Sepak bola Indonesia
adalah drama dengan ujung yang tragis. Kemenangan sebuah tim tak selalu
berakhir dirayakan dengan kegembiraan tapi juga dengan tangis pilu dan
kegeraman yang tak habis-habis.
Di dalam stadion,
pelatih memeras otak merumuskan taktik untuk meraih kemenangan. Di luar
stadion, penonton seumpama gladiator, pamer otot dan kekerasan siap menghabisi
suporter yang dianggap lawan.
Sepak bola Indonesia
adalah orkestra dengan akhir yang membuat sakit telinga. Makian dan teriakan
permusuhan. Lengkingan kebencian untuk pemain dan suporter lawan. Stadion bukan
lagi tempat ramah. Seumpama medan pembantaian, stadion menjadi etalase potensi
kemarahan yang siap meledak menjadi keroyokan dan tikaman buat nyawa sang
lawan.
Dulu ada Micko
Pratama (Bonek), Imam Shokhib (Aremania), Dani Maulana (Bobotoh) dan yang
lainnya. Lalu Haringga Sirila (The Jack Mania) korban terbaru dari kemarahan
dan kebencian itu. Ia meregang nyawa di tangan oknum penonton yang sesat akal
dan buta mata hatinya.
Haringga adalah korban kebiadaban sekelompok orang yang
meremehkan nyawa manusia yang mustahil bisa diganti dan dicari padanannya
dengan pertandingan sepak bola manapun.
Sepak bola
Indonesia. Sebaiknya rehat dulu saja;
De Also Layang Kusumah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar