Hai, selamat
malam kamu. Apa kau ingat hari ini menjadi peringatan apa?
Mungkin kamu
tidak ingat. Baiklah, akan aku ingatkan. Satu tahun yang lalu, kita melakukan
ritual malam-malam kita. Kamu disana mengais-ais sinyal, dan aku disini
termenung menunggumu.
Sesekali
berusaha menghubungimu melalui handphoneku. Ah ya, baru sadar betapa bodohnya
aku yang selalu menunggu bercakap-cakap denganmu padahal kau bukan
siapa-siapaku. Berbagai macam cerita mengalir dari kedua mulut kita, tentang
semua hal, tentang segalanya, tanpa sungkan.
Malam itu kita
saling bercanda untuk terikat dalam sebuah hubungan. Hati yang tidak bisa di
pungkiri nyata dan benar kalau aku emang benar-benar suka dan dengan nekad saat
itu aku meminta kamu untuk menjadi kekasihku (kenangan yang indah). Dan malam
itu pula kamu resmi menjadi pacarku, (akhirnya ku menemukanmu).
Seiring berjalannya
waktu dan pertemuan-peretemuan denganmu semakin besar rasa di hati untuk
memilikimu, deg-degan serta di barengi panas dingin kalau saja aku nggak sesuai
dengan apa yang kamu inginkan. Soalnya, semakin hari semakin kamu membuatku
jatuh hati, hingga ingin selalu bertemu denganmu.
Akan tetapi
satu tahun lewat sudah kita pacaran pas di hari jadian orang bilang Anniversary
1 th. Eh malah kita bubaran, mungkin benar aku yang salah. Seperti yang kamu
tuduhkan ke aku ” kamu tuh gak peduli, kamu tuh gak perhatian, kamu tuh….,” apa
iya seperti itu? Akan tetapi ya sudahlah, mau gimana lagi. Karena bagi ku
sesuatu yang sudah terjadi, tidak hanya harus di sesali akan tetapi jadi
pelajaran agar aku gak mengulangi kesalahan yang sama (di balik itu semua ada
yang lebih menyakitkan buat diri ku sendiri jika mengenangnya). Hingga saat ini
tahun pertama dugderan.
Ngomong-ngomong
soal dugderan, tahun pertama saat kamu sudah tak bersamaku. Aku pergi seorang
diri ke tempat itu. Kau tahu bagaimana perasaanku saat itu? Lemah. Rasanya
ingin menangis karena merindukanmu, tapi aku mencoba bertahan hanya untuk
mengenangmu dari awal hingga akhir dari hubungan kita. Aku masih saja belum move
on dengan semua hal tentangmu. Termasuk mengintip sosial media
milikmu. Membawaku pada pertemuan selanjutnya yang pada akhirnya bersama denganmu
membuatku makin jatuh cinta padamu.
Kamu bilang aku
nggak romantis. Memang! Aku gak romantis…
Nembak aja sambil
duduk boncengan di motor. Tapi aku seneng akhirnya penantianku nggak sia-sia
*piss*
Aku pun ngaku
nggak romantis, tapi aku terharu pas hari ulang tahunku kamu memberi kado
terindah dengan menyuguhkan nasi tumpeng kado terindah karena karena sebelumnya
aku gak pernah dan ada yang merayakan. Saat itu aku seneng banget kamu
bela-belain cape-capean membuat tumpeng. thank you pisan buat kamu special
words kado terindah untuk ulang tahunku.
Kenangan manis
yang paling susah untuk dilupain, apa ya? Semuanya tentang kamu berharga sih,
kecuali pas kita berantem.
Kadang, aku
sengaja membuka-buka foto kebersamaan kita, semuanya bikin rindu kamu, serius!
Apa kamu nggak merindukanku?
Kangen? Mungkin
suatu hal yang mustahil bagimu. Hei, apa kau sudah punya pacar (lagi)? Aku
masih belum bisa menerima kepergianmu yang masih meninggalkan janji. Mungkin
juga kau sudah lupa dengan apa janjimu dulu.
Lupakan saja. Mudah-mudahan
kamu selalu bahagia, dan aku selalu berdoa untuk kebaikanmu, karena menurutku
kamu paling berharga dalam hatiku.
Ya, kukira kita
memutuskan hubungan ini tanpa adanya kata perpisahan. Kau tahu bagaimana
sakitnya? Silakan saja kau rasakan sendiri kelak. Saranku, jangan!
Meski aku belum
bisa menerima kepergianmu, aku sudah bisa mengikhlaskanmu. Semoga bahagiamu
memang bukan aku. Dan jika bahagiamu adalah aku, cepat jemput kembali hatiku
sebelum seseorang mengambilnya dan memenjarakan tepat di hatinya.
Ngomong-ngomong
kok judulnya pakai kata “HAPPY” kan ‘happy’ artinya bahagia?
Eh, iya juga
sih. Tapi gpp deh udah terlanjur. Bahagia gagal 1 tahun denganmu karena ya
karena memang aku dan kamu bukan ditakdirkan Tuhan untuk bersatu.
Bahagia karena
pernah mengenalmu. Bahagia pernah mengecap hubungan bersamamu. Bahagia karena….
Karena aku dan
kamu pernah menjadi KITA, walaupun pada akhirnya aku menyerah pada kata terpisahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar