kebijakan dan program pembangunan, juga strategi politik yang dipraktikkan penguasa dan politisi, tidak didasari oleh kepentingan kemaslahatan umum, tetapi didasari oleh gairah dan kehendak massa. Program pembangunan yang digulirkan bersifat populis karena bertujuan agar para pemilik suara memilih dan berpihak kepada mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...