Aku
harus menyurati-Mu karena alasan kemanusiaan. Bukan karena aku berani dan tak
takut mati. Aku hanya hendak mengerti bagaimana kehadiran-Mu bisa nampak dalam
jejak terlacak. Aku harus menyurati-Mu karena alasan kelemahan. Bukan karena
aku menghindar pada akal yang gagal menalar. Yang Kau berkati semenjak dini.
Aku hanya tak hendak pasrah pada iman yang dipancang di tiang
kepura-puraan. Aku hanya tak hendak menyerah pada akidah yang dikunyah lidah
setengah-setengah.
Aku mengaku, imanku bukan iman para nabi yang
meneguhkan-Mu di lubuk kesadaran yang tak pernah lapuk. Aku meyakini, imanku
bukan iman para sufi yang mendapati-Mu mengalun di hijau daun. Mengalir di riak
air. Menyelinap di semilir angin. Jika nama-Mu gagah, mudah-mudahan Engkau tak
resah. Marah. Jika sayang-Mu tak berbilang, mudah-mudahan Engkau tak gampang
untuk ringan tangan.
Tuhanku, bagaimana aku mengenal-Mu, tak pernah
jelas ia terlintas. Pada usia mana aku mengeja nama-Mu, tak pernah terang di
ingatan. Aku hanya tahu Engkau melalui isyarat yang merambat dalam lengkingan
kedinginan dan undangan kerumunan para penyamun. Aku hanya mendengar-Mu melalui
teriakan yang menghantam ujung malam dalam kesunyian. Aku hanya sempat
menemukan-Mu dalam tangis memilukan akibat kematian.
Harus aku jujur kepada-Mu, Engkau begitu
menakutanku di ujung lidah para para pengkhotbah. Engkau membuatku murung dalam
gemuruh riuh gaduh serdadu pembunuh. Engkau membuatku gigil di ujung bedil para
pengadil yang tak pandai menakwil. Engkau membuatku ngilu di ujung parang dan
belati para pencari mati. Engkau membuatku mual di tangan kelakar para pembual.
Engkau membuatku getir di titik nadir mereka yang mengaku martir.
Siapakah diri-Mu. Bagaimana kuasa-Mu? Pada
hidup yang semarak dengan cacian juga makian, aku tak pandai menemukan-Mu
mengada membela. Pada gelisah yang muntah karena amarah akibat nasib dan
peruntungan dijajah dijarah, aku tak pandai menemukan-Mu diam dalam ponggah
menggugah. Pada rintihan yang menjelma dalam umpatan dan ketidakpuasan, aku
mendapatimu pergi dan tak sudi menghampiri. Tuhan, Engkau tenang dalam remang.
Dalam cahaya temaram yang tak sampai aku ke sana. Aku mencari-Mu dalam waktu
yang tak sempat mengantarkanku untuk mengerti siapa diri-Mu.
Nama-Mu disebut berkali-kali dalam sunyi. Dalam
sepi. Tapi selalu ada yang tak bisa aku mengerti. Sejatinya, aku mengharap
Engkau hadir di sini menggenapi mimpi. Merekam ingatan supaya keinginan tidak
sekedar angan. Khayalan. Kekuasaan-Mu disapa dengan manja dalam terang dalam
kosongnya harapan. Tapi selalu ada yang mengelak dan tak mudah untuk aku
nyatakan. Sebenarnya, aku mendamba kuasa-Mu menjelma membela hidup yang
teraniaya.
Aku tak hendak mengelak menunggu-Mu disetiap
kelokan kejadian. Aku tak ingin sungkan menanti-Mu di setiap perjamuan
kehidupan. Aku tak ingin bosan menagih-Mu tentang hutang yang akan Kau
bayarkan. Aku menghiba kepada-Mu untuk dosa yang tak pernah jera. Untuk salah
yang tak pernah sudah. Aku meminta kepada-Mu untuk cinta yang menggelora pada
Bintang di setiap pagi menjelang dan petang menghilang.
By : De Also (Layang Kusumah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar