Ketiga: Ikhlas.
Seorang yang menucapkannya harus mengikhlaskan atau memurnikan kesadarannya
karena Allah ta’ala semata. Sedangkan lawannya adalah kesyirikan. Firman-Nya:
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya
kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).”(QS. az-Zumar: 2-3)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manusia yang paling bahagia
dengan syafaatku pada hari kiamat adalah yang mengucapkan la ilaha illallah
dengan penuh keikhlasan dari hatinya.“ (HR. Bukhari)
Keempat: Jujur
(tulus), lawannya adalah dusta. Syarat ini diambil dari sabda shallallahu
‘alaihi wa sallam berikut: “Siapa yang berkata la ilaha illallah dengan jujur
(tulus) dari hatinya niscaya ia masuk surga.“ (HR. Ahmad). Ketulusan atau sidq
berarti seiya sekata, apa yang diucapkannya berasal dari apa yang diyakininya
dan akan menjadi apa yang dilakukannya. Sidq artinya membenarkan dengan jelas.
Kelima: Cinta.
Yaitu kecintaan yang menghilangkan kebencian. Orang yang mengucapkan kalimat
tauhid ini harus mencintai Allah dan RasulNya dan mencintai orang-orang yang
mencintai kalimat ini. Adapun orang yang tidak mencintainya maka ucapannya
tidak bermanfaat baginya.
Keenam: Tunduk.
Yaitu berserah diri dan patuh dengan perbuatan atas peribadatan kepada Allah
ta’ala. Lawannya adalah berpaling dan meninggalkan. Orang yang mengucapkan
kalimat tauhid namun tidak tunduk dan patuh dengan hukum-hukum Allah dan
syariat-Nya maka ucapannya tidak bermanfaat baginya.
Ketujuh: Menerima. Yaitu dengan menampakkan kebenaran kalimat tauhid dengan perkataan. Lawannya adalah menolak. Orang yang mengucapkan kalimat ini tidak boleh menolak sedikit pun dari hukum-hukum Allah. Sebaliknya, ia wajib menerima kandungan makna kalimat tauhid dengan baik.
Ketujuh: Menerima. Yaitu dengan menampakkan kebenaran kalimat tauhid dengan perkataan. Lawannya adalah menolak. Orang yang mengucapkan kalimat ini tidak boleh menolak sedikit pun dari hukum-hukum Allah. Sebaliknya, ia wajib menerima kandungan makna kalimat tauhid dengan baik.
Tidak
Bersyahadat Berarti Menzalimi Diri Bersyahadat berarti memberikan
komitmen. Memberikan komitmen, baik kepada manusia atau kepada yang Ilahiah,
merupakan suatu lompatan (leap). Komitmen selalu memuat janji untuk memusatkan
diri kita kepada pihak tertentu di masa depan, padahal masa depan secara hakiki
dicirikan oleh kemungkinan (possibility) dan ketidakpastian (uncertainty).
Kita tahu, tak
seorangpun manusia memiliki kendali atas masa depan, masa depan selalu
menyajikan berbagai kemungkinan. Melalui komitmen, manusia “melompat”, membuat
masa depan “yang tak pasti” (uncertain) itu menjadi sesuatu yang pasti
(certain) –sekurang-kurangnya dalam keyakinan dirinya – dengan memusatkan diri
pada pihak yang menerima komitmen.
Ketidakmauan
untuk berkomitmen pada yang ilahiah adalah bentuk kezaliman pada diri sendiri.
Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi
manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. (QS Yunus 44)
Kezaliman terhadap diri sendiri (zulm al-nafs) berulangkali dikemukakan
al-Quran sebagai salah satu sifat negatif manusia.
Zulm pada
awalnya berarti “meletakkan sesuatu tidak di tempat yang seharusnya”. Pada saat
kata zulm dihubungkan dengan nafs (“diri sendiri”) memiliki makna “adanya
kekeliruan melatkkan posisi diri di tengah kehidupan”, atau “adanya tindakan
yang keliru akibat salah menetapkan orientasi hidup”.
Konsep zulm
al-nafs juga menunjukkan bahwa setiap kesalahan yang dilakukan memantul pada
pelakunya, kerugian bukan hanya pada penerima kesalahan melainkan pada
pelakunya. Mendengki, misalnya, adalah tindakan yang terarah keluar, namun
serentak juga mencederai suasana hati pelakunya yang kemudian akan membuat
pelakunya kehilangan kejernihan perspektif kehidupan.
Kafir kepada
Allah, pada konsep ini, yang terwujud dalam bentuk melawan perintah Allah tidak
akan pernah merugikan Allah, justru akan merugikan pelakunya. Allah tak
tercederai oleh penolakan orang kafir, justru orang kafirlah yang akan semakin
mengalami kerugian. Pernyataan “Kami tidak berbuat aniaya kepada mereka (di
dalam menghancurkan mereka); sebaliknya, merekalah yang berbuat aniaya kepada
diri mereka sendiri”, berulang kali dikemukakan Al-Quran (QS.2:231; 65:1;
27:44; 28:16; 2:54, dll).
Semuanya
menunjukkan konsep tentang sebab efisien, tentang penyebab pelaku, dari suatu
peristiwa. Bencana seperti meletusnya gunung atau banjir memang bukan perbuatan
langsung manusia, namun sebab efisiennya adalah manusia yang terus-menerus
merusak alam. Lalu akumulasi kerusakan itu membuat alam menghadirkan bencana.
Al-Quran
memadnang bahwa zulm al-nafs berasal dari kepicikan (dha’f) dan kesempitan
pikiran (qathr). Kesombongan dan keputusasaan adalah akibat dari kepicikan dan
sempitnya pikiran. Sifat mementingkan diri sendiri tentu karena picik memandang
kepentingan hidup, ketamakan dan tingkah laku yang ceroboh serta panik adalah
anak-anak dari kesempitan pikiran. Karena kepicikannya manusia memiliki suka
berburu nafsu, panik, dan tidak mempertimbnagkan akibat jangka panjang
perbuatannya. Semua ini tidak secara langsung menghasilkan kerusakan, namun pada
suatu masa ia akan menumpuk dan menghasilkan bencana yang tidak disadari.
Pernyataan zulm
al-nafs dikemukakan untuk menolak anggapan bahwa Allah Maha Kejam dan pendendam
pada pembangkangan manusia. Allah justru terus memberikan peringatan agar
manusia tidak keliru, Allah juga terus memberi kesempatan agar manusia segera
memperbaiki dirinya. Hanya saja, kekeliruan berpikir membuat manusia terus abai
pada peringatan Allah itu.
Al-Quran
kemudian menyatakan “Kebajikan yang dilakukan seseorang adalah untuk dirinya
sendiri sedangkan kejahatan yang dilakukannya akan merugikan dirinya sendiri
(QS. 2:286; 4:111). Inilah hukum simetris yang menunjukkan Allah tak
membutuhkan apapun, semua perintahnya diberikan agar manusia mendapatkan
kebaikan yang berujung pada kebahagiaan.
Salah satu kedzaliman itu adalah tanpa bersyahadat yang baik dan benar
kita tak bisa mengaktifkan energi diri kita. Itu berarti kita hanya diam tak
melakukan apapun. Kalaupun bergerak kita bergerak seperti mayat.
By : Sayyid Gamal Yahya Imam Asy-Syahadatain
Tidak ada komentar:
Posting Komentar