Kamis, 06 Desember 2018

TAWASUL DAN KOMITMEN SYAHADAT 2

Bersambung dari TAWASUL DAN KOMITMEN SYAHADAT

Ketiga: Ikhlas. Seorang yang menucapkannya harus mengikhlaskan atau memurnikan kesadarannya karena Allah ta’ala semata. Sedangkan lawannya adalah kesyirikan. Firman-Nya: “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).”(QS. az-Zumar: 2-3) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manusia yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah yang mengucapkan la ilaha illallah dengan penuh keikhlasan dari hatinya.“ (HR. Bukhari)
Keempat: Jujur (tulus), lawannya adalah dusta. Syarat ini diambil dari sabda shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut: “Siapa yang berkata la ilaha illallah dengan jujur (tulus) dari hatinya niscaya ia masuk surga.“ (HR. Ahmad). Ketulusan atau sidq berarti seiya sekata, apa yang diucapkannya berasal dari apa yang diyakininya dan akan menjadi apa yang dilakukannya. Sidq artinya membenarkan dengan jelas.
Kelima: Cinta. Yaitu kecintaan yang menghilangkan kebencian. Orang yang mengucapkan kalimat tauhid ini harus mencintai Allah dan RasulNya dan mencintai orang-orang yang mencintai kalimat ini. Adapun orang yang tidak mencintainya maka ucapannya tidak bermanfaat baginya.
Keenam: Tunduk. Yaitu berserah diri dan patuh dengan perbuatan atas peribadatan kepada Allah ta’ala. Lawannya adalah berpaling dan meninggalkan. Orang yang mengucapkan kalimat tauhid namun tidak tunduk dan patuh dengan hukum-hukum Allah dan syariat-Nya maka ucapannya tidak bermanfaat baginya.
Ketujuh: Menerima. Yaitu dengan menampakkan kebenaran kalimat tauhid dengan perkataan. Lawannya adalah menolak. Orang yang mengucapkan kalimat ini tidak boleh menolak sedikit pun dari hukum-hukum Allah. Sebaliknya, ia wajib menerima kandungan makna kalimat tauhid dengan baik.

Tidak Bersyahadat Berarti Menzalimi Diri Bersyahadat berarti memberikan komitmen. Memberikan komitmen, baik kepada manusia atau kepada yang Ilahiah, merupakan suatu lompatan (leap). Komitmen selalu memuat janji untuk memusatkan diri kita kepada pihak tertentu di masa depan, padahal masa depan secara hakiki dicirikan oleh kemungkinan (possibility) dan ketidakpastian (uncertainty).
Kita tahu, tak seorangpun manusia memiliki kendali atas masa depan, masa depan selalu menyajikan berbagai kemungkinan. Melalui komitmen, manusia “melompat”, membuat masa depan “yang tak pasti” (uncertain) itu menjadi sesuatu yang pasti (certain) –sekurang-kurangnya dalam keyakinan dirinya – dengan memusatkan diri pada pihak yang menerima komitmen.
Ketidakmauan untuk berkomitmen pada yang ilahiah adalah bentuk kezaliman pada diri sendiri. Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. (QS Yunus 44) Kezaliman terhadap diri sendiri (zulm al-nafs) berulangkali dikemukakan al-Quran sebagai salah satu sifat negatif manusia.
Zulm pada awalnya berarti “meletakkan sesuatu tidak di tempat yang seharusnya”. Pada saat kata zulm dihubungkan dengan nafs (“diri sendiri”) memiliki makna “adanya kekeliruan melatkkan posisi diri di tengah kehidupan”, atau “adanya tindakan yang keliru akibat salah menetapkan orientasi hidup”.
Konsep zulm al-nafs juga menunjukkan bahwa setiap kesalahan yang dilakukan memantul pada pelakunya, kerugian bukan hanya pada penerima kesalahan melainkan pada pelakunya. Mendengki, misalnya, adalah tindakan yang terarah keluar, namun serentak juga mencederai suasana hati pelakunya yang kemudian akan membuat pelakunya kehilangan kejernihan perspektif kehidupan.
Kafir kepada Allah, pada konsep ini, yang terwujud dalam bentuk melawan perintah Allah tidak akan pernah merugikan Allah, justru akan merugikan pelakunya. Allah tak tercederai oleh penolakan orang kafir, justru orang kafirlah yang akan semakin mengalami kerugian. Pernyataan “Kami tidak berbuat aniaya kepada mereka (di dalam menghancurkan mereka); sebaliknya, merekalah yang berbuat aniaya kepada diri mereka sendiri”, berulang kali dikemukakan Al-Quran (QS.2:231; 65:1; 27:44; 28:16; 2:54, dll).
Semuanya menunjukkan konsep tentang sebab efisien, tentang penyebab pelaku, dari suatu peristiwa. Bencana seperti meletusnya gunung atau banjir memang bukan perbuatan langsung manusia, namun sebab efisiennya adalah manusia yang terus-menerus merusak alam. Lalu akumulasi kerusakan itu membuat alam menghadirkan bencana. 
Al-Quran memadnang bahwa zulm al-nafs berasal dari kepicikan (dha’f) dan kesempitan pikiran (qathr). Kesombongan dan keputusasaan adalah akibat dari kepicikan dan sempitnya pikiran. Sifat mementingkan diri sendiri tentu karena picik memandang kepentingan hidup, ketamakan dan tingkah laku yang ceroboh serta panik adalah anak-anak dari kesempitan pikiran. Karena kepicikannya manusia memiliki suka berburu nafsu, panik, dan tidak mempertimbnagkan akibat jangka panjang perbuatannya. Semua ini tidak secara langsung menghasilkan kerusakan, namun pada suatu masa ia akan menumpuk dan menghasilkan bencana yang tidak disadari.
Pernyataan zulm al-nafs dikemukakan untuk menolak anggapan bahwa Allah Maha Kejam dan pendendam pada pembangkangan manusia. Allah justru terus memberikan peringatan agar manusia tidak keliru, Allah juga terus memberi kesempatan agar manusia segera memperbaiki dirinya. Hanya saja, kekeliruan berpikir membuat manusia terus abai pada peringatan Allah itu.
Al-Quran kemudian menyatakan “Kebajikan yang dilakukan seseorang adalah untuk dirinya sendiri sedangkan kejahatan yang dilakukannya akan merugikan dirinya sendiri (QS. 2:286; 4:111). Inilah hukum simetris yang menunjukkan Allah tak membutuhkan apapun, semua perintahnya diberikan agar manusia mendapatkan kebaikan yang berujung pada kebahagiaan.
Salah satu kedzaliman itu adalah tanpa bersyahadat yang baik dan benar kita tak bisa mengaktifkan energi diri kita. Itu berarti kita hanya diam tak melakukan apapun. Kalaupun bergerak kita bergerak seperti mayat.

By : Sayyid Gamal Yahya Imam Asy-Syahadatain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...