Minggu, 16 Desember 2018

SYAHADAT TIGA DRAFT

Syahadat adalah rukun Islam yang pertama dari lima rukun Islam. Kalimat syahadat merupakan kalimat pengakuan dan penerimaan terhadap Islam. Kalimat itu menegaskan kesaksian seseorang bahwa “tidak ada Tuhan selain Allah”. Kalimat ini menegaskan kesaksian akan keesaan Allah—tauhid. Kehadiran akan Tuhan mengisi kesadaran Muslim pada setiap detik kehidupannya. Bagi kaum Muslim, Tuhan benar-benar merupakan “obsesi yang agung”. Kalimat syahadat berikutnya adalah kesaksian dan pengakuan akan kerasulan Nabi Muhammad. Ini didasarkan atas banyak hadits. Di antaranya Rasulullah saw. bersabda kepada Muaz bin Jabal ketika mengutusnya ke penduduk Yaman:
“Kamu akan datang kepada kaum ahli kitab. Jika kamu telah sampai kepada mereka, ajaklah mereka agar bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Jika mereka menaatimu dalam hal itu, beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka lima shalat setiap siang dan malam. Jika mereka menaatimu dalam hal itu, beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan sedekah (zakat) yang diambil dari orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang miskin. Jika mereka menaatimu dalam hal itu, hati-hatilah terhadap kemuliaan harta mereka dan waspadalah terhadap doanya orang yang dizalimi, sebab antaranya dan Allah tidak ada dinding pembatas.”

Dalam hadits lain, syahadat ditemukan sebagai bagian rukun Islam. Kemudian Islam dikaitkan dengan Iman dan Ihsan. Syahadat merupakan pondasi Islam sehingga ia harus ditegakkan terlebih dahulu sebelum pokok-pokok Islam lainnya dilaksanakan. Dengan demikian, jika Syahadat belum ditegakkan, mustahil Islam dapat memainkan peranannya sebagai suatu metoda kehidupan yang universal.
“Lima pilar” Islam merupakan sebuah miqra, panggilan untuk kegiatan khusus: shalat, puasa, bersedekah, dan haji. Ini juga berlaku untuk “pilar” yang pertama, yakni pernyataan iman: aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya”. Ini bukan sebuah “kredo” dalam pengertian Barat modern: seorang Muslim yang mengucapkan syahadat ini “bersaksi” dalam hidupnya dan dalam setiap tindakannya bahwa prioritas utamanya adalah Allah dan bahwa tidak ada “allah-allah” lain –termasuk politik, materi, ekonomi, dan ambisi pribadi—yang dapat diutamakan daripada komitmennya kepada Allah semata.”
 Kalimat syahadatain adalah ucapan inisiasi seorang manusia untuk mengalirkan energi tauhid ke dalam kepribadiannya, sebagai pembebas dari ilusi. Konsep syahadat menempati posisi penting dalam ajaran Islam, sebagaimanan dikemukakan Karen Armstrong:
“Rukun Islam yang pertama adalah syahadat, pengakuan keimanan seorang Muslim: aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusanNya. Ini bukan sekadar penegasan atas pengakuan akan eksistensi Tuhan, tetapi sebuah pengakuan bahwa Allah merupakan satu-satunya realitas sejati, satu-satunya bentuk eksistensi sejati. Dia adalah satu-satunya realitas, keindahan, atau kesempurnaan sejati: semua wujud yang terlihat ada dan memiliki sifat-sifat seperti ini hanya meminjam keberadaan dan sifat tersebut dari wujud esensial ini. Mengucapkan penegasan ini menuntut kaum Muslim untuk mengintegrasikan kehidupan mereka dengan menjadikan Allah sebagai fokus dan prioritas tunggal mereka. Penegasan tentang keesaan Allah bukan sekadar penyangkalan atas kelayakan dewa-dewa, seperti banat Allah untuk disembah”.
Dua kalimat Syahadat berisi pernyataan tauhid, yakni Lâ ilâha illallâh dan pernyataan pengakuan akan kerasulan Muhammad, yakni Muhammad rasûlullâh. Seperti dikemukakan Armstrong, syahadat “bukan sekadar penegasan atas pengakuan akan eksistensi Tuhan, tetapi sebuah pengakuan bahwa Allah merupakan satu-satunya realitas sejati, satu-satunya bentuk eksistensi sejati. Dia adalah satu-satunya realitas, keindahan, atau kesempurnaan sejati: semua wujud yang terlihat ada dan memiliki sifat-sifat seperti ini hanya meminjam keberadaan dan sifat tersebut dari wujud esensial ini”.
Pada kalimat syahadat terdapat tiga elemen inti, yakni kata Asyhadu, kemudian lâ ilâha illallâh, dan muhammadarrasûlullâh. Dalam Al-Qur’an, ada tiga ayat yang menggunakan kata syahida, yaitu pada surah al-Muthaffifin (83) ayat 21. Dalam ayat itu kata Syahida diartikan menyaksikan dengan mata, hati dan akal.
 Ayat kedua dalam surah al-Thalaq (65) ayat 2. Dalam ayat tersebut kata Syahida diartikan bersaksi dengan lidah dan lisan. Ketiga, dalam surah al-Munâfiqûn (63): ayat 1, yang mengandung arti bersumpah. 
Elemen selanjutnya adalah “Lâ ilâha illallâh” yang merupakan rujukan monoteisme dalam Islam. Lâ ilâha illallâh menjadi kalimat utama dalam ajaran Islam yang melebihi seluruh alam semesta, sebagaimana dikemukakan Nabi saw. dalam hadits:  Kalau sekiranya tujuh petala langit dan bumi, dan segala isinya serta tujuh petala diletakkan pada satu piring timbangan, lalu kalimat Lâ ilâha illallâh diletakkan pada sebelah lain, niscaya kalimat tauhid melebihi berat langit dan bumi itu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Membacalah agar Kau Mengenal Dunia, Menulislah agar Engkau Dikenal Dunia

  Halo, para penerus gemilang masa depan! Kalian adalah cahaya yang akan menerangi dunia ini dengan impian dan prestasi kalian. Ada dua senj...