Sikap
Beragama
(Pengajian Syahadat Sayyid Gamal Yahya
Senin, 2 April Bakda Asar)
Situasi
sosial umat Islam dewasa ini menggambarkan fenomena sikap keberagamaan yang
gamang, bingung sehingga banyak kaum Muslim yang mudah diombang-ambing oleh
dinamika sosial politik yang berlangsung di negeri ini. Kaum muslim menjadi
sasaran empuk perebutan kuasa politik kekuasaan atas nama demokrasi. Secara
kuantitas kaum Muslim merupakan penganut agama terbesar di Indonesia dan tentu
saja mereka menjadi target suara dalam berbagai
peristiwa pemilu/pilkada. Dengan mudah mereka digiring untuk menyukai, mendukung,
berpihak atau juga melawan, menentang, dan memusuhi suatu kelompok melalui
berbagai isu keagamaan yang muncul di tengah masyarakat, seperti isu tentang
air kencing unta, cadar, memelihara anjing, puisi Sukmawati, dan lain
sebagainya.
Menurut Sayid Gamal Yahya, kesemrawutan dan sikap saling
memusuhi antara berbagai kelompok Islam di Indonesia dan juga di belahan dunia
lainnya ini disebabkan oleh sikap keberagamaan mereka yang bertaklid pada
pendapat. Semestinya kaum Muslim menyadari bahwa pendapat seorang ulama tentang
suatu ketetapan hukum bukanlah sumber hukum yang harus ditaklidi. Hanya ada dua
ketetapan syariat yang pasti, yaitu Al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad saw.
Lebih lanjut SGY mengungkapkan bahwa syariat merupakan
proses dialektis yang dinamis antara dua sumber hukum tersebut dengan realitas
atau konteks sosial yang terjadi pada zamannya. Bahkan pada zaman Nabi Muhammad
saw. ketetapan syariat merupakan proses dialektis antara wahyu dan realitas
sosial yang terjadi. Salah satu contoh dialektika hukum itu--yang akhir-akhir
ini kerap dikemukakan SGY--adalah mengenai air yang suci dan mensucikan. Sejak
masa para imam mazhab, ketetapan tentang air ini lebih bersifat fisikal yang
non-atomik. Air dianggap suci dan mensucikan jika ia terbebas dari anasir najis
atau kotoran yang merusak kualitas air. Saat ini, melalui berbagai telaah
ilmiah, ditemukan berbagai kandungan berbahaya bagi tubuh manusia pada air yang
sekilas tampaknya bersih dan tidak tercampur najis. Anasir berbahaya itu
teramat kecil sehingga tak kentara oleh mata. Dibutuhkan analisis sains untuk
menemukan anasir berbahaya tersebut. Maka sejatinya, harus ada penambahan
kriteria terhadap "air yang suci dan mensucikan" yaitu, terbebas dari
anasir berbahaya bagi tubuh manusia.
Sikap bertaklid pada pendapat pada gilirannya juga
berpengaruh terhadap sikap berpolitik yang keliru. Secara dialektika, ketika
kuasa politik ingin mendapatkan dukungan massa maka ia akan merekayasa apa pun
yang bisa menggiring massa agar berpihak kepadanya. Dengan demikian, berbagai
kebijakan dan program pembangunan, juga strategi politik yang dipraktikkan
penguasa dan politisi, tidak didasari oleh kepentingan kemaslahatan umum,
tetapi didasari oleh gairah dan kehendak massa. Program pembangunan yang
digulirkan bersifat populis karena bertujuan agar para pemilik suara memilih
dan berpihak kepada mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar