NGARUWAT GUNUNG GALUNGGUNG
Tasikmalaya nama salah satu tempat di daerah Jawa barat tempatnya begitu menarik
untuk ditelusuri. Sejarah tasikmalaya juga sangat unik dan menarik yang bisa
menginspirasi dan memotivasi.
Wilayah tasikmalaya itu
diadikan dua, Kabupaten dan Kota entah apa sebanya kami gak terlalu
mempermasalahkan, yang unik wilayah tasikmalaya dari
zaman dahulu sudah terkenal pemerintah berbentuk kasepuhan bisanya disebut
kabataraan atau keresian, yang berpusat pemerintahannya di sekitar Gunung
Galunggung.
Pemegang kekuasaan dipimpin oleh sang
Batara Semplakwaja, kemudian di teruskan Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu,
Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang.
Adapun yang lebih menarik dari
tasikmalaya menurut salah satu penduduknya ialah Kerajaan Galunggung yang
berdiri pada tanggal 13 Bhadrapada 1033 Saka atau 21 agustus 1111 dengan penguasa
pertamanya yaitu Batari Hyang, di dukung pula oleh Prasasti Geger Hanjuang yang
ditemukan di bukit Geger Hanjuang. Dari Sang Batari inilah mengemuka ajarannya
yang dikenal sebagai Sang Hyang Siskanda Nga Karesian. Ajarannya yang akhirnya merupakan ajaran resmi pada
zaman Prabu Siliwangi (1482-1521
M) yang bertahta di Pakuwan Pajajaran. Itulah salah satu ke unikan dari Tasikmalaya.
“Batara
semplak waja mangsa baheula purah ngaistrenan para raja
Raja
pandita anu ngawasa dirasa ngeunaan
kenana dora bancana
Ngajar sangkan urang teu tinemu lara mala na
lunas papa naraka
Pangawasa jadi ciri utama bijilna ti baga
lawan purusa sasakala”
(Kutipan dari
salah satu rajah/sajak judul merbayaksa na carita)
Cerita tasikmalaya hanya merupakan
pembuka dari yang akan kami tuliskan sebuah cerita yang mungkin untuk tataran
umum ada sebagian yang tidak terima atau lebih jauh menganggap kami sekumpulan
orang gila, karena apa yang akan kami beber maerupakan cerita yang bagi
sebagian merupakan tahayul. Akan tetapi terlepas dari pro dan kontra tulisan
ini tetap kami buat untuk kepentingan pembendaharaan perpustakaan kami.
Awal kisah perjalanan kami ke daerah
tasikmalaya merupakan perjalanan yang mulia bagi kami, karena kami menuruti
perintah dari guru dan sesepuh kami. Perjalanan yang menghabiskan waktu kurang
lebih 6 jam dari kota bandung. Perjalan ini hanya membuat satu missi yang
Melestarikan Alam atau dalam bahas sunda Ngamumule
lemah cai.
Agenda perjalan ini merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan dari tahun kemarin mengurus aliran air, acara
ini merupakan acara lanjut dari apa yang sudah kami usahakan, usaha ini kami
lakukan guna untuk mencah atau meminimalisir bencana alam. Pemberangkatan kami
guna menghadiri pertemuan yang akan di adakan di karesian galunggung, akan tetapi bertempat di gunung raja, karena gunung raja masih satu lempengan dengan
galunggung.
Kita berangkat tanggal 21 september
2018, pkl. 19.48 perjalanan malam yang di tempuh 6 jam, rute yang di tempuh
kami ke daerah ci datar dulu untuk menurunkan mesin, dari sana setelah
istirahat kami langsung ke daerah tasikmalaya tepatnya daerah ci galontang ke
rumah salah satu personil Ulin Karuhun (UK).
Sesampai di rumah personil daerah ci
galontang kami TIM UK yang merasa kelelah terus beristirahat untuk persiapan
besok, karena pertemuan membutuhkan energi yang sangat besar, sebagain dari
yang belum istirahat langsung mengadakan kontak dengan semua perserta pertemuan
yang sudah datang terlebih dulu, hasil dari mengontak kami mendapat kabar kalau
acara dilaksanakan besok masang pecat
sawet (sekitar jam 10 pagi).
Pagi yang cerah kami semua
mempersiapkan segala keperluan yang akan di bawa dalam pertemuan, dari perabot
dan persiapan persyaratan. Setelah semua siap kami muali melakukan perjalanan
walau dengan sedih karena tidak bisa membawa sesepuh kami, dikarenakan kakinya mengalami sudah lama
cedera, mengikuti perjalan kami pun hanya berbekal nekad dan saking sayangnya
pada kami ketakutan kami ada masalah dalam perjalanan.
Jalur yang ditempuh dalam mencapai gunung raja
tidaklah mulus ada rintangan dan halangan di samping jalan yang sangat terjal
dan sangat menantang. Menurut tuturan orang desa jalan untuk menuju ke gunung
raja bisa ditempuh melalui tiga arah dari tasikmalaya.
Sepanjangan perjalanan menuju gunung raja kami
melewati sawah dan parit-parit serta gubuk-gubuk yang sudah agak kusam dan juga
di sepanjang perjalanan kami bertemu sapa dengan penduduk disana yang sangat
sederhana dan ramah mereka menawarkan air minum sekedar untuk menutupi dahaga.
Gunung raja sudah sejak lama atau dahulu emang
didatangi oleh banyak orang yang melakukan ziarah, rata-rata yang datang ke
gunung raja untuk mencari kekayaan atau pesugihan. Menurut salah seorang
juru kunci (kuncen), orang yang datang dan minta pesugihan disini biasanya
selalu berhasil pada kaya-kaya, biasanya para penziarah melakukan ritual mandi
di curug kecil selepas sebelum melanjutkan ritual selanjutnya.
Kami
melakukan perjalanan satu setengah jam untuk mencapai ke gunung raja, sesampai
di gunung raja kami khususnya saya langsung menagdakan kontak dengan para
peserta pertemuan, setelah membuka tabir ghaib, saya berada di sebuah balai
pertemuan yang luas dengan di hiasi kiri dan kanan taman-taman dan air mancur.
Dalam pengliahatan saya, saya bertemu dengan beberapa orang yang sudah kenal
dan dari tim kami yang masuk pada dimensi yang sama, yaitu mia, ade dan tari ; Mia
yang sedang asyik ngobrol dengan seorang perempuan yang cantik dengan pakaian
sejenis sutra warna biru ; Ade
di luar dekat taman balai pertemuan lihat-lihat sekelilingnya ;
Tari
salah satu dari kami yang saya lihat dia agak takut-takut melihat sekeliling
tempat ini; Tidak kurang dari 100 orang yang berada dan siap
mengikuti acara yang akan di adakan oleh para panitia pertemuan. Setelah
bersapa salam saya melanjutkan perjalanan dan berhenti di dua makam di lihat
mata lahir. sebelum masuk ke area puncak gunung raja.
Bersambung... Bag. 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar