Kamis, 13 Desember 2018

SURAT UNTUK TUHAN


Aku harus menyurati-Mu karena alasan kemanusiaan. Bukan karena aku berani dan tak takut mati. Aku hanya hendak mengerti bagaimana kehadiran-Mu bisa nampak dalam jejak terlacak. Aku harus menyurati-Mu karena alasan kelemahan. Bukan karena aku menghindar pada akal yang gagal menalar. Yang Kau berkati semenjak dini. Aku hanya tak hendak pasrah pada iman yang dipancang di tiang kepura-puraan. Aku hanya tak hendak menyerah pada akidah yang dikunyah lidah setengah-setengah.
Aku mengaku, imanku bukan iman para nabi yang meneguhkan-Mu di lubuk kesadaran yang tak pernah lapuk. Aku meyakini, imanku bukan iman para sufi yang mendapati-Mu mengalun di hijau daun. Mengalir di riak air. Menyelinap di semilir angin. Jika nama-Mu gagah, mudah-mudahan Engkau tak resah. Marah. Jika sayang-Mu tak berbilang, mudah-mudahan Engkau tak gampang untuk ringan tangan.
Tuhanku, bagaimana aku mengenal-Mu, tak pernah jelas ia terlintas. Pada usia mana aku mengeja nama-Mu, tak pernah terang di ingatan. Aku hanya tahu Engkau melalui isyarat yang merambat dalam lengkingan kedinginan dan undangan kerumunan para penyamun. Aku hanya mendengar-Mu melalui teriakan yang menghantam ujung malam dalam kesunyian. Aku hanya sempat menemukan-Mu dalam tangis memilukan akibat kematian. 

Harus aku jujur kepada-Mu, Engkau begitu menakutanku di ujung lidah para para pengkhotbah. Engkau membuatku murung dalam gemuruh riuh gaduh serdadu pembunuh. Engkau membuatku gigil di ujung bedil para pengadil yang tak pandai menakwil. Engkau membuatku ngilu di ujung parang dan belati para pencari mati. Engkau membuatku mual di tangan kelakar para pembual. Engkau membuatku getir di titik nadir mereka yang mengaku martir.
Siapakah diri-Mu. Bagaimana kuasa-Mu? Pada hidup yang semarak dengan cacian juga makian, aku tak pandai menemukan-Mu mengada membela. Pada gelisah yang muntah karena amarah akibat nasib dan peruntungan dijajah dijarah, aku tak pandai menemukan-Mu diam dalam ponggah menggugah. Pada rintihan yang menjelma dalam umpatan dan ketidakpuasan, aku mendapatimu pergi dan tak sudi menghampiri. Tuhan, Engkau tenang dalam remang. Dalam cahaya temaram yang tak sampai aku ke sana. Aku mencari-Mu dalam waktu yang tak sempat mengantarkanku untuk mengerti siapa diri-Mu. 
Nama-Mu disebut berkali-kali dalam sunyi. Dalam sepi. Tapi selalu ada yang tak bisa aku mengerti. Sejatinya, aku mengharap Engkau hadir di sini menggenapi mimpi. Merekam ingatan supaya keinginan tidak sekedar angan. Khayalan. Kekuasaan-Mu disapa dengan manja dalam terang dalam kosongnya harapan. Tapi selalu ada yang mengelak dan tak mudah untuk aku nyatakan. Sebenarnya, aku mendamba kuasa-Mu menjelma membela hidup yang teraniaya.
Aku tak hendak mengelak menunggu-Mu disetiap kelokan kejadian. Aku tak ingin sungkan menanti-Mu di setiap perjamuan kehidupan. Aku tak ingin bosan menagih-Mu tentang hutang yang akan Kau bayarkan. Aku menghiba kepada-Mu untuk dosa yang tak pernah jera. Untuk salah yang tak pernah sudah. Aku meminta kepada-Mu untuk cinta yang menggelora pada Bintang di setiap pagi menjelang dan petang menghilang.

By : De Also (Layang Kusumah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...