Kamis, 20 Desember 2018

YOGYAKARTA KENANGAN since 1999


Tahun 1999 saya menginjakkan kaki di kota ini. Niat belajar. Berhasrat menemukan pengetahuan, pemahaman dan melanjutkan mengenal lebih jauh disiplin ilmu yang saya sukai.
Pasti tak salah jika saya memilih kota ini. Kota dengan sebutan yang tidak main-main sebagai kota pelajar dan kota budaya. Kota yang tumbuh dan sarat dengan cerita masa lalu. Ruang yang mengisahkan sejarah perjuangan dan hikayat kerajaan yang bertahan hingga sekarang. Tinggal di kota ini seumpama memasuki lorong panjang kehidupan. Tiap jengkal tanah di kota ini adalah saksi sejarah. Bukti bisu tentang laku manusia mempertahankan dan merebut kekuasaan. Juga kemerdekaan.
Tiap udara yang dihirup di kota ini adalah jejak ingatan yang patut dikenang. Ada asmara yang mungkin tumbuh untuk pertama kali. Ada jalinan cinta sesama pejuang di medan laga pertempuran. Ada kasih tak sampai. Ada romansa putri raja yang menyelenggarakan sayembara guna memilih kstaria pinilih untuk dijadikan suaminya. Ada pengkhianatan yang menumbuhkan dendam dan hanya bisa terbalas dengan kepala dan nyawa yang melayang. Duhhh.... !!!

Sebutan kota pelajar tidak bisa dinafikan. Di kota ini tiap kelokan jalan adalah halaqoh keilmuan. Tiap gang di kota ini adalah tempat orang berkerumun membicarakan ilmu dan pengetahuan. Tiap jalan di kota ini adalah lembaga pendidikan (baik yang legal ataupun tidak) yang menyuntikkan kemestian menjadi manusia yang waras dan berwawasan. Maka tak aneh, kota ini seumpama "melting pot". Tempat meleburnya aneka latar belakang manusia. Entah sukunya. Bahasanya. Agamanya dan kecenderungan seksualnya.
Ini adalah kota yang cair. Kota yang mempertemukan keberbedaan dan keberlainan. Kota yang "ramah" terhadap "the others": Mereka yang-tidak-sama. Mereka-yang-beda. Kota yang tidak alergi kepada si kafir atau mereka yang beriman. Kepada mereka yang disebut bejad ataupun taat. Ditenun dalam kebersamaan saling menjaga dan memelihara.
Tapi kota tak ubahnya manusia, ia adalah entitas dinamis. Organisme hidup yang terus berrumbuh. Mustahil tetap tak berubah dan menyempal dari hukum sejarah. Kota ini pun mengalami perubahan yang mungkin sebelumnya tidak dibayangkan. Kota toleran yang dulu dilekatkan berubah menjadi kota yang tak ramah karena perbedaan. Kota pelajar yang disematkan berganti dengan kota tanpa nalar karena tak nyaman kepada mereka yang tak seiman. Kota budaya yang dikalungkan bergeser menjadi kota tanpa wibawa karena gagal mengayomi dan meneguhkan arti toleransi.
Jogjakarta. Saya pernah jatuh cinta di sini kepada "nasi kucing" , angkringan, kaos Dagadu dan panggilan akrab: dab!

By: De Also Layang Kusumah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...